Key Takeaways
- Fort Cornwallis Penang adalah ikon bersejarah di Georgetown, Malaysia, dan bagian dari UNESCO World Heritage Site.
- Artikel ini membahas sejarah, daya tarik, dan informasi praktis untuk mengunjungi Fort Cornwallis.
- Pengunjung dapat menikmati foto dengan Meriam Seri Rambai dan Mercusuar Penang yang ikonik.
- Harga tiket masuk Fort Cornwallis adalah RM 20 untuk wisatawan asing dewasa dan RM 10 untuk anak-anak.
- Tips terbaik adalah mengunjungi saat sore untuk menikmati sunset dan kuliner di dekat Esplanade.
Teman-teman sedang merencanakan liburan ke Malaysia tahun ini? Jangan sampai melewatkan Fort Cornwallis Penang, salah satu ikon paling bersejarah di jantung UNESCO World Heritage Site Georgetown. Banyak traveler yang bertanya, “Apa sih yang menarik di balik tembok bata merah ini?” atau “Berapa harga tiket masuk Fort Cornwallis terbaru?”. Nah, di artikel ini, saya tidak hanya akan mengajak kalian menelusuri lorong waktu sejarah kolonial Inggris, tapi juga membagikan panduan praktis, mulai dari mitos Meriam Seri Rambai yang legendaris hingga tips berburu foto instagramable. Yuk, simak ulasan lengkapnya biar liburan kalian makin seru!
UNESCO World Heritage Site Penang
Saya selalu menikmati kunjungan ke kota tua, baik di dalam negeri maupun saat melanglang buana. Seperti saat terpesona di desa merah bersejarah Abyaneh, Iran. Begitu pun saat menjejakkan kaki di tempat wisata Georgetown ini, rasanya seperti ditarik mundur ke lorong waktu.
Penang bukan sekadar kota yang pernah makmur di Semenanjung Malaya. Sebagai UNESCO World Heritage Site Penang, ia punya daftar panjang situs warisan yang memikat. Tua bukan berarti lapuk, kan? Justru di situlah letak pesonanya. Suasananya santai, damai, dan penuh cerita.
Nah, Teman-teman travelers tidak perlu takut kesasar di sini. Yuk, ikuti perjalanan saya menelusuri benteng bersejarah ini!
Fort Cornwallis: Benteng Terbesar di Malaysia yang Penuh Cerita
Menatap Fort Cornwallis dari sisa kemegahan masa lalu yang sekarang tinggal tak seberapa, saya pun membayangkan perjalanannya di lorong sejarah. Awalnya cuma bangunan sederhana terbuat dari palem Nibong. Bentuknya seperti bintang. Sekalipun bukan sebagai pendiri ia mendapat nama dari Gubernur Jenderal Benggala kala itu: Charles Cornwallis.
Sebelum memasuki bagian dalam benteng, saya menyempatkan diri berjalan kaki memutari dinding luarnya yang terbuat dari bata merah. Panasnya cuaca Penang memang “mengigit”, jadi jangan lupa rapatkan topi lebar kalian, ya! Meskipun kulit muka makin eksotis (baca: gelap), hati tetap senang. Apalagi saat tidak sengaja mengejutkan kawanan gagak hitam yang sedang asyik merumput, atau mengembalikan bola plastik anak kecil yang menggelinding ke kaki saya.Menatap Fort Cornwallis Penang hari ini, saya membayangkan perjalanannya yang panjang. Tahukah Teman-teman? Awalnya benteng ini hanya bangunan sederhana dari batang palem Nibong! Barulah di kemudian hari ia bersalin rupa menjadi benteng terbesar di Malaysia yang kita lihat sekarang.
Sejarah Singkat: Dari Francis Light Hingga Charles Cornwallis

Barisan meriam tertuju ke laut
Bagi pencinta sejarah, ini deep research sedikit buat kalian. Benteng ini didirikan oleh Kapten Francis Light pada tahun 1786, saat ia pertama kali mendarat di pulau ini untuk mengambil alih Penang dari Sultan Kedah. Namanya sendiri diambil dari nama Gubernur Jenderal Benggala saat itu, Charles Cornwallis.
Bentuk sederhananya berubah total antara tahun 1808-1810. Light mengerahkan tenaga tawanan (narapidana) dari India untuk membangun kembali benteng ini menggunakan batu bata dan batu, menjadikannya struktur pertahanan yang jauh lebih kuat. Biaya pembangunannya saat itu konon mencapai $80,000 Dolar Spanyol—jumlah yang fantastis di zamannya!
Puas berkeliling di luar, saya pun beranjak masuk. Sebuah jembatan membawa saya menuju loket tiket dan gerbang utama.
Menguak Strategi Profil Bintang
Konon, desain tembok Fort Cornwallis dirancang dengan formasi bintang. Ini bukan soal estetika semata, tapi strategi militer cerdas dari Francis Light untuk memungkinkan medan tembak tumpang-tindih (crossfire) saat melawan musuh.
Saya sempat mencari-cari bentuk bintang ini dari balik dinding bata. Sayangnya, bentuk geometris ini sulit terlihat jika kita berdiri di atas tanah (mungkin butuh drone atau naik helikopter, ya?). Tapi tak mengapa, menyusuri lorong-lorongnya saja sudah cukup membuat imajinasi liar saya bekerja.
Sebenarnya, tak banyak bangunan utuh yang tersisa di dalam. Namun, sebagai bekas pangkalan militer dan administratif British East India Company, benteng ini tetap “berjiwa”. Cobalah berjalan ke arah benteng yang menghadap laut. Di sana, meriam-meriam tua masih setia berbaris, seolah menatap horizon Selat Melaka, menunggu kapal yang tak kunjung pulang.
Ikon Wajib Foto: Meriam Seri Rambai dan Mercusuar
Legenda Meriam Seri Rambai
Kalau ke sini tapi belum foto sama Meriam Seri Rambai, rasanya belum sah! Ini adalah meriam paling terkenal dan terbesar di Fort Cornwallis. Sejarahnya? Wah, dia ini traveler sejati, bahkan lebih jauh petualangannya dibanding saya!
Dibuat di Belanda, meriam ini pertama kali dihadiahkan kepada Sultan Johor pada tahun 1606. Kemudian direbut Portugis tahun 1613, dibawa ke Jawa (Nusantara), lalu diberikan ke Aceh, pindah lagi ke Kuala Selangor, hingga akhirnya direbut kembali oleh Inggris pada 1871 dan “pensiun” di sudut Barat Laut Fort Cornwallis ini.
Ada mitos lokal yang unik juga, lho. Beberapa penduduk percaya kalau wanita yang ingin segera memiliki keturunan bisa berdoa dan meletakkan bunga di atas laras meriam ini. Percaya atau tidak, itu kembali ke Teman-teman ya.
Mercusuar Penang (The Fort Cornwallis Lighthouse)
Jangan lupa menengok ke sisi timur Seri Rambai. Di sana berdiri gagah Mercusuar Penang yang sudah ada sejak tahun 1882. Tiang putih besinya sangat ikonik dan instagramable banget buat latar foto. Dulunya, ini adalah penanda bagi kapal-kapal yang berlabuh dan alat sinyal untuk menerima kode bendera dari Bukit Bendera (Penang Hill).
Kapel Tertua dan Kisah Cinta Kolonial
Di bagian lain, ada sisa bangunan Kapel yang dibangun tahun 1799. Ini adalah struktur atap era kolonial paling awal yang masih bertahan di Penang. Di sinilah tercatat pernikahan pertama antara John Timmers dan Martina Rozells—janda dari Francis Light sendiri. Romantis tapi penuh intrik sejarah, bukan?
Informasi Praktis & Tips Berkunjung (Update 2026)
- Baca juga : Foto Jembatan Darul Hana Kuching Sarawak
Supaya liburan Teman-teman lancar, berikut informasi terbaru yang sudah saya rangkum:
Harga Tiket Masuk Fort Cornwallis 2025/2026
Harga tiket mungkin sedikit berbeda tergantung kurs, tapi patokan resminya saat ini adalah:
- Wisatawan Asing (Dewasa): RM 20
- Wisatawan Asing (Anak-anak): RM 10
- Warga Malaysia (MyKad): RM 10 (Dewasa) / RM 5 (Anak-anak)
Tips Hemat: Simpan tiketnya, kadang ada promo bundling atau diskon untuk makan di kafe yang ada di dalam area benteng.
Jam Buka
- Waktu Operasional: Buka setiap hari, mulai pukul 09.00 pagi hingga 10.00 malam.
- Malam hari di sini juga cantik karena tata cahaya lampunya yang dramatis.
Cara Pergi ke Fort Cornwallis
Lokasinya sangat strategis di kawasan Padang Kota Lama (Esplanade).
- Bus Gratis (CAT Bus): Ini cara paling hemat! Naik bus CAT (Central Area Transit) yang gratis, lalu turun di halte dekat Dewan Sri Pinang atau Queen Victoria Memorial Clock Tower. Tinggal jalan kaki sedikit.
- Grab / Taksi Online: Cukup ketik “Fort Cornwallis” di aplikasi, pengemudi pasti tahu.
- Jalan Kaki: Jika kalian menginap di sekitar area Heritage Georgetown, jalan kaki ke sini sangat menyenangkan sambil menikmati arsitektur kota tua.
Tips Tambahan ala Evi Indrawanto
- Waktu Terbaik: Datanglah sore hari sekitar jam 4 atau 5 sore. Matahari sudah tidak terlalu terik, dan kalian bisa lanjut menikmati sunset di tepi laut Esplanade.
- Kuliner: Lapar setelah keliling benteng? Tepat di sebelahnya ada Esplanade Food Court. Wajib coba Mee Sotong Hameed Pata dan Pasembur yang legendaris itu. Antreannya panjang, tapi worth it!
- Pakaian: Gunakan pakaian yang menyerap keringat dan sepatu yang nyaman karena areanya outdoor dan cukup luas.
Di dunia ini tidak ada pesta yang tak berakhir, begitu pun nasib fungsi militer Fort Cornwallis. Namun, bagi kita penikmat perjalanan, benteng ini adalah saksi bisu yang “hidup”. Kalian yang ingin menikmati wisata sejarah Fort Cornwallis Penang masih bisa menangkap jejak-jejak masa lalu itu.
Selamat bertulang di Penang, Teman-teman!
Baca juga:




