
Pernahkah Temans berkunjung ke Museum RA Kartini Rembang? Lokasinya berada di kompleks bekas kediaman Bupati Rembang. Jika pernah, Temans pasti teringat jejeran papan ukir yang memajang kutipan surat-surat Kartini kepada sahabat penanya di Belanda, seperti Rosa Abendanon dan Stella Zeehandelaar.
Kutipan-kutipan tersebut juga terabadikan dalam buku legendaris Habis Gelap Terbitlah Terang. Salah satu yang paling menggetarkan jiwa berbunyi:
“Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia adalah menundukan diri sendiri.”
Kalimat ini bukan sekadar kata mutiara. Ini adalah inti pemikiran RA Kartini tentang esensi perjuangan manusia. Mari kita bedah makna mendalam di baliknya.
Akar Kegelisahan Kartini dalam Cengkeraman Feodalisme
Wanita yang kita kenal sebagai Pahlawan Nasional ini menuliskan kalimat tersebut saat sedang “curhat” tentang perasaannya. Kartini merasa terkungkung oleh sistem feodalisme Jawa yang kaku pada abad ke-19.
Sistem tersebut menciptakan ketimpangan kesempatan pendidikan yang mencolok antara laki-laki dan perempuan. Pria dikondisikan untuk berperan di ruang publik dan mengejar sekolah formal setinggi-tingginya. Sebaliknya, perempuan hanya menjaga sektor domestik. Mereka terpaksa menjalani masa pingitan di rumah demi mempersiapkan diri menjadi istri.
Sosiolog modern sering menyebut kondisi ini sebagai structural inequality. Namun, Kartini muda sudah menyadarinya jauh sebelum istilah itu populer. Kesadaran ini tumbuh karena ia rajin membaca buku-buku progresif dan intens berkorespondensi dengan kawan wanita berkulit putih.
Benturan Tradisi dan Kemenangan dalam Menundukan Diri Sendiri
Kartini melihat perbedaan nasib yang tajam antara dirinya dan sahabat-sahabat Eropanya. Mereka bebas mengecap pendidikan, sementara ia hanya diberi wawasan seputar “menjadi istri yang baik”. Perbedaan ini melahirkan kegelisahan hebat. Ia sadar bahwa adat istiadat yang ia terima sejak kecil sangat tidak adil.
Namun, mendobrak tatanan tradisi yang sudah mapan bukanlah perkara mudah. Bagi masyarakat kala itu, tradisi adalah kebenaran mutlak, pasti seperti matahari terbit di Timur. Budaya patriarki tersimpan kokoh di belakang tembok tradisi dan enggan membuka pintu bagi ide baru, seperti kesetaraan pendidikan formal bagi perempuan.
Anak Bupati Jepara ini sadar sepenuhnya. Keinginannya sedang melawan arus deras. Di sinilah letak ujian sesungguhnya dari kemenangan dalam menundukan diri sendiri. Ia harus menekan ego pribadinya demi strategi perjuangan yang lebih besar.
Menurut pakar sejarah, keputusan Kartini menerima pinangan Bupati Rembang—meski hatinya berontak—adalah bentuk diplomasi tingkat tinggi. Ia “mengalah” (menundukkan diri) agar mendapatkan izin mendirikan sekolah wanita. Ini adalah strategi negotiated agency, di mana ia berkompromi dengan struktur untuk mengubahnya dari dalam.
Resiko Menjadi Pejuang Ide
Setiap pejuang ide harus memetakan risiko di tiap langkah mereka. Keberanian saja tidak cukup. Diperlukan karakter baja untuk mengeksekusi sebuah gagasan radikal. Konsekuensi dari “pikiran” yang tak biasa itu sangat berat. Penolakan tidak hanya berdampak pada dirinya, tetapi juga pada keluarga dan orang-orang tercinta.
Tekad kuat ini tercermin jelas dalam kutipan Kartini lainnya:
“Kami akan mengoya-goyahkan gedung feodalisme itu dengan sekuat tenaga yang ada pada kami, dan andaikan cuma satu potong batu yang jatuh, kami akan menganggap bahwa hidup kami tidak sia-sia.”
Baca di sini tentang : Wisata Pantai Kartini Jepara & Pelabuhan: Gerbang Karimunjawa dan Pesona Kura-Kura Raksasa
Relevansi Pemikiran RA Kartini di Era Modern
Tulisan Kartini bersifat universal, lintas zaman, dan relevan di segala bidang. Musuh utama kita hari ini bukanlah kekuatan eksternal seperti ideologi asing atau orang jahat di luar sana. Seperti yang tersirat dalam pemikiran RA Kartini, musuh terbesar justru bersemayam di dalam diri kita.
Dalam psikologi modern, hal ini sering dikaitkan dengan self-sabotage atau kenyamanan status quo. Kita sering memanjakan “musuh” ini dengan kemalasan dan sejuta alasan penundaan. Konsep transformasi diri bagi “raksasa tidur” ini terasa seperti pembunuhan paksa terhadap kenyamanan. Ego kita akan mengerahkan segala upaya agar tetap berada di tempat yang aman.
Baca juga:
Mengapa Kita Harus Menang?
Tahukah Temans? Sekali kita memenangkan pertarungan atas diri sendiri, kemenangan dalam menundukan diri sendiri berikutnya akan terasa lebih mudah. Inilah efek bola salju dari disiplin diri.
Para filsuf Stoikisme seperti Marcus Aurelius juga memiliki pandangan serupa: penguasaan diri adalah benteng terkuat manusia. Ketika kita berhasil melawan ego dan ketakutan sendiri, rasanya seluruh semesta bertepuk tangan. Itulah yang dimaksud oleh Ibu Kartini sebagai kemenangan yang seindah-indahnya.
Jadi kawan, apa godaan terbesar yang berhasil engkau lawan hari ini demi mencapai versi terbaik dirimu?
eviindrawanto.com
