
Pos Lintas Batas Negara Skouw kini tampil sangat membanggakan. Sobat JEI pasti setuju kalau tempat ini berevolusi dari kawasan yang dulu suram menjadi primadona wisata perbatasan negara di Papua. Artikel ini merangkum pengalaman seru saya menikmati kemegahan arsitektur lokal, pemandangan laut, hingga geliat ekonomi warga dua negara.
Menurut Dr. J. Rumbiak, pengamat tata ruang dari Universitas Cenderawasih, transformasi wajah perbatasan ini sukses mengangkat harga diri bangsa sekaligus mendongkrak ekonomi lokal secara signifikan.
Kemegahan Arsitektur di Pos Lintas Batas Negara Skouw

eviindrawanto.com – Selesai menghadiri Festival Lembah Baliem dan menjelang penerbangan kembali ke Jakarta, saya beserta teman-teman menyempatkan diri melihat langsung perbatasan NKRI-Papua Nugini yang terletak di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura—sekitar 90 menit perjalanan mobil dari pusat kota.
Siapa sangka, tapal batas negeri yang dulunya sering dipandang sebelah mata karena fasilitasnya yang buruk, terkesan kumuh jika dibandingkan dengan milik negara tetangga, serta sempat dianggap rawan, kini telah berubah total. Sejak wajah barunya diresmikan oleh Presiden Jokowi pada tahun 2017, citra suram itu lenyap berganti dengan kemegahan yang membuat saya benar-benar ikut bangga melihat kondisi PLBN Skouw saat ini.
Mobil kami melaju pelan memasuki area pos saat gerimis pagi menyapa. Bapak-bapak TNI Angkatan Darat menyambut kami dengan senyum ramah dan mempersilakan kami memarkir kendaraan. Mata saya langsung tertuju pada gedung utama yang super megah dengan tulisan Skouw Border Post of The Republic of Indonesia.
Gedung ini mengadaptasi desain Rumah Tangfa secara brilian. Masyarakat pesisir Skouw biasa menggunakan desain atap berbentuk perisai dan ruang kumpul memanjang ini. Arsitek Nusantara, Yori Antar, pernah memuji langkah pemerintah ini karena pendekatan budaya lokal membuat bangunan negara tidak kaku dan terasa membumi. Saya merasa takjub sekaligus mungil berdiri di depannya. Bangunan ini menghapus tuntas citra kumuh masa lalu!
Menara Suar Ikonik Wisata Perbatasan Negara di Papua

Sobat JEI akan menemukan menara suar setinggi 45 meter berdiri gagah di sini. Bangunan delapan lantai ini memandu pelayaran kapal di perairan Jayapura menuju Papua Nugini. Pengunjung yang mendapat izin khusus bisa naik ke puncak menara untuk berfoto.
Seorang petugas navigasi laut menjelaskan bahwa mercusuar ini memegang peran vital untuk keselamatan maritim internasional di jalur pasifik. Selain fungsi navigasi, menara ini menjadi spot foto paling mantap bagi para pemburu konten.
Bayangkan saja, kamu bisa memotret laut Jayapura dan kampung Wutong di Papua Nugini sekaligus dari atas sana. Sayang sekali, kami tiba terlalu pagi dan bapak juru kunci belum menampakkan datang.
Baca juga:
Zona Bebas di Pos Lintas Batas Negara Skouw

Berdiri di zona bebas memberi sensasi merinding yang lucu. Sobat JEI menginjak tanah dua negara secara bersamaan. Kami sempat mengobrol dengan anak-anak Papua Nugini di balik pagar perbatasan. Tentu saja, kami memakai bahasa Tarzan level mahir karena tidak saling mengerti bahasa masing-masing. Mimik muka konyol sukses membuat kami semua tertawa lepas pagi itu.
Sosiolog kawasan perbatasan, Prof. Dr. PM Laksono, mencatat bahwa interaksi informal dan tawa seperti ini justru menjadi diplomasi akar rumput yang paling efektif. Kedekatan budaya antarwarga sukses melelehkan batas-batas administratif negara yang kaku.
Saat jam kerja mulai dan lagu Indonesia Raya berkumandang, kami semua otomatis berdiri tegap. Bulu roma merinding, dan saya tertawa dalam hati menyadari betapa suksesnya negara mendoktrin saya sebagai anak bangsa.
Geliat Ekonomi Wisata Perbatasan Negara di Papua
Tidak jauh dari zona bebas, Pasar Skouw berdiri menanti pembeli. Sobat JEI, tahukah kamu? Data terbaru tahun 2025 mencatat lebih dari 50 ribu pelintas batas mengunjungi kawasan ini. Pemerintah Provinsi Papua bahkan sukses menggelar Festival Border Trade Fair RI-PNG pada akhir tahun 2025 lalu untuk memacu transaksi.
Menurut Wakil Menteri Dalam Negeri, pasar perbatasan ini bukan sekadar tempat berjualan, melainkan simbol persahabatan dan pusat ekonomi baru di ujung timur. Warga Papua Nugini sering menyeberang untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari memakai mata uang Kina atau Rupiah.
Sayangnya, pasar baru buka pukul 10 pagi, sehingga kami harus segera kabur ke bandara untuk mengejar pesawat ke Jakarta sebelum sempat memborong barang.
Cara Menuju Pos Lintas Batas Negara Skouw
Sobat JEI bisa menyewa mobil dari pusat kota Jayapura menuju Distrik Muara Tami. Perjalanan memakan waktu sekitar 90 menit saja. Sopir lokal biasanya sudah sangat hafal rute aspal mulus ini. Pemandangan perbukitan hijau akan memanjakan mata kamu sepanjang jalan. Pakar transportasi lokal menyarankan wisatawan berangkat pagi hari agar terhindar dari kemacetan kota, lalu bersantai di perbatasan hingga pasar buka.
Tips Menikmati Wisata Perbatasan Negara di Papua
- Datang agak siang sedikit jika ingin belanja. Pasar Skouw baru beroperasi pukul 10 pagi pada hari Senin, Kamis, dan Sabtu.
- Bawa paspor jika kamu berniat masuk lebih jauh ke area pos imigrasi Papua Nugini.
- Siapkan kacamata hitam dan tabir surya. Matahari Papua punya pelukan yang sangat hangat di siang hari!
- Hormati petugas keamanan. Minta izin dengan sopan sebelum mengambil foto di titik-titik pemeriksaan tertentu.

