
Tuol Sleng Genocide Museum berdiri membisu di tengah hiruk-pikuk kota Phnom Penh, menyimpan gema lara yang tak pernah benar-benar usai. Halo Sobat JEI, selamat datang kembali di catatan perjalanan yang kali ini akan membawa kita merenungi sisi lain dari kemanusiaan. Menurut saya, mengunjungi destinasi wisata sejarah Phnom Penh ini bukanlah sekadar agenda liburan biasa, melainkan semacam ziarah batin. Dari sana kita tambah dalam untuk memahami betapa berharganya kedamaian yang kita rengkuh, hidup dalam negara merdeka. Mari kita selami lebih dalam lembaran sejarah kelam Kamboja yang tersimpan di balik dinding-dinding bata ini.
Batin Lelah Tapi Kita Sudah di Phnom Penh
Bagi Sobat JEI yang merencanakan napak tilas sejarah ini secara utuh, rute kami hari itu sebenarnya bermula dari ladang sunyi Choeung Ek Genocidal Center. Keluar dari hamparan ladang pembantaian yang memeluk ribuan raga dalam duka tersebut, saya sebenarnya sudah tidak berminat kemana-mana lagi. Saya lemas dan merasa seperti mati rasa. Pengen rebahan di hotel saja.
Coba bayangkan perasaanmu, terutama, di bagian pembantaian balita dan anak-anak. Ketika sebutir peluru terlalu mahal untuk nyawa mereka, maka kematian dijemput dengan cara sangat kejam. Kaki dipegang lalu dihempaskan ke batang Pohon Chankiri (Chankiri Tree). Balita-balita dan anak-anak yang tak berdosa itu berakhir dengan kepala remuk dan patah tulang leher. Pada saat itu bukan hanya darah yang membasahi The Killing Tree (Pohon Pembunuh) itu, tapi juga serakan benak yang pecah.
Jika kamu seorang manusia normal, apa lagi punya anak, bayangan seperti itu akan lama tinggal di benakmu.
Tapi rombongan saya mengatakan, kami sudah di Phnom Penh, entah kapan lagi bisa ke sini lagi. Jika tidak sekarang, kemungkinan saya tidak akan pernah menginjak kan kaki di Tuol Sleng Genocide Museum.
Ya sudah. Akhirnya sebuah tuk-tuk membawa kami menembus jalanan ibu kota yang berdebu. Kebetulan drivernya ramah, baik hati, sesuai dengan ketampanan wajahnya. Deru mesin tutuknya yang bersahaja seolah mencoba menenangkan gemuruh di dada saya yang masih terasa sesak. Angin hangat yang menerpa wajah sepanjang perjalanan menjadi saksi peralihan emosi—dari rawa-rawa tempat napas terakhir dihembuskan, menuju titik di mana segala duka bermula.
Rute dan Cara Menuju Tuol Sleng Genocide Museum dengan Tuk-Tuk

Secara geografis, kedua situs sejarah utama ini terpaut jarak sekitar 15 kilometer. Perjalanan menggunakan tuk-tuk memakan waktu kurang lebih 30 hingga 40 menit. Untuk merasakan denyut nadi lokal yang paling autentik, saya pikir menumpang kendaraan roda tiga ini adalah pilihan terbaik.
Sepanjang jalan mata bebas melihat aktivitas warga lokal. Dan rasanya juga lebih dekat.
Ongkos tuk-tuk Kamboja untuk rute satu arah dari Choeung Ek menuju museum berkisar antara $4 hingga $8 USD, tergantung keluwesan menawar. Kami dapat harga di $8 USD yang awalnya diminta $12 USD . Memang kemudian terbukti lebih praktis dan tidak repot. Kalian bisa juga memilih menyewa tuk-tuk seharian penuh (sekitar $15 hingga $20 USD). Harga ini sudah mencakup rute pulang-pergi dari penginapan menuju kedua lokasi bersejarah tersebut.
Alat Tukar Terkini: Panduan Mata Uang Kamboja untuk Wisatawan
Ohya, sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya Sobat JEI memahami dinamika alat tukar di sini. Kamboja menerapkan sistem dua mata uang. Mereka memiliki Riel Kamboja, namun Dolar AS di Kamboja juga sangat umum digunakan untuk transaksi sehari-hari, termasuk membayar tuk-tuk dan tiket masuk wisata.
Namun, ada aturan tak tertulis yang sangat ketat: kondisi fisik uang Dolar harus sempurna. Uang yang lecek, robek sedikit di ujungnya, atau memiliki coretan pena hampir pasti akan ditolak.
Selain itu, seiring dengan kampanye de-dolarisasi dari pemerintah setempat, pecahan kecil seperti $1, $2, dan $5 USD mulai jarang diterima oleh pedagang. Untuk transaksi kecil di bawah $10 USD, bersiaplah untuk selalu menggunakan Riel Kamboja. Jangan kaget pula jika kita membayar dengan Dolar, kembaliannya akan selalu diberikan dalam bentuk mata uang lokal.
Jadi untuk membayar tuk tuk, sebaiknya sediakan saja Riel Kamboja ya, Teman-teman.
Harga Tiket Masuk dan Pengalaman Menggunakan Audio Guide Tuol Sleng

Akhirnya tiba juga di gerbang masuk Tuol Sleng. Mirip peristiwa yang pernah terjadi disana, dari luar pintu gerbang dan bangunannya juga suram. Bangunan memanjang yang sekilas tampak seperti sekolah mempertahankan bentuk aslinya.
Di area pintu masuk inilah terdapat loket yang tertata rapi. Harga tiket masuk Tuol Sleng untuk wisatawan asing adalah $5 USD.
Untuk benar-benar meresapi narasi bisu di setiap sudutnya, saya merekomendasikan Sobat JEI untuk menyewa audio guide Tuol Sleng dengan tambahan biaya $5 USD. Melalui perangkat penyuara telinga ini, informasi disajikan dengan sangat apik.
Suara narator yang berat dan penuh empati akan menuntun langkah kita, membacakan kesaksian-kesaksian penyintas yang membuat bulu kuduk meremang di sepanjang lorong penjara S-21. Namun kali ini saya berusaha mendengarkan sebagai cerita sejarah saja. Jika dimasukan ke dalam hati, pasti saya akan merasa frustasi lagi.
Tapi perasaan tidak bisa diatur semau kita. Sepanjang mengikuti narasi audio, tetap saja saya merasa marah. Ini orang-orang Khmer ada yang salah pada sehingga mereka meninggalkan cerita penuh darah di tempat ini.
Jadi, begitu lah. Mendengarkan audio guide Tuol Sleng kita bukan sekadar menerima informasi sejarah, melainkan sebuah peziarahan batin yang menuntut kesiapan emosional kita. Perangkat mungil bersuara empati ini dirancang untuk menuntun langkah pengunjung secara runut, menyusuri setiap jengkal penjara S-21 dari awal hingga akhir.
Urutan Narasi Audio Dalam Wisata Sejarah Phnom Penh di Tuol Sleng Genocide Museum

Untuk Teman-teman yang akan berkunjung, berikut adalah urut-urutan narasi dan rentetan cerita yang akan mengaliri telinga dan relung hati kita. Setelah menekan tombol play di sepanjang rute wisata sejarah Phnom Penh ini, kamu akan mendengar:
1. Prolog: Matinya Tawa di SMA Chao Ponhea Yat
Audio penuntun akan membuka perjalanan dengan narasi yang sangat kontras. Kita diajak membayangkan suasana tahun-tahun sebelum 1975, saat tempat ini masih berupa sekolah menengah yang riuh oleh tawa remaja, suara lonceng kelas, dan mimpi-mimpi masa depan. Narasi kemudian berubah gelap ketika rezim Pol Pot mengambil alih, membungkam semua itu, dan menyulap ruang belajar menjadi gerbang neraka bernama Security Prison 21.
2. Gedung A: 10 Aturan Mutlak dan Ranjang Besi
Langkah pertama diarahkan menuju Gedung A. Di sini, audio akan membacakan dengan nada dingin 10 aturan mutlak penjara S-21 yang terpampang di papan depan. Cerita berlanjut pada fungsi ruang kelas di gedung ini yang diubah menjadi ruang interogasi bagi tawanan tingkat tinggi. Melalui penyuara telinga, kita akan mendengar deskripsi mengerikan tentang bagaimana tawanan diikat di atas ranjang besi berkarat, disiksa tanpa henti, dan dilarang keras untuk berteriak meski kesakitan.
3. Gedung B: Kesaksian Bisu dari Ribuan Arsip Wajah
Saat berpindah ke Gedung B, tempo audio perlahan melambat, memberi ruang bagi kita untuk meresapi duka. Cerita bergeser pada obsesi aneh rezim ini dalam mendokumentasikan setiap tawanannya. Kita akan mendengarkan kisah di balik ribuan foto mugshot hitam-putih yang menempel di dinding. Narator menceritakan kepolosan anak-anak, keputusasaan para ibu, hingga kebingungan orang-orang tak bersalah yang dituduh sebagai mata-mata CIA atau KGB, menatap nanar ke arah kamera sebelum eksekusi mereka.
4. Gedung C: Pengapnya Sel Batu Bata dan Kawat Berduri
Di sinilah letak audio nomor 6 yang begitu memilukan berpadu dengan visual yang menyesakkan. Narasi berfokus pada bilik-bilik sempit berpenyekat batu bata kasar dan kayu. Kita akan mendengar bagaimana para tahanan dirantai berdesakan, dilarang saling bicara, dan hidup dalam kondisi yang merenggut seluruh martabat kemanusiaan mereka. Audio juga akan menjelaskan alasan di balik pemasangan kawat berduri di sepanjang balkon gedung: bukan sekadar mencegah tawanan kabur, melainkan mencegah mereka melakukan bunuh diri untuk mengakhiri penderitaan dari kekejaman Khmer Merah.
5. Tiang Kayu Halaman: Transformasi Fasilitas Olahraga
Beranjak ke luar ruangan, cerita audio akan mengarahkan pandangan kita pada sebuah tiang kayu tinggi dengan balok melintang, di mana terdapat gentong-gentong besar di bawahnya. Sungguh ironis, narator akan menjelaskan bahwa tiang tersebut dulunya adalah fasilitas senam siswa sekolah. Di tangan algojo, fungsinya diubah menjadi alat gantung untuk menginterogasi tawanan hingga kehilangan kesadaran, sebelum kepala mereka dicelupkan ke dalam gentong berisi air kotor berbau busuk.
6. Kisah Keajaiban Para Penyintas (Survivor Stories)
Di tengah pekatnya sejarah kelam Kamboja, panduan audio menyelipkan seberkas cerita tentang segelintir manusia yang berhasil selamat dari penjara S-21. Kita akan mendengarkan kisah nyata dari penyintas seperti Chum Mey (seorang mekanik mesin tik) dan Bou Meng (seorang seniman lukis). Mereka diampuni nyawanya sementara waktu hanya karena keahlian mereka dibutuhkan oleh rezim untuk memperbaiki mesin dan melukis potret Pol Pot. Kisah bertahan hidup mereka adalah salah satu babak paling emosional dalam tur ini.
7. Epilog: Monumen Peringatan dan Pesan Kedamaian
Perjalanan audio di Tuol Sleng Genocide Museum diakhiri di taman asri dekat stupa peringatan. Suara narator perlahan berubah menjadi teduh dan menenangkan. Cerita ditutup dengan refleksi mendalam tentang pentingnya merawat ingatan, bukan untuk merawat dendam, melainkan sebagai monumen pembelajaran bagi dunia. Kita diajak untuk memanjatkan doa, menabur harapan, dan melangkah keluar dari gerbang dengan apresiasi yang jauh lebih besar terhadap kebebasan dan kehidupan.
Runtutan cerita audio ini memang dirancang seperti sebuah gelombang: membawa kita ke dasar duka yang paling gelap, sebelum akhirnya mengangkat kita kembali menuju cahaya pemulihan, Sobat JEI.
Mengapa Penjara S-21 Diabadikan Menjadi Museum Sejarah?

Sobat JEI mungkin bertanya-tanya, mengapa tempat dengan aura kesedihan sepekat ini justru dirawat dan menjadi pilar penting dalam wisata sejarah Phnom Penh?
Dulunya, kompleks bangunan ini adalah SMA Chao Ponhea Yat, ruang terang tempat tawa remaja dan ilmu pengetahuan disemai. Namun, pada tahun 1975, rezim Pol Pot merampas fungsi suci tersebut dan mengubahnya menjadi Security Prison 21 atau penjara S-21. Tempat ini sengaja diabadikan tak lain sebagai bentuk pengingat abadi. Kamboja menolak lupa; monumen dan segala informasi di dalamnya dirawat telaten agar kekejaman Khmer Merah tidak akan pernah terulang kembali di sudut bumi mana pun.
Menyisir Ruang Kelas: Saksi Bisu Kekejaman Khmer Merah
Saat melangkah lebih dalam menyusuri ruang-ruang kelas di Tuol Sleng Genocide Museum, kita akan disuguhkan pada sebuah ironi yang menyayat hati. Ruangan luas yang dulunya benderang oleh cahaya ilmu dan gelak tawa remaja, secara keji diubah menjadi bilik-bilik sempit berpenyekat batu bata kasar yang berfungsi sebagai sel isolasi di penjara S-21.
Di dalam ruang pengap berukuran kurang dari dua meter persegi inilah, para tawanan dibelenggu rantai besi pada pergelangan kaki mereka, dipaksa menelan kesunyian absolut yang dirancang khusus untuk meremukkan kewarasan sebelum mereka diinterogasi. Membayangkan bagaimana kekejaman Khmer Merah melucuti martabat manusia seutuhnya di balik susunan bata dingin tersebut, membuat napak tilas wisata sejarah Phnom Penh ini bukan lagi sekadar rutinitas melihat masa lalu, melainkan sebuah ziarah menyelami palung terdalam dari sejarah kelam Kamboja yang mengingatkan kita betapa mahalnya harga sebuah kemanusiaan.
Ketiadaan Lensa: Etika Memotret di Tuol Sleng Genocide Museum

Ohya, sebelum Sobat JEI masuk ke museum ini, ada satu hal penting yang harus diingat: larangan memotret. Ya, mengambil foto di dalam sel isolasi batu bata, ruang interogasi, dan galeri potret wajah korban sangat dilarang keras.
Aturan ini ditegakkan demi menjaga martabat para korban dan menghormati keluarga yang ditinggalkan. Bagi kita pejalan yang mencari makna, ketiadaan jejak foto digital dari dalam sel justru membuat kengeriannya terasa semakin abadi.
Memori tentang penderitaan di tempat ini dituntut untuk hanya terekam melalui pandangan mata telanjang dan cerita dari audio yang pasti merasuk kedalaman relung hati kita. Bagus juga menurut saya, ini menegaskan bahwa tempat ini bukanlah latar untuk pamer di media sosial, melainkan altar kesunyian untuk mendoakan mereka yang gugur.
Taman Asri: Ruang Mengenang Korban di Tengah Wisata Sejarah Phnom Penh
Setelah dada terasa sesak menyerap rentetan kepiluan dari ruang penyiksaan, saya melangkah keluar menuju halaman tengah. Terdapat sebuah kontras yang begitu puitis di sini. Di tengah rekam jejak duka Tuol Sleng Genocide Museum, tumbuh sebuah taman yang begitu asri dan terawat. Saya menghirup udara dalam-dalam di sini. Seperti orang yang baru keluar dari ruang pengap.
Pohon-pohon kamboja berbunga putih menebarkan wangi yang lembut, sementara hamparan rumput hijau memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat. Taman ini sengaja dirancang sebagai oase, tempat pengunjung bisa menarik napas panjang, merenung, dan memanjatkan doa hening untuk jiwa-jiwa yang telah berpulang.
Di taman asri inilah, setelah menyaksikan pekatnya sejarah kelam Kamboja, kita diajak merayakan harapan. Harapan bahwa kehidupan, kedamaian, dan kemanusiaan akan selalu menemukan cara untuk kembali memulihkan diri.
eviindrawanto.com
Baca juga:
