
Sobat JEI, filsuf Yunani kuno Heraclitus pernah berkata, “Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.”
Kutipan ini menampar kesadaran saya baru-baru ini. Berubah memang kodrat makhluk hidup yang tak mungkin kita hindari. Momen ini saya rasakan saat menghadiri reuni dengan teman akrab masa SD hingga SMP. Kami berkumpul di sebuah kafe di Johar Baru, Jakarta Pusat, tak jauh dari sekolah kami dulu.
Entah ini reuni keberapa, namun rasa takjub selalu muncul. Kami tertegun melihat perubahan fisik masing-masing. Garis tawa makin dalam. Cekungan mata kian tajam. Tak hanya fisik, gaya berpakaian kami pun mengalami transformasi drastis.
Dinamika Perubahan Gaya dan Identitas
Teman saya kini tampil tertutup rapat. Ia bahkan tertawa melihat cara saya mengenakan kerudung. Katanya, saya lebih mirip kaum hippies ketimbang wanita muslimah.
Saya membalas candaannya dengan santai. “Siapa bilang ini kerudung muslimah? Saya menutup kepala untuk menutupi uban, bukan aurat,” jawab saya.
Dialog ringan ini mengingatkan saya pada konsep psikologi Enclothed Cognition dari Hajo Adam dan Adam Galinsky. Mereka menyebutkan bahwa apa yang kita pakai dapat mempengaruhi proses psikologis pemakainya. Gaya berpakaian kami yang berubah adalah cermin dari evolusi identitas dan perjalanan hidup kami yang berbeda.
Baca di sini tentang : Pengalaman Lansia Trekking di Baduy Luar – Ujian Napas dan Lutut Menuju Gajeboh
Realita Usia dan Life Skill Mengelola Waktu
Di balik tawa reuni, terselip kabar duka. Teman saya bercerita bahwa beberapa kawan sepermainan kami telah berpulang. Kabar ini sejatinya tidak mengejutkan. Beberapa teman kuliah dan SMA saya pun telah mendahului kami.
Namun, topik tentang kematian ini terus bergelayut di pikiran. Teman-teman kami pergi di usia yang relatif muda. Jika kita melihat patokan kelahiran tahun 1965-1966, rata-rata usia mereka baru menginjak 46-47 tahun saat itu. Bahkan, ada yang pergi sebelum ulang tahun ke-40.
Data dari World Health Organization (WHO) sering menyoroti bahwa penyakit tidak menular (seperti jantung dan stroke) kini menjadi penyebab utama kematian dini di usia produktif. Fakta ini memaksa kita untuk berubah. Kita harus sadar betapa singkatnya durasi manusia di bumi.
Baca juga:
Efisiensi Waktu sebagai Tantangan
Mari kita hitung secara matematis. Jika seseorang menyelesaikan S1 pada usia 23 tahun, sisa waktu produktif murni mungkin hanya sekitar 23-24 tahun. Angka ini pun masih harus kita kurangi dengan waktu tidur.
Studi dari National Sleep Foundation menyebutkan manusia menghabiskan sepertiga hidupnya untuk tidur. Betapa singkat dan tidak efisiennya waktu yang tersisa! Di sinilah pentingnya life skill manajemen waktu dan kesehatan menjadi prioritas utama.
Meningkatkan Kemampuan Kita Beradaptasi Terhadap Takdir
Kesadaran ini merubah saya secara fundamental.
Selama ini, saya jarang memikirkan kematian. Padahal, ajaran agama selalu mendidik kita untuk menerima takdir, termasuk kematian. Kelahiran dan kematian ada di tangan Tuhan (sementara urusan jodoh, izinkan saya skip dulu ya, Sobat JEI).
Maut tidak memilih korban berdasarkan umur. Ia bekerja acak. Statistik di negara maju mungkin mencatat angka harapan hidup hingga 80 tahun. Namun, realitas di lapangan sering kali berbeda. Banyak teman saya tak mampu menyelesaikan separuh dari angka tersebut.
Dalam Islam, roh berasal dari Sang Pencipta. “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya…”
Pernyataan ini menggelitik nalar. Jika kita semua ditiupkan zat yang begitu mulia, mengapa takdir melempar kita ke lorong nasib yang berbeda?
Ahli biologi molekuler menjelaskan tentang telomere, bagian ujung DNA yang memendek seiring penuaan dan stres. Ini membuktikan bahwa tubuh kita memiliki “batas waktu” biologis yang unik. Kita tidak bisa sekadar pasrah. Kita perlu meningkatkan kemampuan kita beradaptasi dengan gaya hidup sehat untuk memaksimalkan “jatah” waktu tersebut.
Kematian Datang Tanpa Suara
Apa yang sebenarnya terjadi? Saya tidak tahu pasti.
Yang saya tahu, mulai sekarang pola pikir harus berubah. Jangan menganggap kematian itu masih jauh. Jangan berpikir ia akan membunyikan bel peringatan. Tidak. Kematian tidak datang dengan petasan atau kembang api. Ia datang diam-diam.
Charles Darwin pernah mengingatkan, “Bukan spesies yang paling kuat yang bertahan hidup, juga bukan yang paling pintar, tetapi yang paling responsif terhadap perubahan.”
Maka, life skill terbaik yang bisa kita miliki saat ini adalah kesadaran. Sadar untuk hidup lebih baik, lebih sehat, dan lebih bermakna sebelum waktu itu habis.
Begitu lah sedikit renungan saya tentang berubah adalah sebuah keniscayaan yang perlu kita adobsi betatapa Pentingnya Life Skill Adaptasi
Salam, Evi
