
Cuci parigi pusaka selalu berhasil membius ribuan pelancong untuk merapat ke Pulau Banda. Sobat JEI, ritual adat 10 tahun sekali ini bukan sekadar tradisi membersihkan sumur tua yang berumur lebih dari 400 tahun. Tradisi ini menyimpan jejak sejarah penyebaran Islam, legenda kucing penunjuk mata air, hingga perayaan kohesi sosial budaya setempat. Lewat artikel ini, kita akan mengupas tuntas pesona magisnya, menyimak kronologi ritual adat cuci parigi pusaka di Bandaneira, hingga mengulik khasiat air sumur keramat banda neira yang tersohor.
Ringkasan Tentang Cuci Parigi Pusaka
- Cuci Parigi Pusaka adalah ritual adat 10 tahun sekali di Pulau Banda yang menggabungkan sejarah Islam dan tradisi lokal.
- Ritual ini dimulai dengan sejarah sumur keramat yang ditemukan dengan bantuan seekor kucing pada abad ke-15.
- Ikatan Pela Gandong antara Kampung Baru dan Lonthoir memperkuat hubungan sosial dan menyelesaikan konflik lokal.
- Puncak acara melibatkan 99 pria menimba air dari sumur keramat, yang diyakini memiliki khasiat untuk kesuburan dan kesehatan.
- Setelah ritual, kain gajah diarak sebagai simbol penyucian, dan ritual diakhiri dengan rencana untuk diulang 10 tahun lagi.
Sejarah 4 Abad dan Legenda Kucing Penunjuk Mata Air
Ahli sejarah kebudayaan Islam sepakat bahwa eksistensi sumur keramat ini berkaitan erat dengan masa awal syiar agama di Kepulauan Banda pada abad ke-15. Kisah tutur masyarakat Lonthoir menyebutkan seorang ulama dari Timur Tengah sempat kebingungan mencari air untuk berwudu. Sang ulama lalu mengikuti seekor kucing peliharaan yang menuntunnya mendaki bukit. Di puncak bukit itulah sang ulama menemukan mata air yang kini kita kenal sebagai Parigi Pusaka. Pakar hidrologi sampai hari ini masih takjub melihat sumur sedalam 4 meter di ketinggian 300 mdpl ini terus memancarkan air melimpah tak kenal musim selama lebih dari 4 abad.
Ikatan Pela Gandong Kampung Baru dan Lonthoir
Saya sudah merapat ke Pulau Banda Naira sejak 11 November lalu untuk merekam awal kronologi ritual adat cuci parigi pusaka di Bandaneira. Perahu motor memisahkan Naira dan Lonthoir dengan jarak tempuh sekitar 15 menit. Warga menggelar rentetan upacara di dua lokasi utama, yakni Lonthoir dan Kampung Baru. Sosiolog menyebut ikatan Pela Gandong antara kedua kampung ini sebagai sistem resolusi konflik lokal dan perekat sosial terkuat di Maluku. Kampung Baru bertindak sebagai saudara muda (Gandong) dari Kampung tua Lonthoir.
Pela artinya ikatan atau persatuan. Gandong artinya saudara. Singkatnya Pela Gandong adalah suatu ikatan persatuan antar dua kampung, suku atau agama yang berbeda dengan saling mengangkat saudara.
Upacara Buka Kampung dan Tari Cakalele
Setiap kali warga ingin menggelar hajatan sakral, mereka selalu mengawali dengan upacara Buka Kampung. Tradisi malam hari ini berisi lantunan doa meminta izin kepada Allah SWT dan penghormatan kepada roh leluhur. Antropolog agama memandang tradisi Buka Kampung sebagai wujud peleburan harmonis antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal masyarakat Banda. Menjelang hari H, warga juga sibuk mempersiapkan busana Tari Cakalele, menyalakan kemenyan, dan meracik bunga rampai.
Simbol Bambu Berhias dan Luka Sejarah Banda
Rumah Adat Kampung Baru bersolek dengan hiasan janur kuning melengkung. Lima batang bambu berdiri lurus berhias lilitan kain merah di tengah halaman. Peneliti sejarah mencatat bambu ini melambangkan keteguhan iman masyarakat sekaligus merekam jejak penderitaan rakyat Banda pada masa lalu. Kain merah di puncak bambu menyimbolkan kepala 44 Orang Kaya Banda. Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen membantai para pemangku adat ini pada 8 Mei 1621 demi ambisi monopoli pala. Kain merah yang menjuntai melambangkan usus terburai akibat tebasan pedang algojo.
Lima orang perempuan setengah baya, bersanggul, berkebaya putih dengan sampiran selendang pink di pinggang, keluar dari Rumah Adat. Masuk ke halaman rumah di depannya dimana seorang wanita usia lanjut berpakaian hitam-hitam sudah menunggu. Beliau adalah salah satu tetua adat. Kelima wanita tersebut memakaikan selendang yang juga hitam ke bahunya.
Kemudian lima Penari Cakalele datang menghampiri. Berjongkok memberi salam, menari sejenak dan mendahului ibu tetua adat menuju ke halaman rumah adat.
Kronologi Ritual Adat Cuci Parigi Pusaka di Bandaneira
Rangkaian kronologi ritual adat cuci parigi pusaka di Bandaneira berlanjut dengan prosesi menjemput para tamu kehormatan dari seberang pulau.
Menunggu Kedatangan Saudara Gandong
Pada 13 November, saya menyeberang ke Lonthoir. Warga sudah memadati Pantai Batu Lubang Lahar sejak pukul empat sore. Panglima adat duduk tenang menanti saudara Gandong dari Kampung Baru. Begitu kora-kora muncul dari batas cakrawala, warga Lonthoir bersorak riang gembira. Pemuda Lonthoir segera mengangkat kursi-kursi rotan ke bibir pantai. Mereka membopong tamu satu per satu agar kaki para saudara Gandong tidak basah terkena air laut. Ahli sosiologi melihat prosesi membopong tamu ini sebagai bahasa non-verbal tingkat tinggi yang melambangkan rasa sayang dan penghormatan mutlak.
Puncak Pembersihan dan Filosofi Angka 99
Hari keempat (14/11) menjadi puncak kemeriahan pesta rakyat. Semua perantau Banda wajib pulang kampung halaman. Gubernur Maluku membuka ritual utama dengan menabuh tifa dengan lantang. Sebanyak 99 pria berpakaian serba putih dan berikat kepala kuning mengarak perahu adat mendaki anak tangga menuju sumur. Akademisi kebudayaan Islam mengaitkan partisipasi 99 pria ini dengan representasi Asmaul Husna, yang bermakna puji-pujian paripurna kepada Tuhan. Delapan puluh satu pria bertugas menimba sumur dan berdiri rapi berjejer mengisi sembilan anak tangga.
Berebut Berkat Air Sumur Keramat Banda Neira
Petugas mulai menimba sumur dengan cekatan dan menyiramkan air ke segala arah. Masyarakat setempat sangat meyakini air sumur keramat banda neira selalu membawa berkat kesuburan dan kesehatan bagi siapa pun yang menerimanya.
Iringan Syair Kabata Menambah Magis Suasana
Sastra lisan Kabata terus menggema menemani para pria menguras air sumur pertama. Ahli geologi menilai sistem koneksi lorong bawah tanah antar dua sumur ini sebagai fenomena hidrologi kuno yang luar biasa cerdas. Masyarakat antusias berebut mendekat demi mendapat siraman air sumur keramat banda neira. Beberapa pengunjung penuh semangat mengisi botol kosong mereka. Banyak juga pengunjung mengoleskan lumpur parigi ke kulit tubuh. Pakar dermatologi mengaitkan sensasi dingin lumpur parigi ini dengan tingginya kandungan mineral bumi yang terbukti ampuh meredakan suhu panas kulit. Doa salawat nabi terus bersahutan membuat suasana sakral terasa makin magis.
Baca juga:
Mengarak Kain Gajah Sebagai Simbol Penutup
Setelah sumur kering, warga menyeka sisa kotoran di dinding sumur menggunakan kain putih sepanjang 99 depa. Nyanyian Iriyoyo yang penuh kegembiraan dan tawa berkumandang di udara. Matahari yang menyengat tidak mengurangi antusias parsipan pembersihan sumur keramat di Lonthoir Banda Neira ini.
Peneliti sejarah maritim meyakini penyebutan ‘Kain Gajah’ berakar dari jejak kultural saudagar India dan Timur Tengah yang dulu berniaga rempah di Banda. Gajah melambangkan hewan tangguh dan penyerap air terkuat. Setelah menyerap sisa lumpur dan daun pala, ratusan perempuan mengarak kain kotor ini menuju pantai tanpa menggunakan alas kaki. Mereka mencuci kain ini berjemaah hingga bersih sebagai simbol membuang sial dari tanah Lonthoir.
Warga kemudian menjemur dan menyimpan kain sakral ini rapat-rapat untuk ritual adat 10 tahun sekali edisi berikutnya. Sampai jumpa 10 tahun lagi di Banda Neira!
Cara Menuju Banda Neira dari Soekarno-Hatta (Jakarta)
Sobat JEI pasti tertarik berkunjung setelah membaca kisah memukau di atas. Kamu bisa merencanakan perjalanan dengan rute berikut jika berangkat dari Jakarta (CGK):
- Penerbangan ke Ambon: Ambil penerbangan langsung dari Bandara Soekarno-Hatta (CGK) menuju Bandara Pattimura, Ambon (AMQ). Maskapai seperti Garuda Indonesia, Batik Air, atau Lion Air rutin melayani rute ini. Harga tiket pesawat satu arah berkisar antara Rp 1.600.000 hingga Rp 3.200.000.
- Melanjutkan ke Banda Neira: Setiba di Ambon, kamu punya dua opsi transportasi lanjutan menuju Banda Neira:
- Pesawat Perintis (Susi Air): Memakan waktu tempuh sekitar 45 menit mendarat di Bandara Bandanaira (NDA). Tiketnya cukup terjangkau, sekitar Rp 350.000 – Rp 450.000 (pastikan kamu memesan tiket dari jauh-jauh hari karena kursi sangat terbatas).
- Kapal Cepat (Express Bahari): Memakan waktu tempuh 5-6 jam menyeberangi Laut Banda yang biru. Harga tiket kapal mulai dari Rp 450.000 hingga Rp 650.000.
- Total Estimasi Biaya: Siapkan bujet tiket perjalanan satu arah kurang lebih sekitar Rp 2.500.000 hingga Rp 4.000.000.
Menunggu Gandong di Lonthoir
Baca juga : 5 Rekomendasi Wisata Sejarah di Ambon Manise
Baca juga : Masak di Rumah Adat Lonthoir
Terakhir kain gajah dikembalikan ke rumah adat Lonthoir untuk dikeringkan. Lewat sejumlah prosesi lagi kain akan disimpan kembali digunakan 10 tahun yang akan datang.
Dengan demikian cuci parigi pusaka, satu ritual adat sakral di Kepulauan Banda berakhir. Sampai bersua 10 tahun akan datang!

















