
Key Takeaways
- Rumah Gadang Bukittinggi, atau Museum Rumah Adat Baanjuang, adalah destinasi wisata yang kaya sejarah dan budaya Minangkabau.
- Museum ini memiliki arsitektur khas Rumah Gadang Gajah Maharam dan berlokasi di Taman Margasatwa Bukittinggi.
- Empat elemen utama museum ini adalah Rangkiang Sibayau-bayau, Rangkiang Sitinjau Lauik, Tabuah Larangan, dan kolam ikan, masing-masing dengan fungsi unik.
- Koleksi museum mencakup etnografi Minangkabau, naskah kuno, dan awetan hewan langka.
- Tiket masuk untuk dewasa sebesar Rp25.000 dan anak-anak Rp20.000, dengan jam buka setiap hari pukul 08.00 – 16.00 WIB.
Halo, Sobat JEI! Sedang merencanakan liburan ke Sumatera Barat? Jangan hanya terpaku pada Jam Gadang. Ada satu hidden gem penuh sejarah yang wajib masuk dalam itinerary kamu, yaitu Rumah Gadang Bukittinggi atau yang secara resmi dikenal sebagai Museum Rumah Adat Baanjuang. Tempat ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan kapsul waktu yang menyimpan ratusan tahun jejak kebudayaan Minangkabau. Penasaran apa saja isinya dan berapa biaya masuk terbarunya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Mengenal Museum Rumah Adat Baanjuang
Bagi Sobat JEI yang menyukai wisata edukasi, museum ini adalah destinasi yang tepat. Terletak di dalam kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (Kebun Binatang Bukittinggi), bangunan ini sejatinya adalah museum etnografi. Didirikan oleh seorang Belanda bernama Mondelar Countrolleur pada 1 Juli 1935, museum ini awalnya bernama Museum Bundo Kanduang.
Arsitekturnya mengadopsi gaya Rumah Gadang Gajah Maharam dengan atap bergonjong tujuh yang ikonik. Di halamannya, kamu akan disambut oleh dua rangkiang (lumbung padi) bernama Sibayau-bayau dan Sitinjau Laut, serta sebuah Tabuah Larangan (beduk besar) yang dulunya berfungsi sebagai alat komunikasi adat saat terjadi bahaya. Kolam ikan juga harus dalam komplek Rumah Gadang.
Berikut pejelasan 4 kelengkapan komplek Rumah Gadang:
1. Fungsi Rangkiang Sibayau-bayau
Salah satu ikon yang paling menarik perhatian di halaman museum adalah Rangkiang Sibayau-bayau. Dalam tatanan masyarakat Minangkabau, lumbung padi ini memiliki fungsi sosial yang sangat kental. Rangkiang ini biasanya berukuran lebih besar dan “gemuk” dibandingkan yang lain.
Isi padi di dalamnya dikhususkan untuk kebutuhan makan sehari-hari penghuni rumah gadang dan, yang lebih mulia lagi, untuk membantu kerabat atau kemenakan yang sedang kekurangan. Filosofinya adalah seorang Bundo Kanduang (ibu) harus memastikan tidak ada anggota kaumnya yang kelaparan. Kunci Rangkiang Sibayau-bayau ini dipegang erat oleh Bundo Kanduang, menyimbolkan peran sentral wanita dalam ketahanan pangan keluarga besar.
2. Kegunaan Rangkiang Sitinjau Lauik
Berbeda dengan saudaranya, Rangkiang Sitinjau Lauik memiliki bentuk yang lebih langsing dan berdiri lebih tegak. Sesuai namanya yang berarti “meninjau laut” (melihat jauh), fungsi Rangkiang Sitinjau Lauik berkaitan dengan hal-hal yang bersifat komersial atau kebutuhan besar yang tidak bisa dipenuhi dari hasil ladang sendiri.
Padi dari lumbung ini biasanya dijual untuk membiayai keperluan upacara adat, pesta pernikahan, batagak penghulu, atau membeli barang-barang keperluan rumah tangga yang harus didatangkan dari luar (seperti garam atau kain). Jadi, keberadaan rangkiang ini menyimbolkan kesiapan ekonomi sebuah kaum dalam menghadapi perhelatan besar dan menjaga martabat keluarga.
3. Tabuah Larangan: Alat Komunikasi Adat
Di sudut halaman, Sobat JEI akan menemukan sebuah beduk besar yang disebut Tabuah Larangan. Jangan salah sangka, benda ini berbeda fungsi dengan beduk di masjid yang memanggil orang salat.
Fungsi Tabuah Larangan murni sebagai alat komunikasi tradisional untuk situasi darurat atau force majeure. Beduk ini hanya boleh dibunyikan (diguguh) dengan irama tertentu bila terjadi bencana alam, kebakaran, atau serangan musuh. Selain itu, suaranya yang menggelegar juga menjadi sinyal bagi seluruh anak kemenakan dan pemangku adat bahwa ada kematian di kampung. Begitu pun ini adalah alat panggil kepada sanak-saudara untuk segera berkumpul di balai adat guna musyawarah mendadak. Karena fungsinya yang sakral dan menyangkut keselamatan orang banyak, ia disebut “Larangan”—artinya, pantang dibunyikan sembarangan tanpa sebab yang genting.
4. Filosofi Kolam Ikan di Halaman Depan
Satu elemen yang tak boleh terlewat dalam kompleks rumah adat ini adalah keberadaan kolam ikan Rumah Gadang. Biasanya terletak tepat di depan tangga masuk, kolam ini bukan sekadar pemanis visual. Secara tradisional, ia memiliki fungsi sanitasi; setiap tamu atau penghuni wajib membasuh kaki dengan air kolam sebelum menaiki tangga, menjaga kebersihan bagian dalam rumah yang disucikan. Selain itu, kolam ikan ini berfungsi sebagai cadangan lauk pauk segar yang praktis bagi keluarga, mencerminkan kearifan lokal dalam ketahanan pangan mandiri.
Baca juga
Sejarah Rumah Gadang dan Filosofi Atap Gonjong
Bagi saya, memandangi Rumah Gadang selalu menghadirkan pesona tersendiri. Bangunan ini seolah menyimpan ratusan tahun kisah yang tak terucapkan, mulai dari ukiran dinding yang rumit hingga tata ruangnya yang penuh makna. Namun, daya tarik utamanya tentu terletak pada Museum Rumah Adat Baanjuang dengan atap ijuk bergonjong tujuh yang ikonik.
Simbol Kemenangan dan Tanduk Kerbau
Lengkung atap yang tajam menjulang ke langit lalu melandai ke bawah ini dikenal sebagai gonjong. Bagi anak Minang, bentuk ini lebih dari sekadar arsitektur; ia adalah simbol identitas. Filosofi atap gonjong ini diyakini menyerupai tanduk kerbau, yang merepresentasikan kemenangan diplomatis leluhur Minangkabau dalam peristiwa adu kerbau melawan pasukan dari Jawa di masa lampau. Kemenangan inilah yang konon menjadi asal usul nama “Minangkabau” (Minang Kabau/Menang Kerbau).
(Baca juga: Hotel di Bukittinggi Dekat Jam Gadang)
Jejak Adityawarman dan Alam Minangkabau
Dalam catatan sejarah Rumah Gadang, kita juga tidak bisa mengabaikan pengaruh Raja Adityawarman. Meski berasal dari Majapahit, kepemimpinannya di Pagaruyung justru menciptakan akulturasi budaya yang unik, bukan sekadar penaklukan.
Selain legenda kerbau, bentuk atap ini juga sering ditafsirkan sebagai representasi alam. Jika diperhatikan, barisan atap gonjong ini selaras dengan gugusan Bukit Barisan yang memagari Sumatera Barat. Ada pula tafsir yang menyebutnya menyerupai kapal lancang, mengingatkan kita bahwa nenek moyang orang Minang dulunya adalah pelaut yang mendarat dan membangun peradaban di dataran tinggi.
Koleksi Unik dan Langka
Berbeda dengan museum modern, Museum Rumah Adat Baanjuang menawarkan atmosfer kuno yang autentik. Koleksinya meliputi:
- Etnografi Minangkabau: Alat pertanian, pelaminan, baju adat Minang, dan perabotan kuno.
- Naskah Kuno: Salah satu koleksi paling berharga adalah Al-Qur’an tulis tangan dari tahun 1700 M.
- Koleksi Biologi Unik: Terdapat awetan hewan langka yang mengalami kelainan genetik, seperti kerbau berkepala dua dan kaki delapan, yang sering menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal.
Harga Tiket Masuk Kebun Binatang Bukittinggi 2026
Untuk mengunjungi museum ini, Sobat JEI perlu membeli tiket masuk ke kawasan Kebun Binatang Bukittinggi terlebih dahulu. Berikut adalah estimasi harga tiket terbaru tahun 2026:
- Dewasa: Rp25.000 per orang
- Anak-anak: Rp20.000 per orang
- Tiket Masuk Museum: Terkadang dikenakan biaya retribusi tambahan yang sangat terjangkau, sekitar Rp2.000 – Rp5.000 di pintu masuk museum.
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu, terutama saat musim liburan (high season).
Jam Buka dan Lokasi
Objek wisata ini berlokasi di Jalan Cindua Mato, Benteng Pasar Atas, Kota Bukittinggi.
- Jam Buka: Setiap hari, pukul 08.00 – 16.00 WIB.
Datanglah lebih pagi agar kamu bisa menikmati suasana sejuk Bukittinggi dan berkeliling area kebun binatang tanpa berdesakan.
Cara Menuju Rumah Gadang Bukittinggi
Akses menuju lokasi ini sangat mudah, terutama jika kamu sudah berada di pusat kota.
- Jalan Kaki dari Jam Gadang: Jaraknya sangat dekat! Kamu hanya perlu berjalan kaki sekitar 10-15 menit dari Jam Gadang melewati area Pasar Atas.
- Via Jembatan Limpapeh: Ini rute favorit para wisatawan. Dari arah Benteng Fort de Kock, kamu bisa menyeberangi Jembatan Limpapeh yang ikonik. Jembatan gantung ini menghubungkan benteng langsung dengan area Kebun Binatang Bukittinggi. Sambil menyeberang, kamu bisa berfoto dengan latar belakang kota Bukittinggi yang indah.
Jadi, jangan lupa siapkan kamera dan baju terbaikmu untuk berfoto di depan Rumah Gadang Bukittinggi yang megah ini ya, Sobat JEI!
Video ini relevan karena menampilkan tur visual terbaru ke dalam Museum Rumah Adat Baanjuang yang berada di dalam Kebun Binatang Kinantan, sehingga Teman-teman bisa melihat langsung kondisi koleksi dan bangunan sebelum berkunjung.
Di dalam Kebun Binatang Kinantan Bukittinggi ada museum …
Foto koleksi Rumah Gadang Bukittinggi – Museum Etnografi



@eviindrawanto
The only thing you need for a travel is curiosity.

