
Mengenal cheongsam wanita ternyata membuka wawasan luas tentang sejarah mode Asia, Sobat JEI. Bukan sekadar busana merah untuk berburu angpao. Artikel ini mengupas tuntas evolusi pakaian tradisional wanita Tionghoa, mulai dari asal kata, perubahan desain ekstrem, hingga tren penggunaannya yang makin marak di Indonesia.
Asal Usul yang Mengejutkan
Cheongsam ternyata menyimpan sejarah gender yang unik. Saat mengenal cheongsam wanita lebih dalam, kita harus menengok ke masa lalu.
Dari Baju Pria Menjadi Ikon Wanita
Tahukah Sobat JEI? Cheongsam aslinya mengadopsi potongan baju pria. Dalam dialek Kantonis, ‘Cheong Sam’ secara harfiah berarti ‘baju panjang’.
Sejarah mencatat, busana ini mulai populer setelah Revolusi 1911 di Tiongkok. Hazel Clark, seorang sejarawan mode ternama, menyebutkan dalam studinya bahwa adopsi jubah pria oleh wanita pada masa itu adalah simbol emansipasi. Wanita ingin menunjukkan kesetaraan status dengan pria. Jadi, memakai cheongsam awalnya adalah pernyataan politik yang cukup berani, bukan sekadar ingin tampil cantik.
Revolusi Mode Shanghai
Perubahan besar terjadi pada tahun 1920-an di Shanghai. Pakaian tradisional wanita Tionghoa ini mengalami modifikasi total.
Para sosialita Shanghai mulai memadukan gaya tradisional dengan potongan Barat. Menurut peneliti budaya Tiongkok, Wessie Ling, periode ini melahirkan “Modern Qipao” yang lebih menonjolkan lekuk tubuh. Dulunya longgar dan menyembunyikan bentuk badan, kini berubah menjadi busana yang membalut tubuh dengan estetis. Transformasi ini membuktikan bahwa wanita Tionghoa sangat adaptif terhadap tren global sejak dulu.
Mengenal Cheongsam Wanita: Evolusi Desain dan Estetika
Perubahan desain cheongsam tidak terjadi dalam semalam. Ada detail-detail kecil yang dampaknya besar bagi penampilan Sobat JEI.
Permainan Panjang Baju
Awalnya, baju ini menjuntai panjang hingga menutup kaki. Namun, seiring waktu, panjangnya menyusut hingga sebatas lutut.
Perancang busana Han Feng berpendapat bahwa pemendekan ini berkaitan dengan mobilitas wanita modern yang semakin aktif. Bayangkan betapa repotnya mengejar bus kota atau MRT kalau bajunya masih menyapu jalanan. Pemendekan ini membuat pakaian tradisional wanita Tionghoa menjadi lebih praktis namun tetap elegan.
Misteri Kerah Tinggi
Salah satu ciri khas utama saat kita mengenal cheongsam wanita adalah kerahnya yang ikonik.
Mulanya, tinggi kerah hanya berkisar 3 hingga 4 cm. Namun, tren mode kemudian mendongkraknya hingga mencapai 7 cm. Ahli tata busana Tiongkok, Dr. Liu Yu, menjelaskan bahwa kerah tinggi memaksa pemakainya untuk menegakkan punggung dan mengangkat dagu. Efeknya? Postur tubuh terlihat lebih jenjang dan anggun secara instan. Meski mungkin sedikit “menyiksa” leher kalau menengok terlalu cepat, demi tampil mempesona, kenapa tidak?
Tren Penggunaan Masa Kini
Nasib cheongsam berbeda-beda di setiap negara tetangga kita, Sobat JEI.
Antara Malaysia dan Indonesia
Menurut artikel yang pernah saya baca, di Malaysia, pakaian tradisional wanita Tionghoa ini mulai jarang terlihat sebagai busana harian.
Berdasarkan pengamatan sosiolog budaya, generasi muda di sana cenderung lebih memilih mode Barat karena alasan kepraktisan. Namun, situasi berbeda justru terjadi di Indonesia. Di sini, Cheongsam makin marak kita jumpai. Tidak hanya saat Imlek, tapi juga di pesta pernikahan hingga acara formal lainnya. Desainer Indonesia sukses memadukan mengenal cheongsam wanita dengan sentuhan batik atau tenun, membuatnya makin relevan dan dicintai.
eviindrawanto.com
