
Pernikahan beda etnis seringkali menjadi guru terbaik dalam mengajarkan toleransi, jauh melampaui teori di bangku sekolah. Artikel ini akan membahas bagaimana dinamika sebuah keluarga multikultural bekerja, khususnya dalam menjembatani perbedaan budaya Minang dan Tionghoa yang kontras namun harmonis.
Saat internet sudah menghapus batas geografis, anehnya tidak semua orang subscribe pada realita global ini. Masih banyak yang merasa suku mereka paling “sultan”, sementara golongan lain cuma remah-remah rengginang. Picik! Padahal Hitler dan paham ras unggulnya sudah lama modar. Heran, kenapa mentalitas “manusia gua” seperti ini masih saja dipelihara?
Menurut Henri Tajfel, seorang ahli psikologi sosial pencetus Social Identity Theory, manusia memang punya kecenderungan alami untuk mengelompokkan diri (in-group) dan memandang rendah kelompok luar (out-group) demi mendongkrak harga diri semu. Tapi hey, kita hidup di 2026, bukan zaman batu!
Keuntungan Pernikahan Beda Etnis
Menikah dengan pria yang berbeda latar belakang memberikan privilese langka. Pernikahan beda etnis membuka mata saya lebar-lebar untuk melihat cara hidup yang berbeda. Saya bisa setting sudut pandang sesuai kebutuhan.
Kadang saya memakai kacamata budaya Minang, lalu dengan cepat berganti ke kacamata Tionghoa. Gordon Allport, psikolog terkenal dengan Contact Hypothesis-nya, menyebutkan bahwa interaksi langsung antar-kelompok (seperti dalam pernikahan) adalah cara paling ampuh meruntuhkan prasangka.
Di sini, saya belajar berempati tanpa kehilangan jati diri. Mengamati tanpa menghakimi. Kadang proses ini bikin meringis, kadang bikin tertawa geli. Tapi intinya, hidup ini adalah serial panjang. Jangan sampai kita menilai satu “episode” kecil sebagai keseluruhan cerita. Itu namanya spoiler yang salah kaprah.
Baca juga:
Menghapus Hitam Putih dalam Keluarga Multikultural
Menjalani hidup dalam keluarga multikultural membuat saya sadar: dunia ini nggak hitam-putih.
Kalau kamu merasa dirimu “putih”, yang di seberang sana nggak otomatis “hitam”. Bisa jadi mereka abu-abu, krem, atau malah shocking pink. Seringkali, kita menganggap orang lain salah hanya karena jarak pandang kita terlalu jauh dari mereka.
Masuklah ke lingkaran mereka. Kamu akan sadar bahwa gelombang yang sampai ke matamu sebelumnya hanyalah distorsi jarak. Dalam sosiologi, ini disebut Cultural Relativism (Relativisme Budaya)—pemahaman bahwa keyakinan dan aktivitas seseorang harus dipahami berdasarkan budaya orang itu sendiri.
Benturan Budaya Minang dan Tionghoa: Makanan dan Warna
Nah, ini bagian paling seru, trikky dan membutuhkan kedewasaan dari bersatunya budaya Minang dan Tionghoa. Soal perut dan mata!
Mengkonsumsi daging babi adalah tabu besar dalam etnis saya karena ajaran Islam. Tapi, di keluarga suami? Itu menu wajib! Imlek tanpa babi ibarat sayur tanpa garam—hambar, Sobat JEI!
Ipar-ipar saya paham bahwa saya tidak makan babi. Sebaliknya saya juga paham bahwa kuliner satu itu adalah darah daging mereka saat merayakan kemeriahan pesta dan Imlek.
Sebaliknya, ada tabu unik di keluarga suami. Haram hukumnya pakai baju merah atau warna cerah saat ada kematian. Bagi etnis Tionghoa, merah itu simbol pesta dan cuan. Sedih kok merah?
Lalu lihat budaya Minang. Di kampung halaman saya, biasa saja melihat Niniak Mamak (penghulu adat) pakai baju hitam-hitam saat pesta adat. Bahkan baju pengantin pun ada yang hitam. Kalau di tradisi Tionghoa, hitam itu warna duka.
Bayangkan kalau kami tidak saling paham. Tidak saling mengerti. Ngotot bahwa caramu lah yang benar. Bisa perang dunia ketiga cuma gara-gara salah kostum! Inilah seni keluarga multikultural: kita belajar bahwa makna simbol itu tidak universal, tapi kontekstual.
Feng Shui vs Alam Takambang Jadi Guru
Bukan cuma soal rendang vs babi panggang. Perbedaan pola pikir juga terasa kental.
Saudara-saudara Tionghoa percaya banget kalau rejeki itu kombinasi takdir Tuhan, kerja keras, dan… tata letak pintu! Ya, Feng Shui. Posisi meja kasir bisa menentukan omzet. Riset psikologi lingkungan memang mendukung bahwa tata ruang mempengaruhi mood dan produktivitas, jadi ini bukan sekadar mistis.
Sementara di Minangkabau? Walau rumah gadang dibangun dengan perhitungan rumit, filosofinya adalah Alam Takambang Jadi Guru (Alam terbentang menjadi guru). Kami belajar dari alam untuk beradaptasi, bukan takut pintu menghalangi rejeki.
Kesimpulan: Jangan Jadi Picik!
Setiap episode kehidupan, baik dalam pernikahan beda etnis maupun interaksi sosial, bisa kita pahami secara semesta.
Masalah muncul ketika kita mengambil satu fragmen kecil, lalu mengklaimnya sebagai kebenaran mutlak satu jagat raya. Itu definisi picik yang sesungguhnya!
Mari rayakan perbedaan. Karena kalau semua orang sama, dunia ini bakal membosankan, bukan?
eviindrawanto.com
