
Key Takeaways
- Banda Neira merupakan destinasi wisata sejarah penting yang menyimpan cerita kemuliaan dan kepedihan masa lalu.
- Temukan rumah pengasingan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir untuk memahami perjuangan kemerdekaan Indonesia.
- Kunjungi Rumah Budaya dan pelajari sejarah genosida tahun 1621 oleh Jan Pieterszoon Coen.
- Jangan lewatkan kesempatan mendaki Benteng Belgica dan menikmati pemandangan laut serta Gunung Api Banda.
- Rencanakan liburan dengan baik, termasuk transportasi, biaya, dan menghormati adat lokal saat berkunjung.
Pernahkah Teman-teman membayangkan berdiri di atas tanah yang dulunya lebih berharga daripada emas?
Selamat datang di Banda Neira, sekeping surga di Maluku yang menyimpan cerita kemuliaan sekaligus kepedihan masa lalu. Saat kapal KM Siwalima atau kapal cepat modern merapat di dermaga, udara panas khas pesisir langsung menyapa. Namun, bagi saya, rasa panas itu seketika luruh digantikan desiran angin sejarah yang membuat bulu kuduk merinding.
Di sini, di bawah bayang-bayang Gunung Api Banda yang gagah, kita tidak sekadar berlibur. Kita sedang melakukan perjalanan waktu ke abad ke-17. Bagi Teman-teman yang mencari wisata sejarah di Pulau Banda Neira yang autentik, inilah catatan perjalanan saya—diperbarui dengan informasi terkini untuk panduan liburan Anda.
Mengapa Banda Neira Begitu Istimewa?
Banda Neira bukan sekadar pulau tropis biasa. Ini adalah titik nol dari jalur rempah dunia. Tahukah Teman-teman bahwa Pulau Run di kepulauan ini pernah ditukar dengan pulau Manhattan (kini New York) melalui Perjanjian Breda tahun 1667?
Dulu, pala dan fuli (bunga pala) adalah komoditas paling dicari di Eropa. Harganya selangit, memicu persaingan berdarah antara bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Saat menyusuri jalanan Kampung Baru, rasanya seperti masuk ke lorong waktu. Bangunan bergaya indies dengan pilar-pilar tebal dan pintu kayu lebar masih berdiri kokoh, menciptakan atmosfer kota kolonial yang magis. Tidak ada macet, hanya motor yang sesekali lewat dan senyum ramah penduduk lokal.
Napak Tilas Tokoh Bangsa: Hatta dan Sjahrir
Salah satu alasan utama melakukan wisata sejarah ke sini adalah untuk melihat langsung bagaimana para pendiri bangsa menjaga nyala api kemerdekaan meski dalam pengasingan.
1. Rumah Pengasingan Bung Hatta
Hati saya bergetar saat berdiri di depan rumah tua bercat krem ini. Membayangkan Bung Hatta, sosok intelektual yang tenang, tiba di sini pada Februari 1936 setelah dipindahkan dari Boven Digoel.
Meski kini menjadi museum, kesederhanaan masih sangat terasa. Di dalamnya, Teman-teman bisa melihat:
- Meja dan kursi marmer tempat Bung Hatta menulis.
- Kacamata bulat yang ikonik.
- Ruang belakang tempat beliau mengajar anak-anak Banda Neira.
Membayangkan beliau membuka “Sekolah Sore” di sini sungguh menyentuh. Apakah mengajar adalah cara beliau merawat kewarasan di tengah sepinya pengasingan?
2. Rumah Pengasingan Sutan Sjahrir

Tak jauh dari sana, berdiri rumah pengasingan Sutan Sjahrir. Jika Hatta dikenal tenang, Sjahrir memiliki aura yang berbeda. Di rumah ini tersimpan gramofon tua dan koleksi piringan hitam yang konon sering dimainkan Sjahrir untuk menghibur anak-anak Banda.
Meski bangunannya terlihat tua, auranya masih sangat kuat. Wisata edukasi sejarah seperti ini sangat penting agar kita tidak lupa betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan.
Rumah Budaya dan Luka Lama 1621
Tepat di sebelah bekas tempat tinggal Sjahrir, terdapat Rumah Budaya Banda Neira milik keluarga Des Alwi, tokoh sejarawan Banda yang legendaris.
Ini adalah tempat wajib bagi pencinta wisata sejarah. Di sini tersimpan koleksi etnografi, meriam kuno, hingga lukisan yang menceritakan sisi kelam VOC. Salah satu yang paling membuat saya bergidik adalah lukisan pembantaian tahun 1621 oleh Jan Pieterszoon Coen.
Demi monopoli pala, Coen membantai 44 Orang Kaya (tokoh adat Banda) dan ribuan penduduk asli. Sejarah mencatat ini sebagai genosida pertama di Nusantara demi motif ekonomi. Melihat lukisan itu, perspektif saya tentang wisata Banda Neira berubah; ini bukan hanya tentang keindahan alam, tapi juga tentang penghormatan pada mereka yang gugur.
Menaklukkan Benteng Belgica (Wajib Dikunjungi!)

Tambahan Redaksi : Belum lengkap rasanya ke Banda jika tidak mendaki ke Benteng Belgica. Benteng berbentuk segilima (pentagon) ini dijuluki “The Pentagon of Indonesia”. Dibangun pada tahun 1611 oleh VOC, benteng ini awalnya berfungsi untuk memantau lalu lintas kapal dagang dan menangkis serangan rakyat Banda.
Tips Foto: Naiklah ke menara pengawasnya. Dari sana, Teman-teman bisa mendapatkan angle foto terbaik dengan latar belakang Gunung Api Banda dan birunya Laut Banda secara bersamaan. Pemandangannya breathtaking!
Panduan Wisata Banda Neira Terbaru (2026)
Agar rencana liburan Teman-teman lebih lancar, berikut saya rangkum informasi praktis dan terbaru:
Cara Ke Banda Neira 2026
Akses ke pulau ini memang “menantang”, tapi itulah seninya. Ada dua opsi utama:
- Kapal Cepat (Express Bahari): Berangkat dari Pelabuhan Tulehu (Ambon). Waktu tempuh sekitar 5-6 jam. Cek jadwal terbaru karena sering berubah tergantung cuaca.
- Kapal PELNI (KM Nggapulu / KM Pangrango): Opsi lebih hemat dan backpacker friendly. Perjalanan sekitar 8-10 jam dari Ambon. Sensasi naik kapal besar melintasi Laut Banda adalah pengalaman tak terlupakan.
- Pesawat (Susi Air): Rute Ambon – Banda Neira. Penerbangan perintis ini sangat bergantung pada cuaca dan ketersediaan seat yang terbatas. Wajib booking jauh hari.
Estimasi Biaya & Tiket Masuk
- Tiket Benteng Belgica: Rp20.000 per orang.
- Rumah Pengasingan Hatta/Sjahrir: Donasi sukarela (sebaiknya siapkan Rp10.000 – Rp20.000 untuk perawatan).
- Sewa Perahu Island Hopping: Mulai dari Rp500.000 per hari (bisa patungan).
Tips Liburan Berkesan di Banda Neira
- Bawa Uang Tunai: Mesin ATM di pulau terbatas (biasanya hanya BRI/Mandiri) dan sering kosong atau offline.
- Hormati Adat Lokal: Saat mengunjungi situs keramat atau kampung adat, berpakaianlah yang sopan.
- Waktu Terbaik: Berkunjunglah di bulan Oktober – November atau Maret – April. Di bulan November biasanya ada Banda Heritage Festival dan kondisi ombak relatif tenang.
- Oleh-oleh: Jangan lupa beli Selai Pala dan Manisan Pala khas Banda. Rasanya unik dan tidak ada di tempat lain!
Wisata sejarah di Pulau Banda Neira bukan sekadar liburan, tapi sebuah ziarah ke masa lalu. Semoga tempat-tempat bersejarah ini terus terawat agar generasi mendatang tetap bisa menyaksikan bukti kegigihan bangsa kita.
Sudah siap memasukkan Banda Neira ke dalam bucket list liburan Teman-teman?
Foto-Foto Kenangan di Banda Neira
Baca juga Banda Neira Aku Datang
Rumah Budaya Banda Neira
Baca juga:








