
Key Takeaways
- Romansa Kayu Apung menggambarkan keindahan kayu apung yang terbentuk oleh alam dan dipengaruhi oleh waktu.
- Konsep Wabi-sabi mengajarkan bahwa ketidaksempurnaan kayu apung mengandung keindahan yang mendalam.
- Kayu apung memiliki peran ekologis penting, memberikan perlindungan dan nutrisi bagi banyak spesies akuatik.
- Kayu apung yang terlihat sebagai limbah bisa bernilai tinggi di tangan seniman dan pecinta Aquascaping.
- Proses curing diperlukan untuk mempersiapkan kayu apung agar aman digunakan dalam akuarium.
Romansa Kayu Apung – Ia memiliki gundukan kayu apung – kayu hanyut – besar yang ditumpuk di dinding rumah sebelah selatan. Ujud kayu-kayu itu terbentuk bersama waktu. Pun oleh alam seperti matahari, hujan, sapuan pasir, dan usapan angin. Membuat tiap batang jadi berbeda. Itulah mengapa ia menyukai semua potongan kayu tua yang entah dibawa ombak dari mana. Ia selalu sayang untuk membakarnya.
Filosofi Keindahan dalam Ketidaksempurnaan
Tapi di sepanjang pantai akan selalu ada kayu apung. Apalagi setelah badai usai. Ia takkan kesulitan menemukan kayu-kayu yang bahkan yang paling disukai sekalipun rupanya untuk dibakar. Dia tahu laut akan memahat lebih banyak. Dan pada malam yang dingin dia akan duduk di kursi besar di depan api, membaca dengan lampu yang berdiri di atas meja kayu tebal, sesekali mendongak untuk mendengar suara-suara ombak di luar.
Angin barat bertiup di luar dan tabrakan ombak di laut selalu riuh. Dari kursinya ia menonton potongan-potongan kayu apung perlahan terbakar di perapian. Kadang dia berbaring di atas karpet di lantai dan mengamati ujung-ujung kayu yang mengandung garam laut dan pasir berubah warna dalam nyala api. Di lantai, matanya segaris dengan kayu yang terbakar. Ia bisa melihat garis api perlahan maju melumat batang rapuh keputihan. Membuatnya sedih dan bahagia.
Semua kayu yang terbakar mempengaruhinya dengan cara ini. Kayu apung yang terbakar selalu melakukan sesuatu terhadapnya, namun tidak bisa ia definisikan. Dia berpikir mungkin salah membakar kayu tersebut padahal dia sangat menyukainya. Herannya ia juga tidak merasa bersalah. Ketika dia berbaring di lantai, ia merasa sedang di bawah angin. Meskipun, sesungguhnya, angin selalu bertiup di sudut bawah rumahnya dan di rumput terendah di pulau itu.
Estetika Wabi-Sabi

Dalam dunia seni, perasaan yang sulit didefinisikan ini selaras dengan konsep Wabi-sabi, sebuah pandangan estetika Jepang yang menerima kefanaan dan ketidaksempurnaan. Driftwood adalah representasi fisik dari filosofi ini: indah justru karena ia lapuk, tidak simetris, dan telah ditempa kerasnya samudra.
Jejak Sastra: Thomas Hudson dan Hemingway
Pada pembukaan di atas itu adalah dua penggal paragraf cantik tentang Thomas Hudson dalam novel karya Earnest Hemingway, The Islands Stream. Buku yang diterbitkan 1970, sembilan tahun setelah pengarang Kilimanjaro itu meninggal dunia. Berkisah tentang seorang seniman dan petualang – seorang pria yang mirip Hemingway sendiri — bernama Thomas Hudson.
Begitu romantisnya. Informasi tentang driftwood membuat saya berpaling kepada Professor Google, paman tercerdik di planet bumi. Mengumpulkan informasi paling remeh sekalipun untuk dibagikan kembali, mengisi kisi-kisi keingintahuan umat manusia abad ke-21. Apa itu driftwood, tanya saya meletakkan buku dan mulai browsing.
Paman Professor membawa saya ke Wikipedia, gudang raksasa yang selalu menjelaskan. Yang juga lahir dari kebaikan hati, para volunteer yang bekerja hanya dengan satu tekad, mencerdaskan peradaban.
Baca juga:
Apa Itu Driftwood?
Driftwood atau Kayu Apung adalah kayu yang telah tercuci di pantai, di laut, danau, sungai atau oleh aksi angin di manapun ia tergeletak. Tergosok dari pasang surut ombak. Terbenturan dengan benda-benda lain selama hanyut. Mereka sering disebut puing-puing laut atau tidewrack.
Keterangan Wiki membuat saya berpikir ke dalam gudang penyimpanan foto di rumah yang selalu punya backup di Google Photo. Pencarian dengan kata kunci driftwood membawa ke ratusan foto yang terkumpul sejak aktif jadi travel blogger 4 tahun lalu. Foto-foto yang diambil tak sengaja dari berbagai perjalanan atau hanya iseng karena tertarik pada bentuk. Ternyata saya telah menyimpan pengetahuan secara tak disadari.
Sisi Gelap: Limbah atau Seni?
Di beberapa daerah tepi pantai, kayu apung merupakan gangguan utama. Dari memperhatikan foto-foto yang diambil, hampir sebagian besar benar. Terutama di Indonesia, kehadirannya bersama sampah-sampah rumah tangga membuat kawasan pantai jadi menyemak.
Namun, di tangan seniman dan pecinta Aquascaping, kayu ini bernilai tinggi. Jenis kayu seperti Malaysian Driftwood, Spider Wood, atau Mopani sering diburu karena karakteristiknya yang unik dan tahan air. Kayu-kayu ini bukan sekadar limbah, melainkan elemen kunci dalam menciptakan ekosistem buatan yang natural.
Peran Ekologis: Kayu Hanyut yang Berguna

Membaca itu ibarat mengupas bawang. Begitu pun dalam Romansa Kayu Apung ini. Setelah lapisan pertama terbuka masih ada lapisan berikut. Hari ini Hemingway atau Thomas Hudson membuka selubung pertama ketidaktahuan saya. Kayu apung yang sekilas tak berharga itu ternyata menyediakan tempat berlindung dan makanan untuk burung, ikan, dan spesies akuatik lainnya saat mengapung di lautan.
Fenomena “Wood Falls” dan Nutrisi Laut Dalam
Secara ilmiah, ketika kayu apung akhirnya tenggelam ke dasar laut dalam, ia menciptakan fenomena yang disebut Wood Falls. Ini adalah oasis kehidupan di gurun pasir dasar laut. Kayu ini menjadi sumber karbon organik langka yang menyokong kehidupan invertebrata khusus, bakteri pengurai kayu, hingga spesies kerang tertentu yang hanya bisa hidup di media ini.
Gribbles (sejenis isopod laut) dan cacing kapal (shipworms) membusukkan kayu secara bertahap, mengubahnya menjadi nutrisi. Sisa-sisa tunggul dan ranting diperkenalkan kembali ke dalam jaringan makanan.
Siklus Karbon dan Kehidupan Mikro

Memang semesta tidak pernah membubazirkan ciptaannya. Tak ada benda yang tak berguna. Kadang-kadang, kayu yang sebagian membusuk hanyut ke darat. Melebur di tanah menjadi pupuk. Kalau tidak, ia menyediakan diri menaungi burung, tumbuhan, cacing, dan spesies lainnya. Pernah kan melihat jamur tumbuh dari jaringan kayu lapuk?
Selain itu, permukaan kayu yang terendam menjadi media tumbuh bagi Biofilm, lapisan mikroorganisme yang menjadi makanan utama bagi udang hias dan ikan-ikan kecil di alam liar maupun di akuarium.
Jangan lupakan pula bahwa kayu apung dapat menjadi fondasi untuk bukit pasir, membantu mencegah erosi pantai secara alami.
Sains di Balik Pengawetan (Curing)

Sebagian besar kayu hanyut adalah sisa-sisa pohon. Dibawa aliran sungai ke laut atau dibawa banjir. Terkadang ia diterbangkan angin kencang, sisa-sisa penebangan hutan yang tercecer atau memang tak digunakan. Mereka dikenal sebagai kayu hanyut.
Namun, kayu yang diambil langsung dari alam tidak bisa sembarangan dimasukkan ke akuarium. Ia mengandung Tannin (Asam Tanat) yang tinggi, yang bisa mengubah air menjadi cokelat seperti teh dan menurunkan pH air secara drastis. Proses Curing (perebusan dan perendaman) diperlukan untuk mensterilkan kayu dari jamur, parasit, dan mengeluarkan kelebihan tanin tersebut. Ini adalah jembatan sains yang mengubah “sampah” menjadi dekorasi yang aman bagi ikan.
Terakhir Dari Romansa Kenangan Kayu Apung
Romansa kayu hanyut ini menggali ingatan dari gudang kenangan. Saya pernah melihat rangka bekas lemari atau perabotan lain yang terbuat dari kayu dibuang ke sungai. Lalu ketika air sungai naik ia mengikuti arus, ke mana pun air mengalir. Terdapat pula kayu apung yang berasal dari buangan kapal, hasil erosi.
Hai kayu hanyut. Senang dapat mengenalmu lebih banyak. Lain kali saya akan memberi perhatian lebih lagi terhadapmu…
Salam, Evi

