
Key Takeaways
- Wedang uwuh, yang berarti ‘minuman sampah’, terbuat dari dedaunan kering dan rempah-rempah sehat.
- Bahan utama wedang uwuh adalah daun cengkeh, daun pala kering, jahe, akar serai, kayu manis, dan gula batu.
- Minuman ini menawarkan banyak manfaat kesehatan, seperti membantu melancarkan sirkulasi darah dan meredakan radang sendi.
- Penggunaan jahe dalam wedang uwuh bersifat antikoagulan, sehingga perlu hati-hati bagi yang mengonsumsi obat pengencer darah.
- Wedang uwuh menjadi ikon budaya Yogyakarta dan dikenal sejak masa Sultan Agung sekitar tahun 1630-an.
Secara harfiah, dalam bahasa Jawa, Wedang Uwuh berarti “minuman sampah”. Jika Sobat JEI melihat fisik bahannya, mungkin akan langsung setuju dengan julukan unik ini. Racikannya terdiri dari tumpukan dedaunan kering, persis seperti serakan sampah alam yang belum disapu di halaman rumah. Namun, jangan terkecoh oleh penampilannya yang berantakan. Siapa sangka, di balik tumpukan “sampah” ini tersimpan segudang manfaat wedang uwuh yang luar biasa bagi kesehatan tubuh. Mulai dari komposisi rempah, khasiat, hingga resep dan cara membuatnya, mari kita bedah keistimewaan minuman raja-raja Mataram Yogyakarta ini.
Bahan-Bahan Isi Wedang Uwuh
Racikan ini sekilas tampak sederhana, namun sebenarnya tidak bisa dibilang remeh. Untuk meraciknya, Sobat JEI tidak bisa menggunakan sembarang daun kering. Bahan-bahan isi wedang uwuh merupakan seleksi rempah spesifik yang memiliki fungsi kesehatan masing-masing.
Komposisi utamanya terdiri dari daun cengkeh dan daun pala kering. Untuk mendongkrak khasiat dan aroma, ditambahkan pula jahe, akar serai, kayu manis, serta serutan kayu secang yang menjadi ciri khas warna merahnya. Sementara untuk menyeimbangkan rasa sepat dan pedas rempah, digunakan sepotong gula batu sebagai pemanis alami.
Saat berkunjung ke makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta, terlihat jelas bahwa wedang uwuh sudah menjadi ikon tak terpisahkan dari tempat ini. Rasanya kunjungan ke kompleks pemakaman yang teduh itu kurang klop tanpa mencicipi minuman khas para raja ini.
Entah dinikmati langsung di warung-warung sekitar atau dibawa pulang sebagai buah tangan, manfaat wedang uwuh selalu dicari para peziarah. Selain rasanya yang unik, minuman ini memang ampuh untuk mengembalikan kebugaran tubuh, apalagi setelah lelah menapaki ratusan anak tangga di Imogiri.
Sensasi Rasa Mewah dan Segudang Manfaat Kesehatan
Meski namanya berarti “sampah”, rasa minuman ini sungguh jauh dari kesan kotor. Warna merah cantik yang berasal dari serutan kayu secang membuatnya tampak menggoda. Dinikmati hangat maupun dingin, alirannya terasa nikmat membasahi tenggorokan. Bagi saya, ada sugesti sehat yang langsung terasa sejak tegukan pertama.
Ini bukan sekadar perasaan semata, Sobat JEI. Memang ada deretan manfaat wedang uwuh yang nyata berkat kombinasi rempah “sakti” di dalamnya.
Ambil contoh jahe. Rempah pedas ini bersifat antikoagulan atau anti-penggumpalan darah. Sudah lama jahe dipercaya membantu mencegah penyumbatan pembuluh darah—faktor pemicu stroke dan serangan jantung. Selain itu, jahe juga ampuh meredakan radang sendi. Kebetulan saya sering mengalami masalah nyeri lutut, jadi tak ada alasan bagi saya menolak menghabiskan dua gelas minuman khas Yogyakarta ini saat berkunjung ke sana.
Kayu secang pun tak mau kalah. Selain menyumbang warna merah delima yang cantik, ia mengandung antioksidan tinggi. Bolehlah kita anggap meminum ini sebagai ikhtiar awet muda ya, Sobat JEI. 🙂
Ditambah lagi dengan khasiat cengkeh yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami (analgesik), serta kayu manis yang dikenal baik untuk menurunkan kadar gula darah dan kolesterol. Benar-benar paket kesehatan lengkap dalam satu cangkir!
Baca juga:
“Siapa yang Harus Berhati-hati?” (PENTING)
Meskipun herbal, bukan berarti wedang uwuh bebas dikonsumsi siapa saja tanpa aturan. Ada beberapa kondisi di mana Sobat JEI perlu waspada:
- Pengencer Darah: Karena jahe memiliki sifat antikoagulan (mencegah pembekuan darah) yang cukup kuat, bagi Sobat JEI yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah (seperti aspirin atau warfarin) atau hendak menjalani operasi, sebaiknya batasi konsumsinya untuk menghindari risiko pendarahan.
- Masalah Lambung Akut: Bagi pemilik perut sensitif atau GERD, rasa pedas jahe dan sifat asam dari beberapa rempah bisa memicu iritasi jika diminum saat perut kosong. Pastikan perut sudah terisi ya, Sobat JEI!
- Batu Empedu: Jahe dapat memacu produksi cairan empedu. Bagi penderita batu empedu, aliran cairan yang deras ini terkadang bisa memicu rasa nyeri.
Sejarah Herbal Uwuh
Warisan Stamina dari Hutan Imogiri
Sejarah mencatat bahwa manfaat wedang uwuh sudah dikenal sejak era Sultan Agung Hanyokrokusumo (Raja Mataram Islam) sekitar tahun 1630-an. Seperti yang pernah saya singgung, para prajurit Mataram memang memanfaatkan kekayaan alam untuk menjaga stamina prima. Melindungi Keraton dan bergerilya keluar-masuk hutan tentu membutuhkan fisik yang tangguh.
Namun, ada satu momen ikonik yang dipercaya menjadi titik lahirnya nama “uwuh” ini. Konon, saat Sultan Agung sedang bermeditasi mencari lokasi makam raja-raja di Bukit Merak, Imogiri, dedaunan kering dari pohon sekitar jatuh tertiup angin dan mengotori (menjadi uwuh) cawan minuman beliau.
Ketimbang dibuang, perpaduan “sampah” alam dan minuman hangat itu justru menciptakan rasa nikmat dan sensasi hangat yang luar biasa di tubuh Sang Raja. Dari ketidaksengajaan di hutan itulah, resep ini diadaptasi oleh abdi dalem dan prajurit, tidak hanya sebagai penghangat, tetapi juga ramuan herbal untuk menjaga vitalitas di medan juang. Kini, kita bisa menikmati warisan “sampah” berkelas kerajaan ini tanpa harus bergerilya ke hutan.
Resep dan Cara Membuat Wedang Uwuh Imogiri.
- 700 ml air.
- 2 lembar serutan kayu secang kering
- 50 gram gula batu atau gula pasir.
- 1 ibu jari jahe , memarkan.
- 3 lembar daun kayu manis kering.
- 3 lembar daun cengkeh kering.
- 3 lembar daun pala kering.
- 10 butir cengkeh atau batang cengkeh kering.
Cara Membuat:
- Sebaiknya jahe dibakar lebih dulu lalu memarkan sedikit.
- Masukan air ke dalam panci. Masukan semua bahan termasuk gula batu.
- Mendidihkan selama 15 menit dengan api sedang.
- Angkat dan saring (Bisa juga dihidangkan tanpa disaring).
- Tuang ke dalam gelas. Siap dihidangkan
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Wedang Uwuh
Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan Sobat JEI tentang minuman herbal khas Yogyakarta ini:
Wedang Uwuh adalah minuman tradisional khas Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Dalam bahasa Jawa, “wedang” berarti minuman dan “uwuh” berarti sampah. Dinamakan demikian karena tampilan bahan-bahannya yang berupa dedaunan dan rempah kering menyerupai tumpukan sampah daun, namun memiliki khasiat kesehatan yang tinggi.
Warna merah cerah dan cantik pada wedang uwuh berasal dari serutan kayu secang (Caesalpinia sappan). Saat diseduh dengan air panas, kayu secang akan melepaskan zat warna alami yang juga mengandung antioksidan tinggi.
Ada banyak sekali manfaat wedang uwuh, di antaranya adalah menghangatkan tubuh, meredakan masuk angin, melancarkan sirkulasi darah, menurunkan kolesterol, serta meningkatkan daya tahan tubuh berkat kandungan jahe dan cengkeh di dalamnya.
Bagi Sobat JEI yang memiliki masalah lambung, sebaiknya berhati-hati. Kandungan jahe yang pedas dan sifat asam dari beberapa rempah bisa memicu iritasi jika diminum saat perut kosong. Sangat disarankan untuk mengonsumsinya setelah makan dan tidak membuatnya terlalu pedas.
Untuk bahan kering yang belum diseduh, wedang uwuh bisa awet berbulan-bulan asalkan disimpan di tempat kering dan tertutup rapat. Namun, jika sudah diseduh, sebaiknya segera dihabiskan selagi hangat agar khasiat dan aromanya tetap maksimal.
Mudah kan cara membuat wedang uwuh? Selamat mencoba!
Wedang Uwuh anyone?


