
Meningkatkan keterampilan komunikasi adalah kunci kewarasan kita. Tulisan ini merangkum keluh kesah saya menghadapi pesan awang-awang, sekaligus membagikan tips komunikasi efektif di tengah kesibukan mengurus rumah tangga, slow travel dan mengurus bisnis. Terkadang, sebuah pesan yang terlalu kabur hanya akan berakhir di tong sampah digital saya. Mari kita bahas mengapa komunikasi spesifik itu sangat penting, Sobat JEI.
Lelahnya Menebak Pesan Saat Sedang Sibuk
Pernahkah Sobat JEI sedang asyik menikmati perjalanan, atau sedang memikirkan sesuatu, lalu masuk pesan WhatsApp berbunyi, “Ajarin bisnis dong, Senior?” Atau mungkin kamu membaca email dari seseorang yang kamu kenal yang isinya keluhan panjang tanpa menyebutkan inti masalahnya?
Dalam tujuh hari terakhir, saya menemukan kedua tipe orang ini. Alih-alih membalas, saya justru mengabaikan email dan pesan WA mereka. Bukannya sombong, saya hanya kekurangan energi. Lagi asyik mencari inspirasi pemandangan, bikin tulisan, menyelesaikan pekerjaan kantor, malah mereka suruh main tebak-tebakan isi hati.
Riset dari McKinsey Global Institute (2023) mencatat bahwa komunikasi internal yang tidak terarah membuang sekitar 20-25% waktu produktif seseorang. Fakta ini membuktikan bahwa meningkatkan keterampilan komunikasi sangat berdampak pada efisiensi waktu dan energi mental kita.
Mengapa Kita Butuh Tips Komunikasi Efektif?
Di tengah tumpukan pekerjaan dan jadwal traveling, memikirkan tulisan traveling untuk blog, menerka-nerka maksud orang lain sungguh menyita waktu. Saya sangat menghindari asumsi. Saya juga tidak suka terhadap sesuatu yang sulit terbentuk dalam pikiran.
Pakar psikologi dan pengembangan diri, Anthony Robbins, sering mengingatkan bahwa cara kita berkomunikasi menentukan kualitas hidup kita. Jika bentuk pesannya saja sudah samar, meresponsnya pasti butuh energi ganda. Oleh karena itu, kita semua wajib mempraktikkan tips komunikasi efektif agar interaksi berjalan lancar tanpa membuat lawan bicara sakit kepala.
Pentingnya Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Secara Konkret
Menerima komunikasi yang bertele-tele memerlukan pemikiran abstrak. Ketika pesan abstrak itu terlalu sukar saya bayangkan, saya lebih suka membiarkan duri tetap dalam daging. Saya tidak punya waktu mengejar bayangan yang tidak berbentuk sama sekali.
Penelitian kognitif dari American Psychological Association menunjukkan otak manusia memproses instruksi konkret 30% lebih cepat daripada konsep abstrak. Pantas saja kan jika saya cepat lelah kalau membaca pesan basa-basi! Terus terang, membalas pesan yang langsung ke sasaran jauh lebih menyegarkan seperti menyeruput kopi Toraja di pagi hari.
Spesifik adalah Kunci: Dari Gula Semut hingga Perjalanan
Sebut saja saya punya karakter tidak sabaran. Sifat ini sama persis dengan ketidaksabaran saya saat menunggu aliran ide keluar untuk blog ini. Namun, saya jauh lebih berbakat menanggapi komunikasi yang spesifik.
Tentu saja, saya belum ahli sepenuhnya dalam berbisnis. Tapi, saya bisa menawarkan ide brilian kalau kamu membingkai pertanyaanmu dengan baik. Pakar komunikasi bisnis terkemuka, Dr. Albert Mehrabian, menegaskan bahwa kejelasan niat menentukan kesuksesan sebuah penyampaian pesan.
Ketimbang menanyakan bagaimana prospek bisnis secara umum selama krisis global, pertanyaannya bisa kamu ubah. Bertanyalah bagaimana prospek bisnis gula semut selama krisis berlangsung. Atau, tanyakan bagaimana membagi waktu antara mengurus operasional Arenga dan menulis catatan traveling. Pertanyaan berbingkai spesifik seperti ini justru mengundang diskusi yang berbobot dan menyenangkan.
eviindrawanto.com
