
Halo, Sobat JEI! Pernahkah kalian merasa lelah tanpa sebab yang jelas? Seringkali, pengalaman hidup jadi beban di pundak yang memberatkan langkah kita sepanjang hayat. Psikolog Dr. Bradley Nelson dalam bukunya The Emotion Code menyebutkan bahwa emosi yang terperangkap (trapped emotions) dari masa lalu bisa bermanifestasi menjadi beban fisik dan mental yang nyata.
Tanggal 22-24 April lalu, saya mengikuti pelatihan Character Building for SMEs Entrepreneurship. Acara ini merupakan program PDKM Departemen Perdagangan yang difasilitasi oleh Pranala Magnidaya. Pelatihan ini sangat cocok untuk blog saya ini yang berkutat di traveling, budaya dan pengembangan diri. Saya datang tanpa ekspektasi, hanya berpegang pada pepatah Zen kuno: “Ketika murid siap belajar, maka guru akan muncul dengan sendirinya.”
Roller Coaster Emosi dan Pembelajaran Eksperiensial
Saya memutuskan untuk tidak mencatat. Saya bertekad menikmati momen. Wirzal, fasilitator kami, mengatakan bahwa kami akan menaiki roller coaster kehidupan. Benar saja. Ada tawa saat mendengar lelucon, dan ada hening saat kami menyelami batin.
David Kolb, seorang ahli teori pendidikan, menyebut metode ini sebagai Experiential Learning. Kita belajar paling efektif melalui refleksi atas pengalaman langsung, bukan sekadar teori. Saat musik mengalun dan permainan kata dimulai, kami dipaksa melihat jauh ke dalam diri. Di situlah kami mulai menyadari bagaimana pengalaman hidup jadi beban di pundak tanpa kita sadari.
Melampaui Logika dengan “Permainan Anak”
Awalnya, saya merasa konyol. Bayangkan, orang dewasa berbaris memegang pundak seperti kereta api mengelilingi ruangan. Ego saya berontak. “Ini permainan anak kecil, bodoh sekali,” pikir saya. Namun, Carl Jung, psikiater ternama Swiss, pernah menekankan pentingnya terhubung dengan Inner Child untuk penyembuhan jiwa.
Terus-menerus dibombardir kalimat afirmasi membuat logika dangkal saya runtuh. Siapa bilang orang dewasa haram bermain? Saya akhirnya larut dalam kegembiraan dan kesedihan bersama teman-teman senasib. Momen ini mengajarkan saya meluruhkan ego untuk menerima cara melepaskan beban-beban di pundak melalui kegembiraan sederhana.
Baca juga:
Self-Knowing, Cermin Jujur Transformasi Diri
Inti pelatihan ini adalah self-knowing atau mengenal diri sendiri. Daniel Goleman, penulis Emotional Intelligence, menyatakan bahwa kesadaran diri adalah kunci utama kecerdasan emosional. Tanpa itu, kita buta terhadap perilaku sendiri.
Ujian datang saat sesi “Trust Walk”. Mata saya ditutup dan nasib diserahkan pada buddy (pasangan) selama satu jam. Ternyata, saya tidak cukup tabah menaati aturan. Masalahnya sepele: saya enggan menyodorkan mulut untuk disuapi orang baru.
Saat buddy menyuapkan makan, saya mengintip sedikit dari balik penutup mata. Sekadar memastikan sendok tidak salah sasaran. Ada rasa bersalah, tapi rasa ilfil (jika orang melihat saya menganga) jauh lebih besar. Ini adalah bukti nyata betapa sulitnya saya bersikap rentan (vulnerable). Padahal menurut peneliti Brené Brown, kerentanan bukanlah kelemahan, melainkan ukuran keberanian kita.
Akar Masalah – Harapan Ideal vs Realita
Sobat JEI, kita lahir seperti kertas putih. Seiring waktu, kita mengadopsi nilai kelompok agar diterima. Teori Social Constructivism menjelaskan bahwa kita membangun realitas berdasarkan kesepakatan sosial. Sayangnya, harapan ideal ini sering bentrok dengan pengalaman pribadi.
Contoh sederhana:
- Keluarga bahagia “harus” lengkap (ayah, ibu, anak).
- Ayah “harus” menafkahi.
- Ibu “harus” lembut.
Ketika realita tidak sesuai (ayah tidak menafkahi atau ibu bersikap kasar), timbullah luka batin. Leon Festinger menyebut ini sebagai Cognitive Dissonance (disonansi kognitif), ketidaknyamanan mental akibat benturan antara keyakinan ideal dan kenyataan. Ketidakcocokan inilah yang membuat pengalaman hidup jadi beban di pundak kita.
Cara Melepaskan Beban-Beban di Pundak
Wirzal menyebut beban ini sebagai “gandulan”. Gandulan inilah yang menciptakan jarak antara kita dan cita-cita. Kita merasa terlalu tua untuk spontan, atau selalu punya alasan (excuse) untuk tidak berubah.
Menyedihkan jika seseorang membawa beban ini seumur hidup karena tidak mengenal dirinya sendiri. Lalu, bagaimana cara melepaskan beban-beban di pundak tersebut?
- Sadari Keberadaannya: Akui bahwa kita memilikinya. Seperti saya mengakui ketidakmampuan saya terlihat “jelek” saat makan.
- Patahkan Pola Pikir: Mindfulness mengajarkan kita untuk mengamati pikiran tanpa menghakiminya.
- Pilih Respon Baru: Kita punya kendali penuh untuk melepas label sosial yang tidak relevan.
Tujuan pelatihan ini adalah membantu kami melepas gandulan tersebut. Ketidaksediaan saya terlihat menganga saat makan adalah salah satu “gandulan” saya (gengsi/citra diri). Padahal, bukankah dia juga punya mulut dan gigi? Wilayah itu tidak sakral. Tapi ya, namanya juga Evi.
Sobat JEI, kutipan dari Sundance Burke ini mungkin bisa jadi renungan kita bersama:
“You have only two choices. Live with your belief or die to your belief and live.”
Mari kita pilih untuk benar-benar hidup.
