
Jangan makan bila kamu sedang menderita, kesepian, atau sekadar lelah emosi. Sobat JEI, seringkali kita salah mengartikan sinyal tubuh. Kita merasa butuh asupan makanan, padahal sebenarnya jiwa kitalah yang sedang haus akan ketenangan. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa emosi sering memicu rasa lapar palsu, apa dampaknya bagi metabolisme menurut sains, dan solusi nyata untuk mengembalikan keseimbangan tubuh tanpa kalori berlebih.
Kenali Sinyal Tubuh: Jangan Makan Bila Kamu Sedang Menderita
Sobat JEI, aturan utamanya sederhana: jangan makan bila kamu sedang menderita gangguan emosi tetapi perut tidak berbunyi. Dr. Susan Albers, seorang psikolog klinis dari Cleveland Clinic dan penulis Eating Mindfully, menegaskan bahwa makan saat tidak lapar mengacaukan sinyal alami kenyang tubuh.
Saat kamu merasa “lapar” karena sedih atau marah, itu adalah emotional hunger. Riset mendalam dari American Psychological Association menunjukkan bahwa 38% orang dewasa makan berlebihan saat stres. Padahal, tubuhmu tidak meminta energi. Tubuhmu sedang berteriak meminta pelepasan beban.
Bedakan Lapar Fisik dan Lapar Hati
Penting untuk membedakan pemicunya. Lapar fisik datang bertahap. Lapar emosional datang tiba-tiba dan menuntut kepuasan instan. Jangan makan bila kamu sedang menderita kedinginan atau kepanasan ekstrem.
Menurut studi dalam Journal of Consumer Research, suhu ekstrem memicu keinginan tubuh untuk mencari kenyamanan (homeostasis), yang sering disalahartikan otak sebagai keinginan mengunyah. Padahal, yang kamu butuhkan hanyalah selimut hangat atau segelas air dingin, bukan camilan.
Bahaya Emosional: Jangan Makan Bila Kamu Sedang Menderita Kesepian
Kesepian adalah pemicu utama makan berlebih. Namun, jangan makan bila kamu sedang menderita rasa sepi. Makanan tidak bisa memelukmu balik. Dr. Lilian Cheung dari Harvard School of Public Health menjelaskan bahwa makanan tinggi gula memang memberikan lonjakan dopamin sementara. Namun, ini hanyalah “plester” sesaat.
Setelah gula darah turun, perasaan negatif itu akan kembali, bahkan lebih parah karena ditambah rasa bersalah. Penelitian deep research neurobiologi menunjukkan bahwa otak yang kesepian merespons gambar makanan berkalori tinggi lebih aktif daripada otak yang bahagia. Lawan dorongan ini. Ingat, jangan makan bila kamu sedang menderita, carilah koneksi manusia atau kenyamanan fisik lainnya.
Solusi: Istirahat, Relaksasi, dan Pelukan
Jika jangan makan bila kamu sedang menderita adalah larangannya, lalu apa solusinya? Jawabannya adalah Self-Soothing. Saat kamu merasa hancur, tubuhmu sebenarnya memberi tanda butuh istirahat, relaksasi, atau pelukan hangat.
Dr. Herbert Benson, pelopor Mind/Body Medical Institute, menyarankan teknik “Respon Relaksasi” untuk memutus siklus stres. Alih-alih membuka kulkas, cobalah teknik pernapasan dalam atau cari pelukan. Oksitosin dari pelukan jauh lebih ampuh menenangkan sistem saraf daripada cokelat. Jadi, jangan makan bila kamu sedang menderita; peluklah guling, hewan peliharaan, atau orang tersayang.
Tidur Adalah Obat Terbaik
Terkadang, lapar hanyalah masker dari rasa kantuk. Kurang tidur meningkatkan hormon ghrelin (pemicu lapar). Studi dari University of Chicago menemukan bahwa orang yang kurang tidur cenderung memilih camilan dengan karbohidrat tinggi. Maka, jangan makan bila kamu sedang menderita kelelahan. Matikan lampu, tarik selimut, dan tidurlah.
eviindrawanto.com
