Memahami hubungan hujan dan perasaan ibarat mengupas lapisan emosi saya sendiri. Tulisan ini ingin mencoba merangkum pengalaman yang pernah saya rasakan dengan fenomena alam ini. Mulai dari keajaiban musim bagi kehidupan alam, riuhnya kenangan mandi hujan di masa kecil, hingga alasan ilmiah mengapa rintik air dari langit sukses membuat saya dan kebanyakan orang jadi melamun syahdu. Mari kita selami bersama ritme cuaca yang selalu berhasil mencuri perhatian ini.

Memahami Hubungan Hujan dan Perasaan Lewat Siklus Alam
Saya sebenarnya menyukai semua musim. Musim panas ceria, hujan syahdu, atau bahkan musim galau tak menentu seperti sekarang ini. Alam semesta memberi kita makan melalui ritme musim yang sangat presisi. Siklus ini menuntun petani meramal waktu tebar benih, tanam, hingga panen raya.
Sawah, kebun, dan hutan jelas sangat membutuhkan hujan. Air hujan melembutkan tanah yang keras. Mineral dan nutrisi bumi pun lebih mudah masuk ke akar tanaman. Riset agroklimatologi bahkan mencatat bahwa kilat dan air hujan membawa nitrogen alami yang membuat daun tumbuh lebih hijau.
Tentu saja, tumbuhan juga menagih panas matahari. Daun-daun harus gesit memasak makanan lewat proses fotosintesis. Hasilnya? Umbi dan buah manis tersaji lezat di meja makan kita. Apapun musim yang sedang tayang, saya selalu merayakan kehadirannya dengan hati gembira.
Sisi Abu-Abu yang Didapatkan Saat Menggali dan Memahami Hubungan Hujan dan Perasaan
Namun, saya akan jujur. Saya punya ruang khusus di hati untuk musim hujan. Bukan karena hujan rajin menggenangi jalanan kota. Bukan karena hujan pernah hampir menenggelamkan rumah ibu saya. Dan bBukan pula karena hujan membuat nira aren berkurang kemanisannya atau jalanan Jakarta mendadak jadi lautan kendaraan yang macet parah. Hidup di tengah kota dengan tata ruang yang suka bercanda ini, hal tersebut sudah biasa.
Hujan menjadi istimewa karena ia punya daya magis yang memaksa saya bertafakur. Saat saya menatap rintik pelan atau curahan deras dari balik jendela, sekelebat perasaan abu-abu langsung menyergap. Ada campuran rasa murung tipis, sukacita yang lembut, dan imajinasi yang bebas gentayangan ke mana-mana.
Sains psikologi ternyata punya jawaban soal fenomena ini. Suara rintik hujan menghasilkan white noise alami. Frekuensi suara ini secara konsisten menenangkan gelombang otak dan memicu relaksasi mendalam. Pantas saja kita sangat gampang melamun kala hujan turun ya!
Nostalgia Masa Kecil dengan Bau Tanah dan Ingatan yang Menari
Saya dulu sering bingung mencari tahu asal mula perasaan melankolis ini. Sama seperti anak-anak normal lainnya, saya punya sejarah panjang bermain, berlari, dan mandi di bawah derasnya hujan. Saya tidak pernah pusing memikirkan ancaman sakit atau omelan ibu yang melengking tinggi.
Beruntung sekali, zaman saya kecil dulu belum ada tren profesi ojek payung. Coba bayangkan kalau dulu saya ikut antre di halte bus Kramat Sentiong sambil menawarkan jasa payung. Ibu saya pasti langsung menangis bombay melihat anaknya mencari receh basah-basahan. Beliau pasti memeluk saya erat-erat dan melarang keras aksi tersebut. Untunglah drama sinetron itu tidak pernah tayang. Saya tidak pernah memberi ibu kesempatan untuk merasa miskin.
Jadi, jelas bukan himpitan masa lalu yang membuat perasaan saya warna-warni tiap hujan turun.
Mungkin jika mengikuti penelitian neurosains menyebutkan bahwa aroma petrichor (wangi tanah kering yang terkena hujan) langsung menembus amigdala dan hipokampus di otak manusia. Dua area ini bekerja sebagai pusat kenangan dan emosi. Petrichor diam-diam membangunkan memori murni masa lalu.
Rupanya memahami hubungan hujan dan perasaan sangat erat dengan ingatan penciuman kita.
Baca juga:
Apakah Hujan Sekadar Analogi Air Mata?
Lalu, apa sebenarnya pemicu rasa syahdu itu? Apakah hujan sekadar analogi raksasa dari air mata? Selama masa pertumbuhan, rasanya tidak ada manusia yang sukses menghindari tangisan. Setiap orang pasti pernah menangis tersedu-sedu. Kita menangis saat menghadapi masalah berat atau sekadar menangis bahagia.
Uniknya, jadwal menangis saya tidak pernah menyesuaikan prakiraan cuaca. Kalau hati sedang terganggu, air mata bisa tumpah di tengah terik matahari terik maupun badai. Tangisan sama sekali tidak mengenal kalender musim.
Jadi, apa yang membuat hujan begitu spesial? Mungkin jawabannya terletak pada kemampuannya menghentikan waktu sejenak. Hujan memaksa dunia yang serba bergegas ini untuk menarik napas, duduk diam, dan membiarkan perasaan kita mengalir bebas bersama air yang turun membasahi bumi.
eviindrawanto.com
