Key Takeaways
- Masjid Merah Panjunan adalah destinasi wisata religi yang unik di Cirebon dengan arsitektur yang mencerminkan toleransi budaya.
- Masjid ini didirikan oleh Pangeran Panjunan pada abad ke-15 dan terkenal dengan dinding bata merah dan keramik bergambar cerita Alkitab.
- Meskipun tidak digunakan untuk sholat Jumat, masjid ini tetap berfungsi untuk sholat lima waktu dan pengajian rutin.
- Pengunjung dapat menikmati keindahan masjid dan mendapatkan informasi sejarah dari pengurus masjid yang ramah.
- Waktu terbaik untuk berkunjung adalah menjelang sore untuk menangkap keindahan foto dinding bata merah yang dramatis.
Teman-teman, pernahkah mendengar tentang sebuah masjid berumur ratusan tahun yang dindingnya merah menyala, dihiasi piring keramik bergambar cerita Alkitab, namun tidak dipakai sholat Jumat?
Jika kalian sedang mencari destinasi wisata religi Cirebon yang anti-mainstream, Masjid Merah Panjunan Cirebon adalah jawabannya. Berbeda dengan kemegahan Masjid Raya pada umumnya, masjid ini tersembunyi di dalam gang, menawarkan ketenangan magis dan arsitektur yang seolah bercerita tentang toleransi masa lalu. Mari kita telusuri jejak sejarah dan fakta uniknya yang mungkin belum banyak orang tahu.
Pesona Masjid Merah Cirebon yang Tersembunyi
Masjid Merah Panjunan sering masuk dalam wishlist para pemburu sejarah dan fotografer. Sesuai namanya, masjid ini sangat ikonik dengan warna merah bata yang mendominasi seluruh bangunannya.
Banyak yang menyebut kawasan ini sebagai Kampung Arab atau Kampung Wali. Saat kaki mendarat di Desa Panjunan, Cirebon, teman-teman akan merasakan atmosfer masa lalu yang kental. Lokasi Masjid Merah Panjunan sendiri tidak berada di pinggir jalan raya besar. Dari jalan raya Karanggetas, kita harus masuk ke dalam gang sekitar 100 meter. “Bonus” dari berjalan kaki masuk ke dalam gang ini adalah deretan rumah tua yang masih terpelihara, seolah menyambut kita sebelum tiba di bangunan utama.
Meskipun terlihat ringkih karena terbuat dari kayu dan bata tua, siapa sangka bangunan ini sudah berdiri kokoh sejak abad ke-15? Ini adalah bukti otentik kejayaan Kerajaan Islam di Kota Udang.
Sejarah Masjid Merah Panjunan: Jejak Sang Pangeran dari Baghdad
Bagi teman-teman yang penasaran dengan sejarah Masjid Merah Panjunan, kita harus mundur ke tahun 1480 M. Masjid ini adalah salah satu masjid tertua di Cirebon, seusia dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Pendiri Masjid Merah Panjunan
Pendiri Masjid Merah Panjunan adalah Syarif Abdurrahman, seorang keturunan Arab yang bermigrasi dari Baghdad bersama adik-adiknya. Beliau kemudian dikenal dengan gelar Pangeran Panjunan.
Dikisahkan bahwa Syarif Abdurrahman menjadi murid Sunan Gunung Jati dan divalidasi oleh Pangeran Cakrabuana. Nama “Panjunan” sendiri diambil dari profesi masyarakat setempat kala ituโdan bahkan hingga sekarangโsebagai pembuat gerabah (panjun). Pangeran Panjunan mengajarkan Islam sekaligus keterampilan membuat keramik kepada penduduk sekitar.
Dari Surau Al-Athya Menjadi Masjid
Menurut pengurus masjid, tempat ini awalnya hanyalah sebuah surau atau tajug kecil bernama Al-Athya dengan luas hanya 40 meter persegi. Tempat ini dulunya digunakan sebagai lokasi musyawarah para Wali Songo sebelum berdakwah. Karena jamaah yang semakin banyak, bangunan ini kemudian diperluas menjadi 150 meter persegi seperti yang kita lihat sekarang.
Arsitektur Masjid Merah Panjunan: Simbol Toleransi
Daya tarik utama bagi wisatawan tentu saja arsitektur Masjid Merah Panjunan. Bangunan ini adalah perpaduan harmonis antara budaya Jawa, Tiongkok, Arab, dan Hindu.
Dindingnya terbuat dari bata merah ekspos tanpa plester, menyerupai candi-candi Hindu di Jawa Timur. Pagar keliling yang disebut Kutaosod terbuat dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 meter, memberi kesan kokoh dan misterius.
Keramik Unik dan Mitos Masjid Merah Panjunan
Salah satu detail yang paling mencengangkan adalah hiasan piring keramik yang menempel di dinding. Ini bukan sembarang keramik.
- Keramik Tiongkok: Peninggalan istri Sunan Gunung Jati (Putri Ong Tien), berwarna coklat-putih.
- Keramik Eropa/Belanda: Berwarna biru-putih.
Yang membuat arsitektur Masjid Merah Panjunan ini sangat istimewa adalah adanya keramik yang menggambarkan cerita Alkitab (Perjanjian Lama dan Baru), seperti kisah Nabi Daud (David) memainkan kecapi di hadapan Raja Saul. Ini menunjukkan betapa tingginya nilai toleransi dan akulturasi budaya di Cirebon sejak zaman dahulu. Keramik-keramik ini konon berasal dari Dinasti Ming dan Qing (abad ke-17) serta keramik Belanda abad ke-19.
Fakta Unik: Kenapa Masjid Merah Panjunan Tidak Dipakai Sholat Jumat?
Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul di mesin pencari: “Kenapa Masjid Merah Panjunan tidak dipakai sholat Jumat?”
Jawabannya cukup sederhana namun sarat makna sejarah.
- Status Awal sebagai Tajug: Sejak awal didirikan oleh Pangeran Panjunan, bangunan ini difungsikan sebagai tajug atau mushola untuk sholat lima waktu dan pengajian, bukan masjid jami’.
- Masjid Agung Sang Cipta Rasa: Karena jamaah di Panjunan semakin membludak dan tidak muat lagi, Sunan Gunung Jati memerintahkan pembangunan masjid yang lebih besar, yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa di dekat Keraton Kasepuhan.
- Tradisi: Hingga saat ini, tradisi tersebut dipertahankan. Warga sekitar Panjunan biasanya akan pergi ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa untuk menunaikan sholat Jumat, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan tata tertib kewalian masa lalu.
Saat ini, masjid hanya digunakan untuk sholat lima waktu, sholat Tarawih, dan pengajian rutin.
Lokasi dan Rute ke Masjid Merah Cirebon
Bagi teman-teman yang ingin berkunjung, berikut detail alamat Masjid Merah Panjunan:
- Alamat: Jl. Panjunan No. 43, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.
Rute ke Masjid Merah Cirebon cukup mudah. Jika kalian dari Stasiun Cirebon, jaraknya hanya sekitar 2-3 km. Kalian bisa menggunakan becak atau ojek online menuju Jalan Karanggetas. Sesampainya di sana, perhatikan gang masuk yang biasanya ditandai dengan gapura atau tanya warga lokal arah ke “Masjid Merah”.
- Bertemu Nitisemito di Museum Kretek Kudus
- Buka Puasa Bersama Mercure Serpong Alam Sutera
- Romansa di Kota Bukittinggi
Tips Berkunjung ke Masjid Merah Panjunan
- Waktu Terbaik: Datanglah saat sore hari menjelang Ashar atau Maghrib. Cahaya matahari sore yang menimpa dinding bata merah akan menghasilkan foto yang sangat dramatis.
- Pakaian: Karena ini adalah tempat ibadah yang aktif dan keramat, pastikan mengenakan pakaian yang sopan dan tertutup.
- Berwudhu: Sempatkan berwudhu di tempat wudhu kuno-nya untuk merasakan kesegaran air yang konon memiliki keberkahan tersendiri.
- Bertanya pada Pengurus: Jika beruntung bertemu pengurus masjid, mintalah izin untuk mendengar cerita atau mitos Masjid Merah Panjunan secara langsung. Mereka biasanya sangat ramah menjelaskan detail sejarah yang tidak tertulis di internet.
- Parkir: Jika membawa mobil, parkirlah di jalan besar (Jl. Karanggetas) dan berjalan kaki masuk ke gang, karena akses jalan di depan masjid cukup sempit.
Semoga artikel ini membantu teman-teman yang sedang merencanakan wisata religi Cirebon. Masjid Merah bukan sekadar tumpukan bata, tapi saksi bisu perjalanan Islam yang damai dan indah di tanah Jawa. Selamat menjelajah!
Salam, Evi
Baca juga di sini:





