Poin Utama
- Renungan pagi bersama lebah menggambarkan pengalaman penulis di Semarang dan renungan pagi bersama lebah.
- Lebah liar menunjukkan etos kerja luar biasa dalam mencari nektar dari ribuan bunga.
- Manusia berperan sebagai perampok alam karena mengambil hasil kerja lebah tanpa memberi nilai tambah, menciptakan ketidakadilan lingkungan.
- Perbandingan hubungan bunga dan lebah menunjukkan simbiosis mutualisme yang seharusnya ada di antara manusia dan alam.
- Filsuf Deep Ecology mengingatkan bahwa semua makhluk hidup memiliki hak untuk berkembang, dan kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap alam.
Pagi itu saya sedang berada di Semarang untuk perjalanan bisnis bersama suami. Kami memilih hotel sederhana yang bersih dan asri. Halamannya rimbun, penuh dengan bunga.
Sebelum memulai aktivitas, saya menyempatkan diri duduk di beranda kamar. Suasana terasa syahdu. Halaman masih basah sisa hujan subuh tadi. Kelopak bunga tampak kuyup, sementara udara terasa sejuk cenderung dingin.
Di kejauhan, terlihat kesibukan para sales antarkota yang juga menginap di sana bersiap berangkat. Sebuah momen tenang yang memicu renungan pagi bersama lebah yang tak terduga.
Pelajaran dari Seekor Lebah Liar
Sambil menyesap teh hangat, perhatian saya tersita oleh seekor lebah liar. Ia merayap lincah di antara kuntum Bougenville ungu. Awalnya saya kira lalat, namun ukurannya terlalu besar.
Rupanya, ia sedang bekerja. Lebah itu membenamkan sungutnya dalam-dalam ke ceruk mahkota bunga. Ia mencari nektar, cairan manis yang disediakan alam.
Gerakannya begitu efisien. Setelah selesai di satu bunga, ia terbang cepat dan merayap ke kuntum lain. Tahukah Sobat JEI? Menurut penelitian dari University of Sussex, lebah pekerja dapat mengunjungi ribuan bunga dalam sehari hanya untuk mengumpulkan satu sendok teh nektar. Sebuah etos kerja yang luar biasa.
- Baca di sini tentang : Sabotase Diri Sendiri
Proses Rumit di Balik Setetes Madu
Nektar sejatinya adalah strategi alam untuk menarik serangga dalam membantu penyerbukan. Lebah mengumpulkan nektar ini sedikit demi sedikit dari 500 hingga 1.500 kuntum bunga ke dalam kantung madunya. Volume kantung ini bahkan hampir sebesar tubuhnya sendiri!
Setelah penuh, ia kembali ke sarang. Di sana, lebah pekerja lain akan menerima estafet tugas. Mereka mengosongkan nektar dan memamahnya. Proses ini mencampurkan nektar dengan enzim invertase dari air liur lebah.
Tujuannya? Agar nektar lebih mudah dicerna dan tidak mudah basi.
Cairan tersebut kemudian disimpan dalam kisi-kisi sarang sebagai cadangan makanan komunitas. Ribuan lebah kemudian mengepakkan sayap untuk menguapkan kadar airnya. Inilah yang menentukan kekentalan madu. Kerja sama kolosal ini memastikan keberlangsungan hidup koloni mereka.
- Baca di sini tentang : Mengapa Orang Ngebut di Jalan Raya? Ini Fakta Psikologis di Balik Aksi Bahaya Itu
Ketika Manusia Jadi Perampok Isi Alam
Di sinilah ironi itu muncul. Manusia kemudian datang dengan segala pengetahuan modernnya. Kita tahu bahwa nektar yang telah bercampur enzim itu memiliki jutaan khasiat.
Tentu saja berkhasiat, itu adalah bahan bakar kehidupan bagi mereka! Namun, dalam kamus manusia, “berkhasiat” berarti: ambil, petik, konsumsi, atau jual.
Jika kita tinjau dari sudut pandang lebah, ketika manusia jadi perampok isi alam, kita tak ubahnya raksasa serakah. Kita mencuri paksa gudang makanan mereka tanpa izin.
Para ahli etika lingkungan sering menyebut ini sebagai Anthropocentrism, pandangan bahwa manusia adalah pusat semesta dan alam hanya sekadar komoditas. Kita mengambil hasil kerja keras ribuan lebah tanpa memberikan nilai tambah apa pun bagi kehidupan mereka.
Mentalitas Mengambil Tanpa Memberi
Mari kita bandingkan dengan hubungan bunga dan lebah. Bunga membutuhkan bantuan untuk mempertemukan benang sari dan putik. Berbeda dengan manusia, bunga tidak meminta tolong secara gratis.
Mereka berdandan dengan warna mencolok dan aroma harum. Sebagai imbalan atas nektar, kaki-kaki lebah membantu proses penyerbukan. Terjadilah simbiosis mutualisme yang cantik.
Lantas, apa manfaat yang kita berikan setelah mengambil madu mereka? Nihil.
Kita hanya mengambil tanpa memberi. Kecerdasan manusia yang rumit justru melahirkan ego tak terkendali. Mungkin ini warisan otak primitif yang merasa alam harus menyokong hidupnya secara gratis.
Kita menebang hutan tanpa memikirkan reboisasi. Kita mengeruk perut bumi tanpa peduli dampak lingkungan. Kita mengubah hutan menjadi perkebunan monokultur yang mengusir hewan dari habitat aslinya.
Menanti Fajar Kemanusiaan Baru
Filsuf Deep Ecology, Arne Næss, pernah berkata bahwa semua makhluk hidup memiliki hak intrinsik untuk berkembang, terlepas dari kegunaannya bagi manusia. Sayangnya, kita masih jauh dari pemahaman ini.
Cara berpikir kita masih terbelakang karena hanya melihat dari sisi keuntungan sepihak.
Mungkin butuh ribuan tahun evolusi lagi agar otak kita bisa memandang bumi seperti sebuah akuarium raksasa. Di mana setiap makhluk punya peran menjaga ekosistem, bukan saling memangsa demi keserakahan.
Semoga fajar kemanusiaan itu segera tiba. Sebelum manusia terlambat menyadari bahwa dengan menghancurkan alam, mereka sebenarnya sedang menghancurkan diri sendiri.
Ada yang setuju dengan renungan pagi bersama lebah ini, Sobat JEI?
Baca juga:


