Key Takeaways
- Perkawinan Adat Dayak Maanyan, khususnya Bagunung Perak, adalah tradisi budaya yang penuh makna, melibatkan tata cara unik dan simbolik.
- Ritual Natas Banyang mengharuskan mempelai pria memutuskan rintangan sebagai simbol komitmen dan perlindungan bagi keluarga.
- Pengantin mengenakan busana cerah dengan hiasan berkilau, menciptakan suasana sakral dan magis selama perayaan.
- Tamu diundang untuk berpartisipasi dalam perayaan, menghilangkan batas antara penonton dan partisipan.
- Tips berkunjung termasuk menghormati adat, berpakaian sopan, dan meminta izin saat memotret.
Teman-teman, pernahkah membayangkan menghadiri sebuah pesta pernikahan di mana pengantinnya tampak seperti “gunung” yang berkilauan perak?
Suara gong bertalu-talu menyambut kedatangan saya di Desa Adat Warukin, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Di sini, di tengah kehangatan Suku Dayak Maanyan, saya menjadi saksi sebuah peristiwa budaya yang langka dan menakjubkan. Bukan sekadar resepsi biasa, ini adalah Perkawinan Adat Dayak Maanyan dengan tingkatan tertinggi yang disebut Bagunung Perak.
Sebuah kehormatan luar biasa bisa melihat langsung tradisi yang mungkin tidak digelar setiap tahun ini. Mari saya ajak kalian menelusuri keunikan prosesi sakral ini.
Mengenal Sejarah dan Makna Bagunung Perak
Sebelum masuk ke cerita keseruan di lapangan, mari kita gali sedikit deep research tentang apa itu sebenarnya Bagunung Perak.
Dalam struktur sosial dan Hukum Adat Dayak Maanyan, pernikahan memiliki beberapa tingkatan. Bagunung Perak adalah level tertinggi—sebuah simbol prestise, kemakmuran, dan penghormatan leluhur yang luar biasa. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada dekorasi pelaminan dan busana pengantin yang gemerlap bak gunung perak.
Menurut kepercayaan setempat, “Gunung Perak” menyimbolkan pohon kehidupan yang berbuah emas dan perak. Ini adalah manifestasi doa tertinggi agar kedua mempelai mendapatkan rezeki melimpah, kebahagiaan kekal, dan kehidupan yang “dingin” (sejuk/damai). Menggelar Perkawinan Adat Dayak Maanyan Bagunung Perak bukan perkara mudah; prosesinya bisa memakan waktu berbulan-bulan, mulai dari ngantane (lamaran), adu pamupuh (pertunangan), hingga puncak resepsi.
Detik-Detik Natas Banyang: Memutus Rintangan
Salah satu momen paling mendebarkan dalam Perkawinan Adat Dayak Maanyan adalah ritual Natas Banyang. Saat saya berada di sana, suasana begitu magis.
Natas Banyang adalah prosesi di mana rombongan mempelai pria “dihadang” sebelum memasuki rumah mempelai wanita. Sebuah rintangan (biasanya batang tebu atau kain) dipasang melintang. Bukan sekadar drama, ini adalah simbol perjuangan. Mempelai pria, didampingi tetua adat, harus memotong (natas) penghalang tersebut dengan parang mandau.
Maknanya sangat dalam: sang suami siap membuang sial, memutus segala rintangan, dan melindungi keluarganya dari marabahaya di masa depan. Sorak sorai warga pecah saat batang tebu itu terputus. Ah, merinding rasanya!
Menari Bersama Warga Warukin
Keseruan tidak berhenti di situ. Dalam tradisi Desa Warukin, tamu bukan hanya penonton, tapi bagian dari perayaan. Saya ingat betul ada momen di mana penari adat menarik selendang dan “menangkap” tamu untuk ikut menari (munsyur).
Diiringi musik gamelan Dayak yang khas, tua muda, warga lokal maupun pendatang seperti saya, lebur dalam sukacita. Tidak ada sekat. Inilah wajah asli keramahan Indonesia yang ada di tanah Borneo.
Keunikan Busana dan Pelaminan
Mata saya tak henti-hentinya mengagumi detail visual acara ini. Pengantin Bagunung Perak mengenakan busana yang sangat distingtif. Hiasan kepala yang menjulang, ornamen manik-manik, dan dominasi warna-warna cerah berpadu dengan kilau perak.
Di Balai Adat Warukin, pelaminan ditata sedemikian rupa hingga menyerupai gunung harta karun. Bagi teman-teman pecinta fotografi budaya, momen ini adalah surga visual. Setiap sudutnya bercerita tentang kekayaan filosofi Suku Dayak Maanyan.
Baca juga:
Cara Menuju Desa Adat Warukin, Tabalong
Tertarik menyaksikan langsung atau sekadar berwisata budaya ke sini? Berikut panduan cara menuju ke sana:
- Via Udara: Terbanglah menuju Bandara Syamsudin Noor (BDJ) di Banjarbaru/Banjarmasin. Ini adalah pintu gerbang utama ke Kalimantan Selatan.
- Perjalanan Darat: Dari Banjarmasin, teman-teman harus menempuh perjalanan darat ke arah utara menuju Kabupaten Tabalong (Tanjung). Waktu tempuhnya sekitar 4-5 jam melewati jalan Trans Kalimantan yang relatif mulus.
- Menuju Lokasi: Desa Warukin terletak di Kecamatan Tanta, tidak jauh dari pusat kota Tanjung. Kalian bisa menggunakan google maps atau bertanya pada warga lokal yang sangat ramah.
(Catatan: Ada Bandara Warukin di Tanjung, namun jadwal penerbangan komersial sering berubah-ubah/terbatas. Opsi via Banjarmasin lebih aman dan fleksibel).
Tips Berkunjung ke Pernikahan Adat Dayak
Agar pengalaman wisata budaya kalian maksimal dan tetap menghormati tuan rumah, simak tips berikut:
- Hormati Adat: Jika diajak menari atau minum tuak (biasanya simbolis), terimalah dengan sopan. Jika tidak minum alkohol, cukup sentuhkan bibir atau gelas sebagai tanda penghormatan.
- Pakaian: Gunakan pakaian yang sopan dan nyaman. Udara di Tabalong bisa cukup panas.
- Bertanya Sebelum Memotret: Meski mereka ramah, selalu minta izin saat ingin memotret wajah tetua adat atau benda-benda pusaka tertentu.
- Siapkan Uang Kecil: Terkadang ada ritual saweran atau sumbangan sukarela untuk penari sebagai bentuk apresiasi.
Menyaksikan Perkawinan Adat Dayak Maanyan Bagunung Perak adalah pengalaman sekali seumur hidup yang membuka mata saya tentang betapa kayanya negeri ini. Semoga tradisi ini tetap lestari di tengah gempuran zaman.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya, Teman-teman!
Foto-Foto
Video Adat Perkawinan Dayak Maanyan Warukin
Baca juga :
Pentingnya Manik-Manik Bagi Suku Dayak
Mengenal Tradisi Suku Sasak di Dusun Ende Lombok

Salam, Evi








