
Ini Dia Rahasia Cabe Rawit Berbuah Lebat dan Cantik
Baru-baru ini saya mengunjungi kebun percontohan organik milik kerabat di Lampung. Mata saya langsung tertuju pada deretan pohon cabe rawit organik subur. Pohonnya tampak segar. Warnanya merah cemerlang.
Pemandangan ini membuat saya heran. Saya juga punya pohon cabe rawit di rumah. Tapi, buahnya tampak agak buram, tidak berkilat seperti di sini.
Padahal perawatannya mirip. Saya tidak menggunakan zat kimia. Saya rajin menyiramnya dengan air bekas cucian beras atau air cucian ikan. Lantas, apa rahasianya?
Mengapa Cabe Rawit Organik Subur dan Berkilat?
Pemilik kebun melihat kebingungan saya. Ia lalu bertanya satu hal aneh. Apakah cabe rawit saya pernah diajak “ngobrol”?
Hah? Ngobrol?
“Iya, ngobrol layaknya bicara dengan teman,” tanyanya serius.
Tentu saja saya menggeleng. Saya punya cukup teman untuk chatting. Masa harus bicara dengan sebatang pohon?
“Di situ letak kesalahannya, Nyonya,” katanya sambil nyengir.
Ia menjelaskan bahwa pohon adalah makhluk hidup. Mereka bereaksi terhadap rangsangan lingkungan. Buktinya sederhana. Tanaman akan mati tanpa air. Mereka enggan berbuah lebat jika tanah minim nutrisi.
Tapi apa hubungannya dengan mengobrol?
Fakta Ilmiah Manfaat Ngobrol dengan Tanaman
Ternyata, tanaman punya “emosi”. Entah bagaimana caranya, pohon tahu jika tuannya menyayangi mereka. Ada vibrasi atau getaran tak kasat mata di antara kita dan tanaman sekitar.
Sebelum Sobat JEI menganggap ini klenik, mari kita lihat faktanya. Kerabat saya menceritakan sebuah penelitian menarik.
Riset dari Royal Horticultural Society (RHS) di Inggris pernah membuktikan hal ini. Dalam studi tersebut, mereka menemukan bahwa tanaman tomat tumbuh lebih cepat jika mendengarkan suara manusia. Menariknya, suara wanita memberikan efek lebih signifikan daripada suara pria.
Mengapa bisa begitu?
Secara biologis, suara adalah getaran gelombang. Gelombang suara ini dapat menstimulasi sel tanaman. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Integrative Agriculture, gelombang suara tertentu dapat meningkatkan pembelahan sel dan kadar hormon pertumbuhan pada tanaman.
Jadi, manfaat ngobrol dengan tanaman bukan sekadar mitos. Getaran suara kita membantu membuka stomata (mulut daun). Hal ini membuat penyerapan nutrisi dan air menjadi lebih efisien. Hasilnya? Tanaman jadi lebih sehat dan berbuah lebat.
Baca juga:
Pengaruh Musik Klasik pada Tanaman
Kerabat saya juga menyinggung soal musik. Tanaman hias yang rutin mendengarkan lagu klasik, khususnya Beethoven, cenderung menghasilkan bunga lebih bagus.
Ini sejalan dengan eksperimen Dorothy Retallack dalam bukunya The Sound of Music and Plants. Ia menemukan bahwa tanaman condong tumbuh ke arah sumber musik klasik yang menenangkan. Sebaliknya, mereka menjauh dari musik rock yang keras dan bising.
Tanpa musik atau obrolan, tanaman mungkin tetap hidup jika dirawat. Namun, mereka tidak akan memancarkan “kebahagiaan” yang sama.
Energi Positif untuk Pertumbuhan
Obrolan ini membuka ingatan saya pada novel The Celestine Prophecy. Buku itu juga membahas hal serupa. Makanan atau tanaman yang akan masuk ke tubuh kita, harus kita perlakukan dengan hormat.
Energi atau intention (niat) kita mengalir ke tanaman tersebut. Saat kita mengajak mereka bicara, kita menyalurkan karbon dioksida (CO2) yang mereka butuhkan untuk fotosintesis. Sebagai gantinya, mereka memberi kita oksigen. Simbiosis mutualisme yang indah, bukan?
Sampai di sini, penjelasannya terdengar logis. Cabe rawit organik subur di depan saya ini adalah buktinya. Mereka tidak hanya kenyang air beras, tapi juga kenyang perhatian.
Tapi, mengajak pohon ngobrol? Sepertinya saya butuh waktu untuk membiasakan diri.
Bagaimana dengan Sobat JEI? Sudah siap menyapa tanaman di halaman hari ini?
— Evi
