
Pernahkah Sobat JEI menyadari bahwa kata-kata memicu pikiran kita bekerja lebih keras dari biasanya? Berpikir sejatinya adalah dialog batin yang sunyi. Namun, dialog ini membentuk siapa kita di tengah semesta. Artikel ini akan membahas hubungan erat antara bahasa dan logika. Saya juga akan membagikan tips memilih kata-kata yang tepat agar pesan tersampaikan sempurna. Mari kita ulas mengapa ketepatan diksi sangat krusial untuk memicu pikiran jernih dan menghindari kesalahpahaman.
Dialog Batin dan Kekuatan Kata-Kata Memicu Pikiran
Banyak orang bilang berpikir itu sama dengan bicara pada diri sendiri. Dialog batin ini menggunakan konsep dan pengertian tertentu. Proses ini mencirikan kita sebagai individu unik di tengah kehidupan sosial. Pikiran memang bersifat personal. Orang lain tak bisa melihat atau mengetahuinya.
Sobat JEI mungkin pernah mendengar peribahasa, “Dalamnya laut bisa diduga, tapi dalamnya hati manusia tak seorang pun tahu.” Kita bisa saja tersenyum meski batin remuk redam. Namun, psikolog Rusia terkenal, Lev Vygotsky, dalam teorinya tentang Inner Speech, menekankan bahwa pikiran dan bahasa memiliki akar yang berbeda namun menyatu seiring perkembangan kita. Menurut Vygotsky, kata-kata memicu pikiran untuk menjadi lebih terstruktur. Tanpa bahasa, pemikiran kompleks sulit terjadi. Jadi, apa yang kita batin-kan sebenarnya adalah cerminan dari kosakata yang kita miliki.
Dari Pikiran Menjadi Aksi: Mengapa Kita Harus Berbicara?
Berpikir tanpa mengomunikasikannya bukanlah tujuan sejati. Filsuf René Descartes berkata, “Cogito, ergo sum” (Aku berpikir, maka aku ada). Namun, eksistensi itu baru terasa dampaknya saat kita terhubung dengan orang lain. Bayangkan jika Alexander Graham Bell hanya memikirkan konsep telepon sampai botak tanpa mewujudkannya. Tentu kita tidak akan menikmati kemudahan komunikasi lintas jarak dan waktu seperti sekarang.
Penelitian modern dalam psikologi kognitif menunjukkan bahwa artikulasi ide (mengucapkan atau menuliskannya) membantu memicu pikiran jernih. Saat kita mencoba menjelaskan sesuatu kepada orang lain, otak kita melakukan “deep processing”. Kita menguji kembali pemahaman kita sendiri. Inilah mengapa Bell dan penemu lainnya tidak hanya diam. Mereka menggunakan penemuan yang dikomunikasikan sebagai alat keterhubungan. Hasilnya? Sebuah wajah budaya efisien yang kita nikmati hari ini.
Tips Memilih Kata-Kata yang Tepat untuk Presisi Makna
Pikiran membutuhkan wadah berupa kata-kata. Hal ini berlaku saat berdialog di dalam batin maupun saat bicara pada orang lain. Maka, memberi perhatian khusus terhadap diksi menjadi sangat vital. Mark Twain, penulis legendaris Amerika, pernah berkata, “Perbedaan antara kata yang hampir tepat dan kata yang tepat adalah seperti perbedaan antara kunang-kunang (lightning bug) dan petir (lightning).”
Perhatikan contoh sederhana ini, Sobat JEI:
- Tidak cukup menggunakan kata “kursi” jika yang kita maksud adalah tempat duduk empuk, berbalut kulit, dan nyaman. Kita harus menyebutnya “sofa” agar visualisasinya tepat.
- Ketidakjelasan warna sering membuat kita keliru. Kemarin di tepi Cisadane, ada yang menyebut senja itu “merah”. Padahal mungkin lebih tepat disebut “lembayung”.
- Contoh paling klasik di Indonesia: Mengapa “gula jawa” sering disebut “gula merah”? Padahal dominasi warnanya jelas cokelat!
Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf bahasa, menegaskan bahwa “Batas bahasaku adalah batas duniaku.” Jika kita ingin memperluas dunia dan pemahaman orang lain, kita harus menerapkan tips memilih kata-kata yang tepat. Diksi yang spesifik akan mengurangi ambiguitas dan meningkatkan kualitas informasi.
Bahaya Kalimat Abu-Abu dan Kabut Pikiran
Ketidakjelasan bahasa sering kali menciptakan kabut dalam pikiran. Sobat JEI pasti pernah merasa kesal saat mendengar politikus berbicara di TV. George Orwell dalam esainya “Politics and the English Language” mengkritik keras penggunaan bahasa yang berbelit-belit. Menurut Orwell, bahasa politik sering dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan terdengar terhormat.
Sering kali, untuk tidak mengakui kesalahan sederhana, seseorang membutuhkan berkilo-kilo kalimat tak berguna yang bertaburan di udara. Fenomena ini kadang kita temui juga pada beberapa penceramah. Pesan yang seharusnya menyejukkan justru membuat pendengar senewen karena sulit dipahami. Studi komunikasi menunjukkan bahwa penggunaan jargon yang berlebihan atau kalimat pasif yang rumit menurunkan kepercayaan audiens.
Langkah Menulis untuk Memicu Pikiran Jernih
Jadi, jika kita ingin berpikir dengan jelas, kita harus menggunakan kata-kata yang tepat pula. Kata-kata memicu pikiran, dan kata-kata yang jelas akan memicu pikiran jernih. Sebaliknya, kalimat abu-abu hanya akan menciptakan kebingungan.
Apakah saya sudah menggunakan kata-kata yang tepat dalam blog Jurnal Evi Indrawanto ini? Mungkin belum sempurna. Namun, menuliskan artikel ini adalah langkah awal perbaikan. Berikut adalah rangkuman langkah praktis untuk Sobat JEI:
- Spesifik: Gunakan nama benda atau sifat yang konkret (contoh: “Merah marun” bukan cuma “merah”).
- Sederhana: Hindari kalimat bertingkat yang membingungkan.
- Jujur: Seperti kata Orwell, jangan gunakan kata-kata besar untuk menutupi fakta kecil.
Mari kita mulai memperbaiki cara kita berbahasa, agar pikiran kita pun semakin tajam dan jernih.
Salam, Evi
