
Key Takeaways
- Penemuan kembali Evi dan Lila menunjukkan kekuatan Hukum Tarik-Menarik dalam menarik keberuntungan.
- Lila mengalami perubahan positif dan mempraktikkan Cognitive Reframing untuk melihat keputusan sulit sebagai peluang baru.
- Keberuntungan bukanlah hal mistis; itu adalah hasil dari pola pikir yang terbuka, tindakan positif, dan keberanian menghadapi perubahan.
Kunjunganku ke rumah kakak di Depok siang itu berbuah kejutan manis. Aku sedang menepikan mobil saat sebuah sepeda motor melintas. Pengemudinya seorang remaja putri. Di boncengan, duduk seorang ibu.
“Evi!” panggil ibu itu.
Aku terlonjak. Ternyata dia Lila (nama samaran), tetangga sekaligus teman karibku. Dulu kami sangat dekat sebelum keluarga kami pindah. Setahuku, Lila menetap di Kalimantan setelah menikah. Dalam benakku, dia masih berada di seberang pulau.
Lila turun dari boncengan sambil tertawa renyah. Dia menghampiriku. Perjumpaan mendadak ini langsung berubah meriah. Kami berteriak heboh layaknya dua gadis kampung yang lama tak sua. Berpelukan ala Teletubbies, cipika-cipiki, dan saling menumpahkan rasa rindu.
Tentu fisik kami sudah berubah. Siapa yang mampu melawan jejak waktu di wajah dan tubuh? Namun, pertemuan ini sungguh mengejutkan bagiku. Sobat JEI, beberapa hari terakhir aku memang terus memikirkannya.
Law of Attraction dan Sinkronisitas Semesta
Sebelum pertemuan itu, aku memang sering berpikir tentang Lila. Sampai-sampai aku bertanya pada kakak. Saat berbincang dengan kakak itu, dia bilang Lila masih di Kalimantan. Namun, sesekali Lila memang terlihat di rumah ibunya yang kini sakit-sakitan.
Dalam euforia reuni itu, aku menyinggung soal Law of Attraction (Hukum Tarik-Menarik). Boleh percaya atau tidak, hukum alam ini sedang bekerja. Aku memikirkannya, bahkan menanyakannya, tanpa menyangka kami akan bertemu di titik yang sama hari itu.
Secara ilmiah, fenomena ini berkaitan dengan Reticular Activating System (RAS) di otak kita. RAS bertindak sebagai filter informasi. Saat kita fokus memikirkan seseorang atau sesuatu (seperti caraku memikirkan Lila), otak akan menyaring realitas untuk menemukan hal tersebut. Inilah cara kita menarik keberuntungan atau pertemuan tak terduga. Semesta merespons frekuensi pikiran kita melalui sinkronisitas.
Sayangnya, sahabatku itu belum familiar dengan buku The Secret atau konsep ini. Obrolan mendalam soal energi semesta jadi sedikit meleset dari konteks. Namun, kami sepakat untuk melanjutkan ngobrol di teras rumah kakak sore harinya.
- Baca juga : Peta Stratifikasi Sosial : Kau dan Aku Beda
Mengubah Sudut Pandang untuk Menarik Keberuntungan
Obrolan sore itu membuka mataku. Lila menampilkan karakter yang jauh lebih positif dibanding masa lalu. Dia memancarkan aura ketenangan yang, menurut riset psikologi positif, adalah kunci utama dalam menarik keberuntungan hidup.
Kami bertukar cerita rahasia. Lila mengaku rumah tangganya mengalami masalah serius. Dia bersyukur mengetahui kesalahan tersebut lebih awal. Ini membuatnya bisa mengambil keputusan cepat: meninggalkan Kalimantan dan pulang merawat ibunya.
Kebetulan, ayahnya sudah lama meninggal. Sang ibu butuh perhatian khusus. Lila merasa ini momen tepat untuk berbakti sekaligus menata ulang hidup.
Kekuatan Cognitive Reframing
Aku terharu mendengar pengakuannya. Lila merasa “beruntung” telah ditegur Allah SWT. Dia merasa beruntung suaminya memutuskan untuk ikut pindah demi dia dan anak-anak. Padahal, kehidupan mereka di Kalimantan sudah mapan secara ekonomi.
Di sini Lila mempraktikkan apa yang disebut Cognitive Reframing (pembingkaian ulang kognitif). Dia tidak melihat kepindahan ini sebagai kemunduran atau “kesialan”. Dia membingkainya sebagai kesempatan belajar dan memulai lembaran baru. Pikirku, pola pikir inilah yang sejatinya menarik keberuntungan baru ke dalam hidupnya. Energi positifnya mengubah musibah menjadi berkah.
Baca juga:
Definisi Keberuntungan yang Sebenarnya
Lila akan memulai segalanya dari nol. Dia mengaku tidak pandai, tapi merasa punya bakat dagang. Bersama suami, dia merancang produk dan membidik pasar baru.
“Bukankah tak ada tembok yang terlalu tinggi bagi mereka yang tahu apa yang mereka inginkan?” ucapnya retoris.
Kalimat itu benar adanya, Sobat JEI. Optimisme Lila mengingatkanku pada konsep keberuntungan menurut filsuf Seneca: “Keberuntungan adalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan.”
Lila sudah melakukan “persiapan” mental. Dia siap bekerja keras. Maka, “kesempatan” (pasar dan rezeki) pasti akan terbuka.
Apakah Kita Bisa Menciptakan Keberuntungan?
Setelah pertemuan itu, aku merenung. Apakah keberuntungan punya parameter pasti? Apakah sama dengan memenangkan lotre?
Menurut Richard Wiseman, penulis The Luck Factor, orang yang merasa dirinya beruntung cenderung lebih rileks dan terbuka. Sikap ini membuat mereka lebih peka melihat peluang yang lewat. Jadi, menarik keberuntungan bukanlah hal mistis. Itu adalah hasil dari pola pikir terbuka, tindakan positif, dan keberanian menghadapi perubahan.
Jadi, apa definisi keberuntungan menurutmu, Sobat JEI?
Salam,
— Evi
