
Ringkasan
- Evaluasi skor nilai keinginan hidup membantu memahami bagaimana pikiran membentuk realitas dan menarik kesuksesan.
- Konsep Law of Attraction (LoA) menunjukkan pentingnya berpikir besar dan memiliki visi yang jelas untuk mencapai tujuan hidup.
- Hasil test LoA saya menunjukkan skor baik, menandakan kejelasan dalam tujuan hidup serta pentingnya mengatasi batasan ambisi.
- Hierarki kebutuhan manusia oleh Maslow menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan dasar sebelum mengejar ambisi yang lebih tinggi.
- Mengevaluasi skor nilai keinginan hidup memaksa kita untuk menggali motivasi terdalam dan menyesuaikan tujuan dengan keinginan sejati.
Skor nilai keinginan saya dalam hidup ternyata membuka wawasan baru tentang bagaimana pikiran kita membentuk realitas. Halo Sobat JEI! Pernahkah kalian mengevaluasi sejauh mana pikiran positif menarik kesuksesan? Artikel ini merangkum pengalaman saya mengevaluasi hasil test LoA, yang saya ikuti gratis online, jadi tahu betapa pentingnya berani berpikir besar, cara menyeimbangkan kebutuhan dasar, serta menemukan motivasi sejati.
Ini gara-gara, bertahun-tahun lalu, konsep Law of Attraction (LoA) sangat fenomenal berkat kesuksesan buku The Secret karya Rhonda Byrne. Dr. Barbara Fredrickson, pakar psikologi positif terkemuka, melalui teori Broaden-and-Build mengonfirmasi bahwa emosi positif secara aktif memperluas wawasan dan sumber daya kita. Menjaga pikiran sangatlah krusial. Fokus pada tujuan positif menjadi pintu untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan. Jika kita menginginkan orang lain menyukai kita, jangan pernah menyimpan benci atau dendam dalam pikiran. Hal negatif hanya akan menarik hal negatif lainnya. Saya pun penasaran dan mengikuti sebuah tes untuk mengukur seberapa baik saya mempraktikkan LoA.
Mengupas Hasil Test LoA – Berani Berpikir Besar (Thinking Big)
Saya cukup terkejut melihat hasil test LoA saya: You Scored 21 out of 25. Skor ini menunjukkan bahwa saya sangat jelas dengan tujuan hidup saya. Penilai tes menyebutkan bahwa saya selangkah lebih maju. Banyak orang gagal mencapai hasil maksimal karena mereka tidak memiliki kejelasan visi.
Bagian menarik dari ulasan tes ini membahas tentang pentingnya berpikir besar. Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa menginginkan ‘lebih dari cukup’ adalah hal yang salah atau bahkan tidak bermoral. Padahal, dorongan ini adalah inti dari sifat dasar manusia untuk terus bertumbuh dan berkembang. Dr. Edwin Locke, pencetus Goal-Setting Theory, menegaskan bahwa tujuan yang besar dan menantang justru memotivasi manusia berkinerja jauh lebih tinggi. Mengumpulkan kekayaan dan menikmati gaya hidup yang menyertainya adalah proses yang berkelanjutan. Jika kita berhenti bertumbuh, siapa yang akan kita bantu? Jika kita ingin kemapanan finansial, justru memposisikan kita secara nyata untuk membantu mereka yang kurang beruntung.
Baca juga:
Jangan Batasi Skor Nilai Keinginan Saya Dalam Hidup
Seringkali kita membatasi ambisi kita sendiri. Kita menetapkan target sekadar memiliki bisnis yang lumayan sukses atau pekerjaan dengan gaji yang cukup. Kita mensugesti diri bahwa meminta lebih dari itu berarti menantang nasib.
Pernahkah Sobat JEI berbaring menatap bintang di malam yang cerah? Saya sering. Perspektif kita saat melihat hamparan bintang yang tak terhingga di alam semesta sangatlah menyentuh. Betapa kecilnya segala sesuatu dibandingkan dengan luasnya semesta tersebut. Bandingkan skor nilai keinginan saya dalam hidup dan tujuan saat ini dengan kebesaran alam semesta. Tidakkah impian kita terlihat sangat kecil? Kalikan impian itu menjadi sesuatu yang jauh lebih ambisius. Mungkin memiliki properti tepi pantai, mobil sport, atau bisnis besar yang sukses. Alam semesta tidak akan berkata, “Oh tidak, kamu terlalu serakah, saya tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan kepada orang lain!”. Tentu saja tidak. Saat memutuskan skala impian kita, tataplah langit sebelum menetapkan batasan tersebut.
Keinginan Versus Kebutuhan dalam Hasil Test LoA
Ada pepatah berbunyi, “Hati-hati dengan apa yang Kamu minta, Kamu mungkin benar-benar mendapatkannya!”. Terkadang kita terlambat menyadari bahwa hal yang kita perjuangkan mati-matian justru membawa kerugian yang tidak terduga. Untuk menghindari hal ini, kita harus kembali ke prioritas. skor-nilai-keinginan-hidup-hasil-test-loa melalui hierarki kebutuhannya selalu mengingatkan pentingnya fondasi dasar manusia. Psikolog Abraham Maslow melalui hierarki kebutuhannya selalu mengingatkan pentingnya fondasi dasar manusia melalui hierarki kebutuhannya selalu mengingatkan pentingnya fondasi dasar manusia.
Hirarki Kebutuhan Umat Manusia Menurut Psikolog Abraham Maslow
Setelah kebutuhan bertahan hidup terpenuhi, kita berbagi empat kebutuhan utama berikut:
- Kebutuhan akan keintiman: Kita butuh membagikan ide, harapan, dan impian kita kepada orang terdekat. Kita butuh koneksi mendalam dengan orang lain.
- Kebutuhan akan tujuan dan makna: Kemampuan bawaan kita untuk menganalisis dan menemukan solusi kreatif membedakan kita sebagai manusia. Kebebasan berekspresi ini mencegah kebosanan dan frustrasi.
- Kebutuhan akan rasa aman: Kita butuh lingkungan yang aman secara finansial, keamanan fisik, kesehatan yang baik, dan rutinitas yang bisa diprediksi.
- Kebutuhan spiritual: Pada suatu titik, kita perlu memahami keabadian, mengeksplorasi hubungan dengan Tuhan, atau menemukan makna hidup yang lebih dalam untuk menghindari rasa terisolasi.
Nilai sebenarnya dari mengevaluasi hasil test LoA dan menyadari kebutuhan dasar ini adalah memastikan kita tidak mengorbankan satu kebutuhan demi mengejar ambisi lain. Apalah arti kesuksesan seorang pekerja keras di puncak karier korporat jika hubungan dengan orang tercinta justru hancur? Akhir tidak selalu membenarkan cara.
Mengapa Anda Menginginkan Apa yang Anda Inginkan?
Jika kita bertanya kepada sepuluh orang acak apa yang akan mereka lakukan dengan uang 100 Milyar rupiah, kita akan mendapat sepuluh jawaban berbeda. Ada yang menabungnya, keliling dunia, atau membeli rumah mewah. Kita semua punya mimpi yang berbeda. Namun, dari mana sebenarnya mimpi pribadi itu berasal? Apakah pengaruh masa kecil, orang tua, atau teman-teman?
Mengevaluasi skor nilai keinginan saya dalam hidup menuntut untuk mencari tahu motivasi terdalam diri. Edward Deci dan Richard Ryan melalui Self-Determination Theory menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari motivasi intrinsik. Seringkali kita menginginkan sesuatu berdasarkan pengaruh eksternal, seperti rumah besar karena teman memilikinya. Padahal, kita masing-masing memiliki bakat unik.
Sayangnya, sebagian besar dari kita mengejar tujuan berupa materi. Jika mendapat permintaan dari jin, sangat sedikit yang meminta untuk sekadar melakukan sesuatu yang mereka cintai dan kuasai. Mayoritas pasti meminta harta. Padahal, jika kita setia pada keinginan hati dan bakat unik kita, kelimpahan finansial akan datang dengan sendirinya. Setidaknya begitu lah menurut teori.
Jadi memang sebaikinya kita pikirkan dengan sungguh-sungguh tujuan saya atau kita dalam bentuk ‘ingin menjadi apa’, bukan sekadar ‘ingin memiliki apa’. Sisanya akan mengikuti jika saya dan kamu jujur pada diri sendiri.
Terlepas dari percaya atau tidak pada hukum ini, membaca dan menerjemahkan semua hasil test LoA yang saya lakukan, memberikan pencerahan yang sangat berharga. Minimal saya bisa belajar hal yang perlu saya perbaiki dan menentukan fokus mana yang harus saya tingkatkan. Bagaimana dengan Sobat JEI? Sudahkah kalian memetakan impian sejati kalian hari ini?
eviindrawanto.com
