
Tuntutan kreativitas dalam mengembangkan bisnis kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan menu wajib yang harus disantap setiap pengusaha. Sobat JEI, entah kita sedang jualan gula aren rumahan atau membangun jalan tol antar provinsi, bumbu utamanya tetap sama: kreativitas.
Baru-baru ini saya “mencuri ilmu” di seminar “Business Creativity” garapan LLP-KUKM dan Arrbey Indonesia di SPC Building. Di sini saya belajar banyak tentang cara mengembangkan kreativitas dalam bisnis umkm agar kita bisa bertahan di tengah badai persaingan yang makin ngeri-ngeri sedap.
Berikut rangkuman daging, strategi ahli, dan tips praktisnya khusus untuk kamu.
Mengapa Bisnis Kita Butuh “Suntikan” Kreativitas?
Pasar sekarang itu ibarat ombak di laut lepas; turbulen dan tidak menentu. Kalau kita diam saja, ya tenggelam.
Para pembicara keren seperti Ikhwan Asrin (Deputi Pemasaran Kemenkop UKM) dan Handito Hadi Joewono (Presiden Arrbey Indonesia) sepakat pada satu hal: perusahaan global maupun UMKM harus terus berbenah.
Menurut data dari McKinsey, perusahaan yang mengintegrasikan kreativitas dalam strategi bisnisnya memiliki performa 67% di atas rata-rata organik pendapatan perusahaan lain. Jadi, tuntutan kreativitas dalam mengembangkan bisnis itu nyata adanya, bukan sekadar jargon motivasi.
Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Pak Ikhwan sempat menyinggung soal ekonomi kreatif berbasis budaya. Meski penjelasannya agak teoritis (dan penuh angka yang bikin dahi sedikit berkerut), intinya benar: Indonesia punya “harta karun” budaya yang kalau diolah kreatif, nilainya bisa meledak.
Coba tengok contoh nyatanya di lapangan. Selembar kain tenun ikat di Pasar Alok Maumere yang awalnya ‘hanya’ pakaian keseharian mama-mama di sana, di tangan desainer kreatif bisa melenggang cantik di panggung dunia sekelas Paris Fashion Week. Harga jadi selangit yang bikin dompet bergetar.
Begitu juga dengan kuliner kita. Gula aren yang dulunya cuma dikenal sebagai pemanis kolak dan jajanan pasar, kini naik kelas jadi organic palm sugar yang jadi incaran kafe-kafe hipster di Tokyo dan New York. Ini bukti telak kalau ekonomi kreatif berbasis budaya bukan sekadar omong kosong; sentuhan kreativitaslah yang menyulap ‘warisan nenek moyang’ jadi ladang cuan masa depan!
Cara Mengembangkan Kreativitas dalam Bisnis UMKM ala Pakar
Nah, masuk ke bagian teknis. Bagaimana sih cara mengembangkan kreativitas dalam bisnis umkm yang efektif?
Dr. Ir. Muhammad Taufiq punya pandangan menarik. Beliau bilang, pemasaran itu harus berangkat dari konsep produk. Jangan asal jual, tapi lihat dulu “siapa” pengguna produk kita.
Strategi Diferensiasi Produk (Studi Kasus: Gula Aren)
Contoh paling gampang adalah gula aren semut. Kalau Sobat JEI nekat jual ini ke pasar bawah, siap-siap saja babak belur dihajar gula pasir yang harganya jauh lebih murah.
Strateginya? Geser target pasarnya!
- Bidik kalangan menengah ke atas.
- Branding sebagai produk premium.
- Tonjolkan kelebihannya: indeks glikemik rendah, bebas pestisida, dan organik dari hulu ke hilir.
Ini sejalan dengan teori Michael Porter tentang Differentiation Strategy. Kalau tidak bisa jadi yang termurah (gula pasir), jadilah yang paling unik dan berkualitas (gula aren premium).
Baca juga:
Tahapan Strategi Pertumbuhan (Growing Corporate Strategy)
Handito Hadi Joewono memaparkan tiga fase penting layaknya siklus hidup manusia. Coba cek, bisnis Sobat JEI ada di fase mana?
1. Start-up (Fase Balita)
Ibarat anak baru belajar jalan. Jangan banyak gaya dulu. Fokus saja ke satu pasar tertentu biar tidak “jedutan” sana-sini. Konsentrasi adalah kunci.
2. Grow (Fase Remaja)
Sudah mulai lancar jalan? Saatnya belajar lari. Mulailah melirik segmen pasar baru dan lebarkan sayap.
3. Re-Grow (Fase Atlet Marathon)
Ini level dewa. Perusahaan harus bisa masuk ke hampir semua pasar. Stamina dan napas bisnis harus panjang.
Tips Kreativitas Saat Bisnis Sedang “Seret”
Apa yang harus dilakukan saat kondisi ekonomi lagi sulit? Pak Handito menyarankan dua jurus sakti dalam menjawab tuntutan kreativitas dalam mengembangkan bisnis:
- Creativity Around the Core Business (Fokus ke Inti) Tahan nafsu, Sobat JEI. Jangan tergoda bikin bisnis baru yang belum jelas juntrungannya. Lebih baik kerahkan semua tenaga, uang, dan otak untuk memoles bisnis utama yang sudah ada. Sinergi itu penting.
- Saving (Hemat Pangkal Kaya) Kreativitas bukan cuma soal bikin produk baru, tapi juga soal cara berhemat. Cari cara kreatif untuk dapat bahan baku lebih murah atau pangkas biaya operasional yang tidak perlu. Ingat, cash flow adalah raja.
Marketing Revolution: Ilmu Mahal tapi Kocak
Ini dia yang paling saya tunggu. Sesi Tung Desem Waringin (TDW) selalu sukses bikin hormon bahagia saya meletup-letup. Beliau membahas Marketing Revolution.
Kalau pemasaran biasa tujuannya “semoga laku”, Marketing Revolution tujuannya “harus laku keras sampai kita kewalahan”.
Prinsip Marketing Revolution
Berdasarkan riset mendalam terhadap metode TDW, ada beberapa pilar utama:
- Penawaran yang Sangat Menarik: Buat penawaran yang begitu bagusnya, sampai calon pembeli merasa “bodoh” kalau menolaknya.
- Beri Garansi: Hilangkan risiko di mata pembeli. Misalnya, “Tidak enak, uang kembali”.
- Hukum Tabur Tuai: Beri nilai tambah (bonus/hadiah) di depan sebelum meminta transaksi.
Saya tertawa sepanjang sesi, tapi ilmunya masuk semua. Rasanya persis seperti seminar beliau di JITEC Mangga Dua dulu. Energinya menular!
Tips Praktis untuk Sobat JEI
Sebagai penutup, berikut ringkasan tips untuk segera kamu praktekkan:
- Audit Bisnis: Cek posisi bisnismu (Start-up, Grow, atau Re-Grow?). Sesuaikan strateginya.
- Spesifik: Jangan jual “palugada” (apa lu mau gue ada) di awal. Jadilah spesialis.
- Sentuhan Personal: Gunakan budaya lokal atau cerita unik untuk memberi nilai tambah pada produk.
- Revolusi Penawaran: Coba ubah kata-kata promosimu hari ini. Berikan garansi yang berani.
Bisnis itu serius, tapi menjalankannya harus dengan hati gembira.
Kesimpulan: Kreativitas adalah Nyawa Bisnis
Sobat JEI, pada akhirnya tuntutan kreativitas dalam mengembangkan bisnis bukan sekadar teori manis di ruang seminar, melainkan strategi bertahan hidup yang paling masuk akal saat ini. Tanpa sentuhan inovasi, bisnis kita—baik itu skala rumahan atau korporasi—hanya akan menjadi penonton di tengah pasar yang terus bergerak liar.
Dari paparan para ahli di atas, kita belajar bahwa cara mengembangkan kreativitas dalam bisnis umkm ternyata bisa dimulai dari langkah-langkah konkret:
- Berani melakukan diferensiasi produk (seperti kasus gula aren premium).
- Fokus pada core business dan efisiensi saat ekonomi sulit.
- Menerapkan strategi Marketing Revolution yang “gila” namun terukur.
Jangan biarkan bisnismu terjebak dalam rutinitas yang membosankan. Mulailah berinovasi hari ini, sekecil apa pun itu. Karena di tengah kompetisi yang makin turbulen, hanya mereka yang kreatif yang akan keluar sebagai pemenang. Yuk, praktekkan ilmunya sekarang juga!
