
Tandem Paragliding Pokhara Nepal bukan sekadar olahraga ekstrem, melainkan sebuah transformasi jiwa. Bayangkan, malam pertama kami di Pokhara, ide gila itu muncul begitu saja saat makan malam. Kami, rombongan “bapak-bapak dan ibu-ibu” yang sudah matang usia, tiba-tiba saling pandang dengan mata berbinar. Semangat remaja kembali membara.
Mengapa tidak? Artikel ini akan mengupas tuntas pengalaman mendebarkan tersebut, mulai dari memilih operator, memahami standar keselamatan menurut ahli, hingga rincian biaya terbaru untuk menikmati wisata petualangan di Nepal yang legendaris ini.
Mengapa Harus Pokhara?
Pokhara secara konsisten masuk dalam jajaran 5 lokasi paragliding komersial terbaik di dunia.
Menurut pakar aerodinamika dan meteorologi penerbangan, lembah Pokhara memiliki keunikan termal yang luar biasa. Pertemuan udara hangat dari lembah dan udara dingin dari pegunungan menciptakan uplift (daya angkat) yang stabil dan konsisten.
Selain itu, keberadaan Danau Phewa Pokhara di bawah zona terbang bukan hanya pemanis mata. Secara teknis, danau ini menyediakan area pendaratan darurat yang luas dan aman jika terjadi perubahan angin mendadak. Inilah alasan utama mengapa tandem paralayang di atas Danau Phewa Pokhara menjadi primadona.
Memilih Operator Tandem yang Tepat
Kami tidak membuang waktu. Malam itu juga kami sepakat mencari operator. Karena kami menginap di Crystal Palace, tepat di jantung turis tepi Danau Phewa Pokhara, menemukan agen sangatlah mudah. Apalagi Oktober adalah musim puncak.
Namun, Sobat JEI harus cermat. Jangan asal pilih murah.
Pentingnya Lisensi APPI Berdasarkan riset mendalam, Nepal tidak memiliki badan regulasi paragliding pemerintah yang spesifik. Oleh karena itu, standar keselamatan mengacu pada Association of Paragliding Pilots and Instructors (APPI).
Pastikan pilot Anda memegang lisensi valid. Pilot tandem komersial wajib memiliki pengalaman terbang minimal 2 tahun dan lolos ujian ketat di berbagai kondisi cuaca. Mereka harus membuktikan kemampuan mengendalikan tandem paralayang di atas Danau Phewa Pokhara dengan presisi tinggi.
Drama “Handuk Putih”
Proses administrasi cukup ketat. Kami membayar biaya (termasuk asuransi dan transportasi), menyerahkan data paspor, dan menandatangani surat pernyataan kesehatan.
Malam itu, 5 orang mendaftar: 3 perempuan dan 2 laki-laki. Lucunya, saat pagi menjelang, 2 laki-laki tersebut (salah satunya suami saya), memilih “angkat handuk putih” alias menyerah pada rasa takut.
“Tak mengapa, paralayang memang butuh nyali lebih,” goda saya pada sang mantan pacar. Akhirnya, para perempuan tangguhlah yang naik ke minivan menuju lokasi lepas landas, sementara para pria menjadi tim hore (cheerleaders) di area pendaratan.
Detik-Detik Menuju Angkasa

Perjalanan 20 menit menuju bukit (area Sarangkot atau kini sering dialihkan ke Mandre Dhunga karena aktivitas bandara baru) menyuguhkan pemandangan magis. Wangi tumbuhan liar dan cericit burung menyambut kami di ketinggian 1.592 mdpl.
Puncak Annapurna berkilau memamerkan salju abadinya. Di langit, puluhan payung warna-warni sudah menari.
Instruksi Vital dari Pilot
Ketika Raj, sang pilot mendekat dan memasang peralatan saya, baru lahย adrenalin saya terpompa habis. Jantung berdebar, tangan dingin, kaki danย lutut seolah kehilangan kekuatan. “I’m nervous” ungkap saya kepada Raj.ย Orang Nepal ganteng ini hanya tertawa. “It’s Alright. You are gonna be fine” Katanya. “Just listen to me. If I say walk, walk. If I say run, run” Rajย menambahkan saya tidak boleh menduduki harness saya sampai ia perintahkan. Simple kedengarannya, mudah instruksinya tapi saya tetap tak berhasil meredakan pukulan jantung yang bertubi-tubi.
Menurut instruktur keselamatan penerbangan, fase take-off adalah momen paling kritis. Penumpang wajib berlari mengikuti kecepatan pilot untuk menciptakan gaya angkat pada sayap (canopy). Jika penumpang ragu atau duduk terlalu dini, peluncuran bisa gagal.
Siksaan adrenalin itu akhirnya lenyap. Saat Raj berteriak “Run!”, saya berlari sekencang-kencangnya menuju bibir jurang. Logika seolah mati. Saya berlari menyongsong kekosongan.
Sensasi Melayang Seperti Burung
Dan… whoosh!
Kaki tak lagi menjejak tanah. Angin menangkap layar kami. Saya duduk nyaman di harness, melayang tenang menikmati tandem paralayang di atas Danau Phewa Pokhara. Jantung yang tadi mau copot, kini berdetak irama damai.
Pemandangan 360 derajat terhampar di bawah. Saya bersyukur pada Sang Pencipta atas keberanian ini. Raj yang profesional sesekali mengajak bercanda untuk memastikan saya rileks, bahkan kami sempat berteriak lepas bersama. Sebuah terapi jiwa yang mahal harganya.
By the way dalam foto ini Raj selalu pasang wajah tegas. Itu sebenarnya pencitraan agar terlihat profesional. Tapi selama di atas, disepanjang waktu dia terus mengajak saya bercanda. Ia pilot yang berpengalaman. Tahu bagaimana cara menenangkan penumpangnya. Saya benaran rileks. Malah saat ia menyuruh saya teriak-teriak saya pun melakukannya tanpa ragu. Setelah itu kami ngakak berdua.
Keamanan dan Risiko: Fakta yang Harus Diketahui
Meski teman saya berseloroh bahwa paragliding di Nepal lebih aman daripada menyeberang jalan di Jakarta, ini tetap olahraga ekstrem.
Risiko tetap ada, mulai dari perubahan cuaca mikro yang tiba-tiba hingga kegagalan komunikasi saat mendarat.
Statistik menunjukkan angka kecelakaan paragliding di Pokhara sangat rendah dibandingkan volume penerbangannya (ratusan per hari saat peak season). Namun, memilih operator yang menyediakan asuransi perjalanan khusus olahraga ekstrem adalah wajib hukumnya.
Waktu Terbaik untuk Terbang
Operator biasanya menawarkan slot terbang pukul 10.30, 12.00, dan 14.00.
- Pagi (10.00 – 11.00): Cocok untuk pemula. Termal (kolom udara panas) belum terlalu kuat, sehingga penerbangan lebih tenang dan stabil.
- Siang (12.00 ke atas): Cocok untuk pencari adrenalin. Panas bumi sudah maksimal, menciptakan termal kuat yang memungkinkan pilot melakukan manuver akrobatik atau terbang lintas alam (cross country).
Musim terbaik untuk wisata petualangan di nepal ini adalah September hingga April, dengan puncaknya di musim gugur (Oktober-November) saat langit di atas Danau Phewa Pokhara paling jernih.
Panduan Praktis Menuju Lokasi
Cara Menuju Pokhara:
- Dari Kathmandu: Anda bisa naik bus wisata (sekitar 7-8 jam perjalanan) atau pesawat domestik ke Bandara Internasional Pokhara (25 menit penerbangan).
- Ke Titik Kumpul: Operator paragliding biasanya menyediakan layanan jemputan dari hotel Anda di area Lakeside, Pokhara menuju titik lepas landas (Sarangkot atau Mandre Dhunga).
Estimasi Harga Tiket & Paket (Update 2024-2025): Harga telah mengalami standarisasi oleh asosiasi setempat, namun bisa berubah sewaktu-waktu.
- Paket Standar (15-30 menit): Sekitar NPR 8.000 – 12.000 (Setara Rp 950.000 – Rp 1.400.000).
- Termasuk: Transportasi ke bukit, asuransi lokal, pilot berlisensi, dan dokumentasi (foto/video GoPro).
- Tips: Selalu konfirmasi apakah harga sudah termasuk file foto dan video sebelum membayar.
Apakah Sobat JEI berani mencoba Tandem Paragliding Pokhara Nepal ini? Percayalah, melihat dunia dari perspektif burung di atas Danau Phewa Pokhara akan mengubah cara Anda memandang hidup selamanya.
eviindrawanto.com










