Sobat JEI, mitos Pantai Karang Hawu bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan daya tarik utama yang memikat ribuan wisatawan ke Pelabuhan Ratu setiap tahunnya. Terletak di pesisir selatan Sukabumi, pantai ini menawarkan paket lengkap: formasi karang unik menyerupai tungku, deburan ombak Samudera Hindia yang gagah, sejarah Pantai Karang hawu hingga kisah mistis Nyi Roro Kidul yang melegenda.
Dalam artikel ini, Sobat JEI akan menemukan ulasan mendalam mengenai asal-usul nama, pengalaman kuliner seafood segar, pertemuan tak terduga yang menyentuh hati, hingga panduan praktis menuju lokasi. Mari kita telusuri perpaduan keindahan alam dan misteri budaya ini.
Sejarah Pantai Karang Hawu dan Tinjauan Geologis
Nama tempat ini memiliki makna harfiah yang kuat. Dalam Bahasa Sunda, “Hawu” berarti tungku atau dapur tradisional. Sejarah Pantai Karang Hawu mencatat bahwa penamaan ini berasal dari gugusan karang di tepi pantai yang berlubang-lubang dan menjorok ke laut, menyerupai bentuk tungku.
Menurut tinjauan geologi, formasi batuan ini terbentuk akibat proses abrasi laut yang intensif selama ribuan tahun serta aktivitas vulkanik purba. Ahli Geologi dari Universitas Padjadjaran sering menyebut kawasan Ciletuh-Pelabuhan Ratu sebagai laboratorium alam. Batuan karang di sini adalah bukti nyata kuatnya tenaga endogen dan eksogen bumi yang membentuk lanskap dramatis. Jadi, lubang-lubang “hawu” tersebut adalah mahakarya alam, bukan buatan manusia.
Perjalanan Menuju Pesisir Selatan
Matahari sedang terik-teriknya saat kami melintas di jalan raya Cisolok-Pelabuhan Ratu. Di sisi kanan, Pantai Karang Hawu membentang memamerkan pesonanya.
Jika lalu lintas lancar, Serpong mungkin bisa kami tempuh dalam 3 jam. Namun, jalur Sukabumi-Jakarta sudah lama terkenal dengan kemacetannya. Jembatan rusak dan volume kendaraan tinggi seringkali tanpa solusi cepat. Membayangkan sampai rumah larut malam membuat pemandangan pantai di sebelah kami terlihat makin cantik—sebuah pelarian sempurna sejenak.
Sobat JEI harus coba! Laut biru berkilat di bawah cahaya matahari. Ombak sesekali menyapu pasir kecoklatan, pecah dengan buih lembut. Angin laut membelai dedaunan kelapa, membawa ketenangan di tengah hiruk-pikuk jalur selatan.
Wisata Kuliner: Menikmati Laut di Atas Piring
Siang itu, perut kami mulai berontak. Warung-warung kelapa muda berjejer menggoda iman. Siapa yang sanggup menolak godaan berhenti sejenak menikmati mitos Pantai Karang Hawu sambil menyantap hidangan laut?
Kami memutuskan melipir. Walau hari kerja, parkiran tetap penuh mobil dan motor. Kerumunan orang di tepi laut membuktikan bahwa pantai yang lekat dengan cerita Nyi Roro Kidul ini memang primadona wisata Sukabumi sepanjang masa.
Pilihan kami jatuh pada warung seafood tak jauh dari parkiran. Lokasinya strategis, dekat dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Ratu. Artinya, ikan di sini punya rantai distribusi pendek alias sangat segar.
Menu kami sederhana: ikan bakar dan ikan goreng. Cumi saus padang yang biasanya jadi favorit terpaksa kami hindari demi menjaga kolesterol. Bagi Sobat JEI yang peduli kesehatan, dr. Zaidul Akbar sering menyarankan untuk menyeimbangkan asupan protein hewani dengan sayuran segar atau rimpang untuk menetralisir lemak jenuh. Tapi hari ini, biarlah kami menikmati ikan segar ini dulu.
Pertemuan dengan Tamu Tak Diundang
Usai makan, kami pindah ke warung es kelapa muda. Di bawah terpal biru dan bangku kayu tua, kami menikmati angin pantai. Tiba-tiba, sesosok pria berpakaian lusuh, bertubuh legam, dan berambut gimbal berdiri di depan kami.
Insting waspada sempat muncul. Namun, Bapak itu dengan sopan menyodorkan cangkir plastik, meminta kopi. Karena suami tidak merokok, kami membelikan kopi dan mie rebus. Ia menerimanya, lalu membungkuk hormat layaknya orang Jepang, tanpa kata, lalu berlalu.
Sikap sopannya menyadarkan saya. Ia bukan orang jahat. Punggungnya yang menjauh mengingatkan saya pada Mulyadi, kawan masa kecil yang hilang karena depresi berat tahun 1997. Mungkin Bapak itu adalah satu dari sekian banyak orang yang “kalah” oleh kerasnya hidup dan kurangnya kehadiran negara dalam merangkul ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Momen ini mengajarkan empati mendalam di tengah liburan kami.
- Dalam salah satu pos Travel Blog Evi Indrawanto saya menulis tentang Jalan-Jalan ke Petilasan Nyi Roro Kidul.
Legenda Pantai Karang Hawu dan Nyi Roro Kidul
Sobat JEI, bagian ini adalah inti dari daya tarik mistis kawasan ini. Legenda Pantai Karang Hawu sangat erat kaitannya dengan sosok Nyi Roro Kidul.
Masyarakat setempat percaya bahwa tebing karang di pantai ini adalah tempat Dewi Kadita (nama asli Nyi Roro Kidul) menceburkan diri ke laut.
Versi Populer Cerita Rakyat
Konon, Dewi Kadita adalah putri Prabu Siliwangi yang sangat cantik. Karena intrik istana dan guna-guna, ia menderita penyakit kulit parah. Frustrasi karena tak kunjung sembuh, sang putri mendapat wangsit untuk terjun ke laut selatan.
Ajaibnya, penyakitnya sembuh, namun ia tidak bisa kembali ke darat dan menjadi penguasa laut selatan. Antropolog melihat mitos ini sebagai local wisdom atau kearifan lokal. Cerita ini secara tidak langsung menjaga kelestarian alam, karena orang menjadi takut (segan) untuk merusak area yang dianggap keramat.
Sayangnya, kesadaran menjaga lingkungan belum sepenuhnya merata. Sampah dan coretan vandalisme masih terlihat di beberapa titik batuan karang. Padahal, ini adalah aset negara dan warisan geologis yang harus kita jaga bersama.
Lokasi, Rute, dan Harga Tiket Masuk
Bagi Sobat JEI yang ingin membuktikan sendiri keindahan dan aura mistisnya, berikut panduan lengkapnya:
Alamat dan Rute
Pantai Karang Hawu terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Lokasinya berada di garis pantai yang sama dengan Pantai Pelabuhan Ratu, Cibangban, dan Cimaja.
- Jarak: Sekitar 73 km dari pusat Kota Sukabumi.
- Navigasi: Sobat JEI cukup ketik “Pantai Karang Hawu” di Google Maps. Akses jalan sudah aspal mulus dan mudah dijangkau kendaraan roda dua maupun empat.
Harga Tiket Masuk (Estimasi Terbaru)
- Tiket Masuk: Rp5.000 per orang (bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan Pemda).
- Parkir: Motor Rp2.000 – Rp5.000, Mobil Rp5.000 – Rp10.000.
Jadi, kapan Sobat JEI akan berkunjung dan melihat langsung formasi “tungku” alami di sini?
Baca juga Hotel Nyi Roro Kidul di Pelabuhan Ratu
