
Sobat JEI, pernah tidak dimarahi anak sendiri gara-gara bertanya terlalu detail? Memahami perbedaan rasa ingin tahu dan kepo itu ternyata penting, lho. Kadang batasnya setipis kulit bawang. Di satu sisi, kita ingin peduli. Di sisi lain, anak-anak malah merasa kita seperti “wartawan infotainment” yang sedang mengorek aib.
Artikel ini akan membahas bagaimana menyeimbangkan naluri investigasi seorang ibu dengan etika privasi. Kita juga akan belajar dari tokoh besar seperti Napoleon dan Einstein. Ternyata, perbedaan rasa ingin tahu dan kepo bukan sekadar soal tata krama, tapi juga tentang menjaga kesehatan otak dan kualitas jiwa. Yuk, kita bedah!
Mengapa Anak Sering Risih dengan Pertanyaan Detail?
Saya sering kena semprot anak-anak. Misalnya, saat mereka cerita teman yang menangis di sekolah. Naluri saya langsung bekerja. Pertanyaan saya tidak berhenti di “mengapa”. Saya memberondong mereka dengan: “Biasanya dia murung nggak? Akrab sama siapa? Mamanya kerja apa?”
Awalnya mereka menjawab. Lama-lama, mereka jengkel. “Ah Mama ini apa sih? Mama tanya saja sendiri! Mama kayak wartawan!”
Menurut Diane Baumrind, psikolog perkembangan dari University of California, gaya pengasuhan yang terlalu intrusif (banyak bertanya hal pribadi) bisa membuat anak merasa otonominya terancam. Anak-anak, terutama remaja, sedang membangun benteng privasi mereka sendiri.
Pertanyaan beruntun kita sering mereka artikan sebagai interogasi, bukan perhatian. Inilah titik awal kita harus paham perbedaan rasa ingin tahu dan kepo. Rasa ingin tahu berfokus pada pemahaman situasi, sedangkan kepo sering kali meluber ke wilayah yang tidak relevan dengan solusi.
Memahami Perbedaan Rasa Ingin Tahu dan Kepo Secara Ilmiah
Jadi, di mana batasnya? Mari kita lihat pendapat ahli. Todd Kashdan, peneliti curiosity dan penulis buku Curious?, mendefinisikan rasa ingin tahu (curiosity) sebagai keinginan intrinsik untuk belajar dan memahami dunia. Ini adalah energi positif.
Sebaliknya, ‘kepo’ (dalam bahasa gaul) atau nosiness lebih mengarah pada social comparison atau gosip. Riset dari University of Amsterdam menunjukkan bahwa gosip sering kali didorong oleh keinginan untuk menilai moralitas orang lain, bukan untuk belajar.
Tanda-Tanda Kita Mulai Kepo, Bukan Peduli:
- Fokus pada Aib: Kita lebih tertarik pada masalah pribadi orang lain (seperti pekerjaan orang tua teman anak) daripada kondisi emosional anak kita.
- Informasi Tidak Relevan: Data yang kita minta tidak membantu menyelesaikan masalah.
- Membuat Orang Tidak Nyaman: Lawan bicara (anak) mulai menjawab dengan ketus atau menghindar.
Mengetahui apa yang terjadi pada orang lain memang memberi perspektif. Tapi, Sobat JEI harus ingat batas-batas privasi. Kita bukan wartawan gosip yang berkewajiban mengorek hal yang disembunyikan orang.
Belajar dari Kekalahan: Napoleon dan Rasa Ingin Tahu Intelektual
Rasa ingin tahu sebaiknya kita arahkan seperti cara Napoleon Bonaparte menggunakan otaknya. Ini contoh menarik tentang perbedaan rasa ingin tahu dan kepo dalam konteks sejarah.
Setelah kalah di perang Waterloo dan turun takhta, Napoleon menyerahkan diri ke Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) di atas kapal HMS Bellerophon. Apakah dia meratapi nasib di pojokan? Tidak.
Menurut catatan Captain Frederick Maitland (komandan kapal tersebut), mata Napoleon langsung jelalatan. Dia mengamati peralatan canggih di kapal musuh yang telah mengalahkan pasukannya di Trafalgar. Napoleon tidak ragu bertanya fungsi setiap alat tersebut.
Ini adalah wujud Growth Mindset yang dipopulerkan oleh Carol Dweck. Meski kalah, Napoleon tetap ingin belajar. Dia tidak kepo soal “siapa pacar kapten kapal”, tapi dia penasaran “teknologi apa yang membuat saya kalah”. Dia mengubah kegagalan menjadi data. Sudut pandang ini jauh lebih berharga daripada sekadar merutuki nasib.
Apakah Ibu Rumah Tangga Masih Perlu Punya Holy Curiosity?
Sering muncul pertanyaan di hati saya. “Buat apa sih cari tahu ini itu? Apa tidak lebih baik fokus ibadah saja mengingat usia?” Bukankah masa eksplorasi sudah lewat?
Namun, perbedaan rasa ingin tahu dan kepo juga berlaku di sini. Kepo pada urusan tetangga memang tidak bermanfaat. Tapi rasa ingin tahu pada ilmu pengetahuan? Itu wajib.
Albert Einstein pernah berkata, “The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing.” Dia menyebutnya sebagai holy curiosity.
Secara biologis, ahli saraf Dr. Tara Swart menjelaskan bahwa mempelajari hal baru (neuroplastisitas) menjaga otak tetap muda dan mencegah demensia. Jadi, saat Sobat JEI mencari tahu tentang sejarah peradaban atau teknologi terbaru lewat Google, Anda sedang melakukan senam otak.
Mempersoalkan struktur realita mungkin tidak langsung membantu kita memasak sayur lodeh. Tapi, mengetahui hal-hal yang jarang dipikirkan kebanyakan orang itu menghibur jiwa. Ini memberi jarak yang jelas antara “kepo urusan orang” dengan “petualangan intelektual”.
Hindari Menjadi Predator Pengetahuan
Pada akhirnya, perbedaan rasa ingin tahu dan kepo bermuara pada niat. Pengetahuan bisa membuat kita bijak, tapi bisa juga membuat kita sombong.
Jangan sampai kita menjadi “predator pengetahuan”—orang yang tahu banyak hal hanya untuk merasa lebih hebat dari orang lain. Socrates, filsuf Yunani kuno, justru merasa paling bijak karena dia sadar bahwa dia “tidak tahu apa-apa”.
Jadi Sobat JEI, teruslah bertanya. Jadilah seperti Napoleon yang belajar dari musuhnya, atau Einstein yang takjub pada semesta. Tapi ingat, rem sedikit mulut kita saat bertanya pada anak tentang privasi temannya. Biarkan rasa ingin tahu kita terbang ke angkasa, bukan mengintip ke balik jendela tetangga.
eviindrawanto.com
