
Poin Utama
- Agama mengajarkan kesetaraan di hadapan Tuhan, namun masyarakat nyata sering berbeda.
- Hukum ekonomi dan egoisme manusia menciptakan stratifikasi sosial, terutama dengan konsep menurut Max Weber.
- Stratifikasi sosial terbuka dan tertutup mempengaruhi interaksi antar kelas, menciptakan ketidaknyamanan.
- Penggolongan terjadi melalui dua cara: subjektif, yang berasal dari mental kita, dan objektif, yang nyata dari kondisi sosial.
- Kita sering menyimpan keinginan untuk berbeda sebagai validasi diri, meski penderitaan muncul akibat penggolongan ini.
Sobat JEI, agama mengajarkan bahwa di mata Allah derajat manusia itu sama. Kau dan aku tak beda. Perbedaan hanya terletak pada tingkat ketaqwaan saja.
Walau seseorang lebih berkuasa, lebih kaya, atau lebih pintar, di hadapan Tuhan derajatnya tak otomatis lebih tinggi. Tuhan terbuka bagi semua golongan. Dia tak menilai kualitas kita berdasarkan materi.
Namun, masyarakat membentuk dunia ini jauh dari semangat ketuhanan tersebut. Kita tak bisa eksis tanpa ironi. Meski kitab suci menuliskan kesetaraan, realitanya aku dan kau tetap beda.
Mengapa ini bisa terjadi? Mari kita bedah fenomena ini lebih dalam.
Mengapa Kau dan Aku Beda?
Hukum ekonomi memegang peran besar di sini. Keinginan kita banyak, namun sumber daya jumlahnya terbatas. Kita harus berkompetisi dengan orang lain untuk mendapatkannya.
Dalam kompetisi ini, egoisme manusia memainkan peran demi menegakkan eksistensi. Kita merasa lebih istimewa bila memiliki ciri yang melekat. Rasanya “gue banget” jika ciri tersebut berbeda dengan orang lain.
Entah itu dalam kekuasaan, kehormatan, atau prestise, target utamanya adalah unggul dari kelompok lain. Hal ini sejalan dengan konsep stratifikasi sosial menurut Max Weber.
Deep Insight: Weber tidak hanya melihat uang sebagai pembeda. Ia membagi stratifikasi menjadi tiga dimensi: Class (ekonomi), Status (gaya hidup/kehormatan), dan Party (kekuasaan politik). Jadi, orang bisa saja tidak kaya raya, tapi punya status sosial tinggi karena pengaruh atau jabatannya.
Realitas Stratifikasi Sosial Terbuka dan Tertutup
Kelompok sosial membuat kita nyaman. Secara alami, kita menempatkan diri pada satu golongan yang paling dekat ciri-cirinya. Entah lebih rendah atau lebih tinggi, kita memiliki ketergantungan untuk berada di dalam “kelompok aman” tersebut.
Fenomena ini sering terlihat jelas pada stratifikasi sosial pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Di sana, garis batas sangat tegas dan kaku. Seseorang sulit melompat ke kasta lain.
Namun, di masyarakat modern seperti kita, batas itu lebih cair namun tetap terasa.
Orang dari strata sosial atas sering merasa canggung bergaul dengan kelas di bawahnya. Sebaliknya, mereka yang di bawah gagap dan tak nyaman berinteraksi dengan level atas. Seorang profesor mungkin merasa “gak level” mendiskusikan teori Darwin dengan tukang gorengan.
Ini bukan sekadar sombong, tapi soal Habitus (kebiasaan dan cara pandang) yang berbeda.
Penggolongan Subjektif dan Objektif
Pengkotak-kotakan ini terjadi melalui dua cara: Subjektif dan Objektif.
1. Hambatan Subjektif
Penggolongan ini terjadi di dalam pikiran kita sendiri. Tidak ada aturan hukum yang melarang Pak Aburizal Bakrie berdiskusi soal harga gula aren nasional dengan saya.
Namun, saya terlanjur menganggap diri lebih rendah. Membayangkannya saja sudah membuat kalut. “Nanti mau ngomong apa?” Perasaan inilah yang sering menghambat mobilitas sosial kita, padahal kita hidup dalam sistem stratifikasi sosial terbuka dan tertutup yang dinamis. Dalam sistem terbuka, kesempatan naik kelas sebenarnya ada, tapi mental kitalah yang sering menutup pintunya.
2. Tembok Objektif
Jika penggolongan subjektif ada di kepala, penggolongan objektiflah yang secara telak membangun tembok kelas.
Tak masalah sekeras apa kita menolak, fakta berbicara. Jika tak memiliki uang miliaran yang mengendap di bank, Sobat JEI tidak akan masuk daftar nasabah Prioritas. Mereka yang tak perlu antre, dilayani personal officer ramah di ruangan cozy.
Di tempat lain, kita tersisih berdasarkan rumah, mobil, bahkan warna kulit dan agama.
Deep Insight: Sosiolog menyebut ini sebagai Social Closure (penutupan sosial). Kelompok elit sengaja membuat syarat-syarat tertentu (seperti biaya masuk klub golf atau bahasa slang khusus) untuk membatasi akses orang luar agar “kemewahan” mereka tetap eksklusif.
Intinya
Tak sedikit penderitaan umat manusia terjadi akibat penggolongan ini. Namun, hal itu tak akan menghapus strata sosial dalam masyarakat.
Sebabnya? Sebab kita sendirilah, para individu, yang menginginkan perbedaan itu terjadi demi validasi diri.
Salam,
Baca juga:
