Key Takeaways
- Situs Tugu Gede Cengkuk, terletak di Sukabumi, menyimpan sejarah panjang peradaban manusia dan merupakan saksi bisu kehidupan masyarakat Sunda.
- Penemuan situs dilakukan oleh A.G. Vorderman pada tahun 1885 saat mencari burung, membawa pada penemuan artefak bersejarah.
- Di situs ini ditemukan banyak artefak, termasuk tembikar kuno dan keramik bergaya Cina, yang menunjukkan hubungan dengan perdagangan.
- Abah Jaya Sastimita, juru kunci situs, merupakan sumber cerita dan sejarah penting tentang Situs Tugu Gede Cengkuk.
- Pengunjung disarankan untuk menghormati situs, menggunakan alas kaki yang nyaman, dan membawa bekal minum saat berkunjung.
Pernahkah Teman-teman membayangkan berdiri di sebuah tempat di mana waktu seolah melipat dirinya sendiri? Di selatan Jawa Barat, tepatnya di lereng Gunung Halimun, tersembunyi sebuah wisata sejarah Sukabumi yang menyimpan narasi panjang kehidupan manusia.
Situs Tugu Gede Cengkuk bukan sekadar tumpukan batu mati. Bagi saya, situs ini adalah saksi bisu kehidupan yang terus berlanjut. Jika Teman-teman mencari destinasi yang menawarkan nuansa magis sekaligus kekayaan sejarah leluhur Sunda, mari saya ajak menelusuri jejak para leluhur di Kampung Cengkuk.
Penemuan Tak Sengaja: Dari Burung hingga Batu Purba
Sejarah penemuan Situs Tugu Gede Cengkuk memiliki cerita yang unik. Situs ini ditemukan kembali secara “resmi” oleh dunia modern relatif baru, tepatnya pada tahun 1885, oleh seorang warga negara Belanda bernama A.G. Vorderman.
Lucunya, Vorderman awalnya tidak berniat mencari batu. Ia melakukan perjalanan ke Cengkuk dengan tujuan meneliti fauna. Dan memang, saat itu ia berhasil menemukan tak kurang dari 86 spesies burung baru. Namun, di tengah pencarian burung-burung eksotis itu, ia justru terkesima menemukan susunan batu-batu besar yang tak lazim.
Laporan Vorderman kemudian ditindaklanjuti oleh dinas kepurbakalaan Hindia Belanda dengan penelitian pada tahun 1914. Setelah Indonesia merdeka, penelitian dilanjutkan kembali oleh bangsa kita sendiri pada tahun 1976 dan terus berlanjut hingga sekarang.
Jejak Kehidupan yang Berlanjut: Dari Prasejarah ke Pajajaran
Ini bagian yang paling menarik bagi saya. Saat berada di sana, saya merasakan bahwa dari peninggalan Situs Tugu Gede ini, kita bisa memahami sedikit kehidupan rakyat Kerajaan Pajajaran dengan rajanya yang masyhur, Prabu Siliwangi.
Benda-benda purbakala di sini menunjukkan bahwa situs ini, mestinya, tidak digunakan di satu zaman saja. Kehidupan masyarakat di sini terus berlanjut (kontinu) sejak zaman Prasejarah (Megalitikum) hingga masa punahnya Kerajaan Pajajaran.
Ragam Artefak dan Keramik Cina
Di situs ini ditemukan banyak sekali pecahan tembikar kuno. Ada yang berupa:
- Periuk dan cawan
- Cawan berkaki
- Tempayan perupaan
- Kendi dan cobek
Tak hanya gerabah lokal, ditemukan pula keramik bergaya Cina. Meskipun saya tidak melihatnya langsung, namun berdasarkan cerita Abah Jaya Sastimita, kuncen situs ini, benda-benda keramik tersebut berupa mangkuk, guci, botol, piring, vas, dan cepuk.
Kehadiran keramik asing ini menjadi bukti sejarah yang kuat. Mestinya, benda-benda tersebut datang belakangan ketika para pedagang Cina mulai berdatangan ke Ibu Kota Kerajaan Sunda Galuh yang sering disebut sebagai Kerajaan Pajajaran. Ini membuktikan bahwa Cengkuk dulunya adalah area yang hidup dan terhubung dengan dunia luar.
Monumen Batu dan Benda Logam
Selain tembikar, jejak peradaban logam juga hadir di sini. Pernah ditemukan benda-benda logam seperti genta dan bantul.
Sementara untuk peninggalan batu (megalit), variasinya sangat kaya. Selain batu besar (menhir) yang menjadi ikon, Teman-teman juga bisa menemukan:
- Batu Jambangan
- Dolmen (meja batu)
- Batu Altar
- Tahta Batu
- Batu Umpak
Bertemu Abah Jaya Sastimita: Sang Penjaga Situs

Berkunjung ke Situs Tugu Gede Cengkuk tak lengkap rasanya tanpa menyapa sang juru kunci. Sosok Abah Jaya Sastimita adalah kunci dari cerita-cerita lisan yang menghidupkan batu-batu bisu ini.
Abah Jaya adalah kamus berjalan situs ini. Beliaulah yang merawat dan menuturkan kisah tentang bagaimana benda-benda ini ditemukan dan fungsinya di masa lalu. Jika Teman-teman berkunjung, carilah beliau atau penerusnya di rumah panggung sederhana dekat lokasi. Sapaan hangat dan izin kepada beliau (kulo nuwun) adalah etika wajib sebelum kita masuk ke area sakral ini.
Lokasi dan Akses Menuju Kampung Cengkuk
Secara administratif, situs ini terletak di Kampung Cengkuk, Kelurahan Margalaksana, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Berada di ketinggian 468โ500 mdpl, udaranya sejuk khas pegunungan.
Cara Menuju ke Sana
- Rute: Dari Pelabuhan Ratu, ambil arah ke Cikakak/Cisolok (sekitar 15 km). Patokannya adalah Hotel Grand Inna Samudra Beach, lalu belok kanan ke arah pegunungan.
- Transportasi: Gunakan kendaraan roda dua atau mobil kecil yang prima. Jalanan beraspal namun menanjak, berkelok, dan menyempit saat mendekati lokasi.
Harga Tiket Masuk dan Tips Berkunjung
Hingga saat ini (2025), harga tiket masuk Situs Tugu Gede Cengkuk masih bersifat donasi sukarela. Tidak ada loket resmi. Teman-teman bisa memberikan uang seikhlasnya kepada pengelola/kuncen untuk biaya perawatan kebersihan situs.
Tips untuk Teman-teman:
- Hormati Situs: Jangan memindahkan batu atau membawa pulang pecahan keramik apapun. Biarkan sejarah tetap di tempatnya.
- Alas Kaki: Gunakan sepatu kets atau sandal gunung yang nyaman.
- Bekal: Bawa minum sendiri karena minim warung di area inti situs.
- Waktu Terbaik: Pagi hari saat udara masih segar dan kabut tipis kadang masih menyelimuti batu-batu megalit.
Situs Tugu Gede Cengkuk mengajarkan kita bahwa leluhur kita memiliki peradaban yang kompleks dan berkesinambungan. Dari batu kasar zaman prasejarah hingga keramik halus pedagang Cina, semua terekam di sini. Selamat berwisata sejarah!
Baca juga Keraton Pakungwati Kasepuhan Cirebon
Baca juga Situs Payak Petirtaan Kuno di Bantul Yogyakarta

