
Meningkatkan ide menulis blog traveling kadang butuh sedikit kewarasan ekstra, Sobat JEI. Malam ini, saya malah kebanjiran gagasan sampai bingung mau menangkap yang mana untuk mulai merangkai kata. Tulisan ini merangkum curhat singkat soal mengatasi kebuntuan ide, membuktikan bahwa blog traveling tak hanya soal destinasi, serta mengulik manfaat blog traveling untuk yang akan memulai perjalanan wisata. Mari kita jinakkan ide-ide liar ini bersama-sama!
Peternakan Ide yang Bocor
Sejak tadi saya cuma nangkring di depan layar komputer. Saya sungguh ingin menulis sesuatu. Namun, tak ada satu pun ide yang mau berbaik hati saya jinakkan. Alih-alih duduk tenang, saya malah asyik berselancar tanpa arah di internet.
Sejujurnya, saya bukan kehilangan ide. Saya sedang “kemelesek” alias kelebihan muatan di kepala. Kondisi fisik juga sedang lelah. Suami tidak di rumah, saya bekerja sendirian, dan energi batin rasanya terkuras habis. Kalian pasti maklum bila tenaga saya tidak bersisa untuk menyabarkan diri sendiri.
Akhirnya, saya membiarkan pintu peternakan ide ini terbuka lebar. Hasilnya? Hewan-hewan kalap di dalamnya berhamburan keluar. Pikiran saya melompat liar tanpa kendali persis seperti kuda Sumbawa! Hehehe.
Penulis Elizabeth Gilbert dalam bukunya Big Magic menyebut ide sebagai entitas hidup yang akan kabur kalau kita abaikan. Jadi, ketika energi penulis sedang habis, wajar saja ide-ide itu memberontak dan berlarian mencari perhatian.
Blog Traveling Tak Hanya Soal Destinasi
Awalnya, saya berniat menulis draf tentang sasaran hidup 1 sampai 3 tahun ke depan. Menurut Anthony Robbins, kita harus memulai kemenangan dari awal niatnya. Supaya mimpi mendaki gunung atau melintasi samudera lekas tercapai, saya perlu membuat rencana tertulis yang jelas.
Tapi, baru menulis beberapa baris, saya langsung tergoda membaca ulang. Tiba-tiba ada suara sumbang di kepala berteriak, “Ah, apa sih? Masa menulis hasrat yang amat pribadi di blog? Jangan kekanakan begitu deh!”
Menghadirkan tembok penghambat kemajuan memang luar biasa mudah. Saya akhirnya menghapus barisan kalimat tersebut. Ide membuat rencana hidup pun punah seketika, dan semangat saya langsung kempes.
Padahal, blog traveling tak hanya soal destinasi, Sobat JEI. Sebuah studi dari Journal of Travel Research (2021) membuktikan bahwa fase antisipasi atau perencanaan perjalanan (pre-trip) justru menyumbang lonjakan tingkat kebahagiaan tertinggi bagi seorang pelancong. Jadi, menuliskan mimpi dan rencana perjalanan di blog itu sangat valid secara psikologis!
Baca juga:
Menulis Tentang Tidak Punya Ide
Lalu, sekarang enaknya menulis apa? Tulis saja tentang apa saja. Bahkan, menulis tentang perasaan tidak punya ide pun bisa menjelma menjadi satu cerita yang seru.
Sayup-sayup saya teringat celotehan Pak Ersis. Saking seringnya berkunjung ke blognya, saya sepertinya mulai menjiplak cara berpikir pak dosen asal Minang yang terdampar di Kalimantan itu.
Pakar pemasaran digital Seth Godin selalu menekankan pentingnya showing up atau sekadar hadir setiap hari. Mengakui bahwa kita sedang buntu justru menampilkan sisi humanis kita sebagai pencerita. Pembaca menyukai kejujuran semacam ini.
Manfaat Blog Traveling untuk yang Akan Memulai Perjalanan Wisata
Waktu terus berlalu malam ini. Pikiran saya masih saja meloncat-loncat antara rencana mendaki gunung, melintasi samudera, hingga napak tilas jalur darat yang eksotis.
Sambil jalan-jalan di alam pikiran begini, saya menyadari betapa besarnya manfaat blog traveling untuk yang akan memulai perjalanan wisata. Saat kita menuliskan keraguan, persiapan fisik, hingga inventaris impian, kita sebenarnya sedang menyuguhkan panduan mental bagi pembaca.
Rolf Potts, penulis buku Vagabonding, meyakini bahwa membagikan proses merancang perjalanan jauh lebih menginspirasi orang lain daripada sekadar memamerkan foto di garis akhir. Calon pejalan butuh tahu bahwa kita juga sering pusing menyusun itinerary!
Meningkatkan Ide Menulis Blog Traveling dengan Kerangka Berpikir
Daripada pikiran mengembara tanpa arah di dunia maya, lebih enak kita berpikir menggunakan kerangka. Kita bisa menyontek kembali panduan dari buku Anthony Robbins.
Coba tanyakan rentetan pertanyaan ini pada diri sendiri: Untuk sisa waktu yang ada, saya ingin jadi apa? Ingin melakukan perjalanan ke mana? Ingin punya pengalaman apa? Terakhir, apa yang ingin saya bagikan kepada orang lain lewat blog ini?
Kerangka sederhana ini sangat ampuh untuk meningkatkan ide menulis blog traveling tanpa harus bingung memulai dari mana. Menulis jadi lebih terarah, dan impian jalan-jalan kita pelan-pelan menjadi nyata.
Bagaimana, Sobat JEI? Apakah kamu mau ikut mencoba merapikan peternakan idemu hari ini?
eviindrawanto.com
