
Masyarakat memiliki standar tegas mengenai apa yang baik dan buruk. Kita menyebutnya nilai sosial. Perilaku baik sangat dianjurkan, sementara perilaku buruk harus kita hindari agar luput dari sanksi. Sosiolog Emile Durkheim mendefinisikan fenomena ini sebagai “fakta sosial”. Nilai-nilai ini bersifat eksternal namun memiliki kekuatan memaksa individu untuk patuh. Menariknya, kita tidak memulai kehidupan dengan kertas putih bersih.
Warisan Nilai Sejak dalam Kandungan
Masyarakat melekatkan nilai-nilai tersebut kepada kita jauh sebelum kelahiran. Bahkan dalam bentuk embrio, kita sudah menerima beban harapan sosial. Orang tua mana pun pasti menginginkan bayi yang lahir lengkap anggota tubuhnya dan sehat.
Lebih jauh lagi, orang tua menyusun skenario masa depan. Mereka berharap sang anak kelak berguna, soleh, cerdas, dan memegang jabatan tinggi. Riset modern dalam bidang epigenetik mendukung hal ini. Studi menunjukkan bahwa kondisi psikologis dan harapan ibu selama kehamilan dapat memengaruhi ekspresi gen janin. Artinya, transfer nilai dan harapan memang terjadi secara biologis dan psikologis sejak dini.
Ritual Menjemput Takdir Baik
Orang tua mewujudkan harapan baik tersebut melalui berbagai cara. Salah satunya adalah membuat slametan. Tuan rumah mengundang teman dan kerabat untuk memanjatkan doa bersama. Tujuannya agar sang anak senantiasa selamat di bawah lindungan Tuhan.
Antropolog Clifford Geertz, dalam penelitian mendalamnya tentang budaya Jawa, menyoroti pentingnya ritual ini. Bagi masyarakat, slametan bukan sekadar pesta. Ritual ini berfungsi menciptakan keadaan “slamet” (tenang dan aman) secara komunal. Doa bersama menjadi mekanisme sosial untuk menolak bala dan menegaskan harapan kolektif terhadap si jabang bayi.
Baca juga:
Memahami Relatifitas Nilai-Nilai Hidup
Daftar harapan orang tua bisa sangat panjang. Kita akan menganggap orang tua yang berharap sebaliknya sebagai orang aneh atau gila. Namun, definisi “nasib baik” dan “buruk” ternyata tidak mutlak. Di sinilah relatifitas nilai-nilai hidup bermain peran.
Ambil contoh preferensi gender dalam suku tertentu. Sebuah kelompok masyarakat mungkin memberikan nilai lebih pada anak laki-laki. Bagi mereka, mendapatkan anak perempuan dianggap sebagai ketidakberuntungan. Sebaliknya, penganut sistem matrilineal justru merayakan kelahiran bayi perempuan sebagai berkah utama.
Ruth Benedict, seorang ahli antropologi ternama, menegaskan bahwa budaya adalah “kepribadian yang membesar”. Apa yang satu kelompok anggap sebagai nasib buruk, kelompok lain mungkin melihatnya biasa saja. Kita menghindari ketidakberuntungan karena budaya menempatkannya sebagai sesuatu yang negatif. Padahal, dalam kacamata relatifitas nilai-nilai hidup, semua penilaian itu bergantung pada di mana dan dalam budaya apa kita dibesarkan.
eviindrawanto.com
