
Poin Utama
- Masyarakat Indonesia menghadapi ketidakpercayaan, terlihat dari perilaku menyimpan barang di tempat ibadah.
- Ketidakpercayaan ini menciptakan ‘low trust society’, menyebabkan pemborosan energi untuk mengawasi daripada berinovasi.
- Ada contoh positif masyarakat kepercayaan tinggi di pedalaman Indonesia, di mana norma sosial kuat dan barang-barang dibiarkan tanpa pengawasan.
- Transformasi menuju masyarakat kepercayaan tinggi mungkin, dimulai dengan pendidikan diri dan tindakan kecil seperti ‘Kantin Kejujuran’.
- Untuk membangun masyarakat kepercayaan tinggi, kita harus menepati janji, jujur dalam transaksi, menghormati hak milik, dan menggunakan wewenang dengan benar.
Sobat JEI, kalau sedang ke masjid, apakah Sobat meletakkan sandal begitu saja di depan pintu? Atau Sobat tipe seperti saya? Tipe yang membungkus alas kaki ke dalam kantong plastik lalu menyimpannya di tempat aman?
Mungkin terdengar aneh. Mengapa di tempat ibadah kita justru takut kecurian? Namun, inilah realitas di banyak tempat di Indonesia, khususnya Jakarta. Kita sering mendengar cerita kotak amal hilang atau sepatu raib.
Kecemasan ini bukan sekadar paranoia. Dalam sosiologi, fenomena ini menandakan bahwa kita belum sepenuhnya menjadi masyarakat kepercayaan tinggi (high trust society). Francis Fukuyama, seorang ilmuwan politik, menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan dalam masyarakat sangat memengaruhi kemakmuran negara tersebut. Saat kita sibuk mengamankan sandal, kita sebenarnya sedang membayar “biaya ketidakpercayaan” yang mahal.
- Baca juga : Manfaat Utama dari Blogging Adalah Investasi Otak dan Jiwa – Lebih dari Sekadar Menulis
Cerminan Low Trust Society di Pasar dan Politik
Coba perhatikan ibu-ibu di Pasar Tanah Abang saat mampir salat. Mereka jarang meletakkan tas di belakang punggung. Tas itu pasti ditaruh di depan, tepat di sisi tempat sujud.
Artinya apa? Mereka tidak percaya meletakkan barang berharga di luar pengawasan, bahkan di Rumah Allah sekalipun. Kepercayaan itu barang mahal, Jenderal!
Indonesia adalah studi kasus menarik untuk belajar betapa mahalnya sebuah kepercayaan. Berbeda dengan Jepang atau Jerman yang dikenal sebagai masyarakat kepercayaan tinggi, Indonesia cenderung sebaliknya. Kita memiliki apa yang disebut low trust society.
Ketidakpercayaan ini tidak hanya terjadi secara horizontal (antar-warga), tetapi juga vertikal (rakyat ke pemerintah). Siapa yang hari ini benar-benar yakin pemerintah akan menyejahterakan rakyat sesuai amanat UUD 1945? Skeptisisme ini muncul karena korupsi yang merajalela.
Secara teoritis, masyarakat dengan kepercayaan rendah sulit membangun organisasi besar yang efisien. Mengapa? Karena kita menghabiskan terlalu banyak energi dan aturan hanya untuk mengawasi agar orang tidak mencuri, alih-alih berinovasi.
Menemukan Oase Masyarakat Kepercayaan Tinggi di Pedalaman
Namun, jangan sedih dulu. Di sudut tersembunyi Indonesia, masih ada kelompok yang mempraktikkan nilai masyarakat kepercayaan tinggi.
Sobat JEI yang sering membaca tulisan saya tentang budaya pasti bisa menebak lokasi ini. Di sini, masyarakatnya memegang teguh adat leluhur. Mereka tidak memperjualbelikan padi. Bagi mereka, menjual sumber kehidupan adalah tabu.
Di tempat ini, modal sosial bekerja sangat kuat. Padi yang baru dipetik dibiarkan di jemuran bambu di tepi jalan berhari-hari tanpa penjaga. Tidak ada yang mengambil. Setelah kering, barulah padi masuk lumbung.
Rumah-rumah tidak terkunci. HP tergeletak di ruang tamu saat tuan rumah pergi. Ternak hanya diikat sederhana. Rasa aman ini muncul bukan karena ada CCTV atau polisi, melainkan karena adanya norma sosial yang kuat dan terinternalisasi.
Saat bertamu ke sana, rasanya seperti pulang ke rumah nenek. Tatapan mereka hangat, tanpa curiga. Ini membuktikan bahwa masyarakat kepercayaan tinggi bisa terbentuk ketika ada nilai moral bersama yang dihormati semua orang tanpa kecuali.
Baca juga:
Langkah Menuju Indonesia sebagai High Trust Society
Bisakah Indonesia bertransformasi menjadi masyarakat kepercayaan tinggi secara nasional? Tentu bisa, meski butuh waktu panjang.
Kita pernah melihat upaya kecil seperti “Kantin Kejujuran”. Konsepnya sederhana: ambil barang, hitung sendiri, bayar ke kotak uang, dan ambil kembalian sendiri. Tanpa kasir, tanpa pengawas.
Eksperimen sosial ini menguji integritas kita. Jika orang takut kepada Tuhan—bukan takut pada CCTV—toko seperti ini akan berjaya. Dalam ekonomi, ini akan memangkas biaya operasional secara signifikan. Efisiensi inilah yang membuat negara maju lebih cepat makmur.
Membangun masyarakat kepercayaan tinggi sebenarnya tidak terlalu rumit. Kita bisa memulainya dengan mendidik diri sendiri.
Cara Sederhana Membangun Kepercayaan:
- Tepati Janji: Jangan pernah ingkar, sekecil apa pun janjinya.
- Jujur dalam Transaksi: Berikan barang sesuai nilai yang kita tawarkan.
- Hormati Hak Milik: Jangan berniat memiliki barang orang lain tanpa izin atau imbalan.
- Gunakan Wewenang dengan Benar: Jabatan adalah amanah, bukan alat memperkaya diri.
Bagaimana menurut Sobat JEI? Tidak sulit bukan memulainya dari diri sendiri agar Indonesia kelak menjadi masyarakat kepercayaan tinggi?
Salam
Â
