
Halo Sobat JEI, pernahkah merasa waktu seharian habis tanpa hasil nyata? Dampak tidak fokus dalam mencapai goal ternyata sangat buruk bagi perkembangan karir kita.
Saya sering mengalaminya. Niat hati ingin jadi blogger sejati yang produktif menelurkan ide, tapi realitanya blog malah jarang update. Bukan karena buntu ide, melainkan karena perhatian yang terpecah ke hal-hal remeh.
Dalam artikel ini, kita akan membedah mengapa distraksi itu berbahaya, apa kata ahli tentang fenomena ini, dan tips agar fokus kepada target yang bisa langsung Sobat JEI praktikkan.
Musuh Utama: Hal Rutin dan Media Sosial
Secara logika, saya ingin mengabaikan tugas rutin yang menjemukan. Namun, tugas-tugas itu seperti virus. Mereka memukul rasa bersalah jika ditinggalkan. Akibatnya, saya justru makin tenggelam dalam rutinitas remeh sekaligus dibuat gelisah oleh rasa bersalah.
Selain itu, untuk saya terutama, sosial media adalah “pembunuh” kreativitas yang lain. Keinginan update status setiap saat dan mengintip kehidupan teman membuat saya hanyut. Menurut Gloria Mark, ahli informatika dari University of California, rata-rata orang beralih tugas setiap 3 menit 5 detik. Risetnya menunjukkan bahwa setelah terdistraksi (seperti mengecek medsos), butuh waktu sekitar 23 menit untuk kembali fokus sepenuhnya ke tugas awal.
Inilah mengapa scrol-scrol sosmed ibarat hanyut di samudera; kita beringsut pelan, tahu-tahu tepian sudah tak terlihat.
Alaram Internal dan Dampak Tidak Fokus dalam Mencapai Goal
Untungnya, saya memiliki “alaram kecil” di kepala. Saat sadar sedang membuang waktu, ia berteriak, “Hoi! Ngapain browsing terus tak tentu arah? Pikirkan masa depan!”
Saat itulah saya teringat blog yang terbengkalai. Keinginan menulis pun melonjak. Kebiasaan membaca buku juga memicu rasa malu terselubung, “Kok ilmu masuk terus, tapi keluarnya kapan?”
Kita harus sadar bahwa ketidakfokusan adalah racun. Dampak tidak fokus dalam mencapai goal ibarat sel kanker yang menginfeksi sel sehat. Dampaknya mulai dari malas update blog hingga menunda pekerjaan besar.
Psikolog Dr. Tim Pychyl dari Carleton University menyebutkan bahwa penundaan (prokrastinasi) bukan masalah manajemen waktu, melainkan masalah manajemen emosi. Kita menghindari tugas (menulis) untuk menghindari emosi negatif (takut tulisan jelek/bosan), lalu lari ke kesenangan sesaat (medsos). Akibatnya, pengembangan diri terhambat total.
Manfaat Menulis Bagi Entrepreneur
Sebagai entrepreneur yang bekerja dari rumah (WFH), saya sadar betul bahwa menulis di blog membawa manfaat besar:
- Meningkatkan konsentrasi.
- Mengembangkan nalar dan imajinasi.
- Mengungkapkan ide dengan lebih jernih.
Jika saya konsisten merangkai kata setiap hari, peluang menjadi penulis profesional akan terbuka. Bukankah ada pepatah practice is the mother of all skill?
Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers mempopulerkan “Aturan 10.000 Jam”. Ia berpendapat bahwa melatih skill secara intensif adalah kunci keahlian kelas dunia. Jika kita konsisten selama 12 bulan, kita ibarat membangun jalan tol menembus bukit barisan, bukan sekadar jalan setapak.
Tips Agar Fokus Kepada Target dan Memiliki Goal Jelas
Setelah merenung, akar masalah kemalasan saya adalah ketiadaan tujuan yang jelas. Saya hanya berpikir “suatu hari ingin mengungkapkan pikiran dengan jelas”. Itu bukan goal, itu hanya angan-angan.
Locke dan Latham, pelopor teori penetapan tujuan (Goal-setting theory), menyatakan bahwa tujuan yang spesifik dan menantang akan menghasilkan kinerja yang jauh lebih tinggi daripada tujuan yang samar.
Berikut adalah tips agar fokus kepada target yang sedang saya terapkan:
1. Tetapkan Tujuan dengan Metode SMART
Goal harus Spesifik, Terukur (Measurable), Bisa Dicapai (Achievable), Relevan, dan Berbatas Waktu (Time-bound). “Ingin jadi penulis” itu samar. Ubah menjadi: “Menulis 500 kata setiap pagi sebelum jam 8 untuk menyelesaikan draf novel dalam 3 bulan.”
2. Lakukan “Deep Work”
Cal Newport, penulis Deep Work, menyarankan kita untuk menyisihkan waktu tanpa gangguan sama sekali. Matikan notifikasi HP dan tutup tab Facebook saat menulis. Fokus penuh selama 1-2 jam jauh lebih berharga daripada 8 jam kerja yang terdistraksi.
3. Visualisasikan Hasil Akhir
Karena saya suka novel roman, saya mulai bercita-cita spesifik: Menjadi “Juragan Gula Semut yang Penulis Novel”. Terdengar keren, kan? Visualisasi ini membantu menjaga semangat saat rasa bosan menyerang.
Jadi, Sobat JEI, mari kita berhenti membiarkan hal remeh mencuri masa depan kita. Mulailah menetapkan goal hari ini.
eviindrawanto.com
