
Jeruk santang dalam tradisi imlek bukan sekadar pelengkap meja makan atau hiasan semata. Buah mungil ini membawa pesan kemakmuran, jejak sejarah panjang dari Dinasti Ming, hingga fakta ironi pasar impor di tengah swasembada pangan Indonesia. Dalam artikel ini, Sobat JEI akan saya ajak menelusuri makna buah-buahan dalam hari raya Imlek, realitas perdagangan di pasar, hingga filosofi makanan manis yang ternyata menyimpan segudang manfaat kesehatan menurut para ahli.
Kemeriahan dan Makna Buah-buahan dalam Hari Raya Imlek
Setiap kali Imlek menjelang, tanda-tandanya langsung terlihat di mana-mana. Kita bisa melihat lampion merah menyala, amplop angpao, petasan, hingga tempelan kertas Chunlian berisi puisi keberuntungan. Namun, satu penanda lain yang cukup mencolok adalah serbuan buah-buahan dalam hari raya Imlek di pasar dan toko buah, terutama jeruk Santang.
Secara botani, jeruk santang atau Shatangju masuk dalam varietas Citrus reticulata. Dr. Xuming Wang dari Citrus Research Institute menyebutkan bahwa varietas ini memiliki karakteristik kulit yang “longgar” (mudah dikupas), kadar air tinggi, dan rasa gula alami yang pekat.
Definisi sederhana bagi Sobat JEI yang mungkin belum familiar: Jeruk santang adalah varian jeruk mandarin kecil tanpa biji (atau sedikit biji), berkulit tipis namun getas, dengan warna oranye menyala yang identik dengan emas.
Simbolisme dan Filosofi Makanan Manis
Butir jeruk mungil dengan rasa manis ini menjadi pelengkap wajib perayaan Imlek selain kue keranjang, ikan bandeng, dan buah naga. Imlek sejatinya adalah perayaan tentang kemakmuran dan harapan baik.
Penyajian jeruk ini memiliki aturan khusus. Sobat JEI wajib menyajikannya lengkap dengan daun. Daun hijau ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol “kehidupan” dan doa agar kemakmuran tersebut terus tumbuh subur.
Mengapa harus manis? Di sinilah filosofi makanan manis bermain peran. Menurut pakar budaya Tionghoa, rasa manis (tian) melambangkan kehidupan yang damai dan “manis” di tahun mendatang. Rasa asam atau pahit justru sebisa mungkin orang hindari di awal tahun agar tidak mengundang kesusahan.
Realitas Pasar: Jeruk Santang di Bintaro dan Ironi Impor
Kemarin saat belanja di Pasar Segar Graha Bintaro, Tangerang, saya menyaksikan pemandangan menarik. Ratusan keranjang jeruk santang turun dari truk besar. Harganya bervariasi setiap tahun, namun volumenya selalu masif.
Buah-buahan ini menempuh perjalanan jauh dari Hongkong, Taiwan, dan China. Keterkejutan saya sebenarnya sudah lama hilang. Makanan impor kini telah merasuk ke pasar-pasar tradisional hingga warung kecil di pedesaan.
Kita patut mempertanyakan kebijakan ini. Para pemegang kekuasaan—entah karena kurang jeli atau wawasan yang “terlalu luas”—tampak abai pada bahaya bagi pertanian dalam negeri. Mereka membuka kran impor tanpa tedeng aling-aling melalui kebijakan pasar bebas. Meski bukan kapasitas saya untuk mengkritik AFTA atau CAFTA secara mendalam, fenomena banjirnya jeruk santang dalam tradisi imlek di pasar lokal adalah bukti nyata ketergantungan kita pada produk impor.
Jejak Sejarah dari Dinasti Ming
Terlepas dari polemik impor, jeruk ini memang memiliki sejarah istimewa. Basis produksi besar-besaran jeruk santang terletak di Kabupaten Guangning, Provinsi Guangdong, Cina Selatan. Kondisi tanah unik di sana membuat Guangning mendapat julukan “Negeri Jeruk Santang”.
Riset sejarah mencatat jeruk santang sudah muncul sejak 400 tahun lalu. Bahkan pada masa Dinasti Ming (1573-1619), jeruk Santang menjadi komoditas elit. Kerajaan menunjuk buah ini sebagai upeti wajib dari rakyat untuk Kaisar karena bentuknya yang unik, warna oranye cemerlang, dan rasanya yang konsisten.
Manfaat Kesehatan di Balik Filosofi Makanan Manis
Selain lezat, jeruk santang memiliki khasiat medis yang luar biasa. Filosofi makanan manis pada jeruk ini ternyata berbanding lurus dengan manfaat kesehatannya.
Menurut studi yang terbit dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry, kulit jeruk mandarin mengandung Hesperidin dan Nobiletin. Senyawa ini berfungsi menenangkan sistem saraf dan melindungi jantung.
Berikut beberapa manfaat utama mengonsumsi jeruk santang bagi Sobat JEI:
- Mencegah Pengerasan Arteri: Kandungan flavonoidnya menjaga elastisitas pembuluh darah.
- Menurunkan Kolesterol: Serat pekat pada daging buah membantu mengikat lemak jahat.
- Memecah Lemak: Senyawa synephrine alami membantu metabolisme tubuh.
- Detoksifikasi Logam Berat: Membantu mengurangi akumulasi logam non-ferrous dalam tubuh.
Jadi, ketika Sobat JEI menikmati manisnya jeruk santang dalam tradisi imlek tahun ini, ingatlah bahwa ada doa kemakmuran, sejarah panjang, dan kesehatan di setiap gigitannya. Selamat merayakan Imlek bagi yang merayakan!
Salam, Evi
