Menyapa Musim Gugur di Ponsonby Central, Menyisir Union Street di Malam Pertama yang Hangat di Auckland.

Halo, Sobat JEI! Kalian setujukan kalau perjalanan panjang melintasi benua selalu menyisakan lelah. Hanya karena antisipasi yang menyenangkan dari tempat yang baru, selalu berhasil mengalahkan segalanya, ya kan? Nah, setelah menempuh penerbangan selama 10 jam dari Singapura, akhirnya sekitar pukul satu siang waktu setempat, kami menjejakkan kaki di Auckland, Selandia Baru. Yeay! Selamat datang petualangan baru!
Bertemu Host AirBnB yang Ramah
Kami tidak ikutan group tour. Anak kami yang menyiapkan segalanya, dari hunting tiket murah, menyusun itinerary, sampai mencari penginapan sesuai budget pada petualangan benua selatan ini. Tahu mak-bapaknya sudah lansia, hari pertama tidak digeber rute yang berat. Alih-alih kami singgah terlebih dahulu di Airbnb yang berlokasi di sebuah apartemen di pusat kota. Host-nya ramah banget. Dia bahkan menunggu kami sejak di tepi jalan menuju apartemen.
Mungkin sikap jaga-jaga dan SOP keamanan versi dia juga. Cek dulu tamunya sebelum mengijinkan masuk ke dalam propertinya. Tapi senyumnya yang ramah dan matanya yang berbinar-binar menunjukan cara masuk ke tempat parkir dan apa saja yang perlu dikalukan sebelum membuka kunci, itu sangat memudahkan sekali bagi kami yang kelelahan.

Selama 15 hari di NZ, hanya dia satu-satunya Host yang menemui kami secara face to face. Sisanya dilalukan lewat chats di aplikasi maupun lewat WA.
Dan ternyata apartemen ibu yang ramah itu di dalamnya sangat cantik. Dua kamar tidur, satu kamar mandi, meja makan, dan dapur dengan perlengkapan masak yang lengkap. Kami mendiami lantai 3 dengan beranda menghadap ke kota dan tampak laut di kejauhan.
Selesai check-in, bersih-bersih, dan menyegarkan diri, rasanya energi untuk mulai bereksplorasi kembali terisi penuh. Tujuan pertama kami sore itu? Cari makan malam di Ponsonby, salah satu kawasan paling trendi di Auckland.
Berjalan di Bawah Daun Maple dan Udara Musim Gugur

Kami berkunjung pada pertengahan bulan Maret. Bagi Selandia Baru, ini adalah penanda bahwa autumn atau musim gugur sudah tiba.
Keluar dari area parkir kita perlu berjalan sedikit menuju Ponsoby Central. Alhamdulillah udara dingin yang sejuk langsung menyapa kulit, merasa tidak akan capek berjalan kaki saat itu. Daun-daun tanaman Boston Ivy yang merambati dinding gedung parkiran sudah mulai memerah. Sementara pepohonan maple di sepanjang jalan sudah mulai memamerkan daun-daun yang berubah hijau kekuningan.
Suasananya begitu romantis dan menenangkan. Saya dan suami beberapa kali saling berpandang. Kadang kami bergandengan tangan seperti di Drakor. Karena ini adalah pengalaman pertama, memandang musim gugur langsung di negara empat musim seperti ini memang bikin sel-sel tubuh tua kami berteriak kegirangan.
Ohya, anak saya memarkir mobil di sebuah area parkir bersistem self-service (layanan mandiri) yang praktis. Keluarnya nanti juga seperti itu. Benaran hemat banget di tenaga kerja.
Menyusuri Jalanan Kota dengan Jalan Kaki

Nah jalan di sepanjang jalan Union Street dengan trotoar lebar dan bebas pedagang kaki lima, mata dimanjakan oleh deretan kafe dengan arsitektur menawan yang saling bersebelahan. Kalau dari baca-baca pengalaman orang lain, di malam hari, kawasan ini benar-benar hidup dan memancarkan vibe urban kece habis. Untuk yang hobi fotografi, malam hari di sini benar-benar estetik.
Sayangnya saat kami sampai di sana waktu baru menunjukan pukul setengah delapan malam. Jam segitu di musim gugur Aukland masih terang benderang. Auranya seperti pukul 4 sore di Serpong. Jadi gak heran, jalan-jalan masih kelihatan sunyi.
Hanya beberapa cafe dan yang sudah buka, diisi oleh warga lokal yang asik menikmati kopi atau bir sambil ngobrol antah berantah. Sekalipun udara sudah menggigilkan untuk saya, saya perhatikan warga lokal masih mengenak kaos dan bahkan cewek-ceweknya masih ada yang ber-tanktop. Ah mungkin mereka sudah terbiasa, ujar suami saya.
Menjelajah Ponsonby Central
Langkah kemudian membawa kami masuk ke sebuah area bernama Ponsonby Central. Konsep tempat ini sangat menarik—sekilas mengingatkan kita pada sebuah food court di tanah air. Deretan resto berkonsep pasar kuliner modern industrial, kita akan dipertemukan oleh aneka pilihan makanan dari berbagai penjuru dunia—mulai dari kelezatan burger di Burger Burger, hidangan Tiongkok-Pasifik di Blue Breeze Inn, hingga piza otentik dan berbagai kedai pastry.
Ada juga pasar kuliner modern bergaya terbuka, tetapi dengan sentuhan desain industrial bercampur unsur tradisional khas suku Maori, eksposnya sungguh Instagrammable.
Bagi Sobat JEI yang suka mencari tempat nongkrong atau sekadar hunting foto-foto cantik, sambil menikmati hidangan khas Aukland tempat ini adalah surga. Lebih ke dalam, terdapat berbagai macam pilihan kuliner dari seluruh penjuru dunia, mulai dari kedai kopi artisan, burger, hingga makanan Amerika Latin.
Makan Malam Hangat Penutup Hari

Karena udara yang semakin dingin, kami tidak bisa berlama-lama berjalan kaki menikmati suasana menjelang malam itu. Terutama saya, rasanya lelah sekali. Sampai-sampai kaki rasanya sudah tidak menginjak tanah dan beberapa kali tersandung. Kaget juga menyadari penurunan fisik ini, umur benaran tidak bohong.
Salain itu semua sepakat bahwa perut pun terakhir di isi di pesawat. Benaran di jam segitu mereka teriak-teriak minta isi ulang. Setelah berkeliling dan menimbang-nimbang pilihan menu makan malam, pandangan kami tertuju pada Yuzu Japanese Cuisine yang dari penampilan luar saja sudah menawarkan ke hangatan.
Keputusan yang sangat tepat! Sajian hangat dari restoran tersebut ternyata sangat cocok dan pas dengan selera lidah kami. Bumbunya terasa familier dan menghangatkan badan. Meski begitu, ada sedikit realita yang harus dihadapi saat liburan di Selandia Baru: harganya terasa lumayan mahal jika iseng-iseng kita konversikan ke dalam Rupiah. Tetapi untuk kualitas rasa dan pengalaman makan malam pertama yang memuaskan di Auckland, hidangan tersebut sangat sepadan.
Tips Tambahan untuk Sobat JEI:
- Bawa Jaket yang Tepat: Jika berkunjung di bulan Maret seperti kami, pastikan pakaian penahan dingin sudah siap karena angin musim gugurnya lumayan menusuk.
- Siapkan Kartu Pembayaran: Hampir semua fasilitas di sini, termasuk parkir mandiri dan kedai makanan, lebih banyak menggunakan sistem pembayaran cashless.
Malam pertama di Auckland ditutup dengan perut kenyang dan rasa kantuk yang mengherankan. Karena beda waktu WIB dan Selandia Baru di awal musim gugur 6 jam (lebih dulu 6 jam), heran juga saya tidak merasakan gejala jet lag sama sekali. Begitu balik ke penginapan dan membersihkan diri, saya langsung tertidur pulas sampai sekitar jam 4 subuh.
Mungkin kelelahan akut itu penyebabnya. Tapi lain cerita keesokan malamnya, mata ini malah susah banget terpicing, baru saat itu lah gejala jet lag muncul. Tapi tiga hari kemudian, jam biologis saya sudah bisa mengikuti ritme waktu di sana.
Demikian sekelumit pengalaman saya menyapa musim gugur di Ponsonby Central, Aukland. Tunggu cerita petualangan kami selanjutnya, ya!
eviindrawanto.com
