
Key Takeaways
- Air Terjun Coban Rondo di Batu Malang memiliki legenda tragis tentang โTangisan Dewi Anjarwatiโ, yang menunggu suaminya setelah peristiwa sedih.
- Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusuma melanggar nasihat orang tua, yang berujung pada nasib buruk dalam perjalanan mereka.
- Kawasan wisata menawarkan pemandangan indah, suasana mistis, dan fasilitas modern seperti taman labirin dan penginapan glamping.
- Pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas dan lokasi yang mudah diakses, dengan harga tiket masuk yang berlaku untuk tahun 2026.
- Artikel ini memberikan panduan lengkap mengenai lokasi, rute, dan tips perjalanan serta menjelajahi mitos Coban Rondo.
Teman-teman, pernahkah kalian mendengar bisikan pilu di balik gemuruh air terjun yang megah? Bagi para pencinta wisata Batu Malang, Air Terjun Coban Rondo bukan sekadar destinasi alam biasa. Di balik keindahan tirai air setinggi 84 meter ini, tersimpan kisah cinta tragis yang melegenda. Jika kalian berencana melakukan perjalanan ke Malang, artikel ini akan mengupas tuntas mitos, sekaligus memberikan panduan lengkap mengenai harga tiket masuk, rute, dan tips perjalanan terbaru.
Warisan Dongeng dan Imajinasi Masa Kecil
Nenek saya seorang pendongeng hebat. Tak heran di masa kecil saya kenyang oleh olah imajinasinya. Ia seperti buku sastra terbuka. Malam-malam menjelang tidur sambil memijat punggungnya dengan menginjak-injak, kepala saya akan sibuk membayangkan petualangan pemuda bernama Rambun Pamenan, Anggun nan Tongga, Magek Manandin, Malin Deman, dan lain-lain.
Cerita-cerita mitos mengawal saya tumbuh. Jadi senang sekali bisa traveling ke Batu Malang, ke air terjun dengan mitos Coban Rondo dengan tangisan Dewi Anjarwati itu.
Legenda Air Terjun Coban Rondo: Kisah Cinta yang Tragis
Dalam bahasa Jawa, Coban Rondo artinya Air Terjun Janda. Penamaan yang berasal dari kisah sedih pasangan pengantin baru, Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro.
Sepasang pengantin baru ini menemui nasib sial karena tak mendengar nasihat orang tua. Mereka melanggar nasihat agar tak melakukan perjalanan sebelum hari selapanan hari pernikahan (36 hari). Karena tak mendengarkan, hubungan asmara mereka akhirnya menuai bencana.
Dalam perjalanan dari Gunung Kawi menuju Gunung Anjasmoro (kediaman orang tua Raden Baron Kusuma), rombongan mereka diserang oleh Joko Lelono yang tergoda kecantikan Dewi Anjarwati. Dalam perkelahian itu, Raden Baron Kusuma memerintahkan pengawalnya menyembunyikan Dewi Anjarwati ke belakang sebuah air terjun.
Kemalangan memang tak dapat ditolak. Raden Baron Kusuma tak pernah kembali menjemput istrinya dari tempat persembunyian karena gugur dalam pertarungan. Namun, Dewi Anjarwati tetap menunggu Sang Suami, duduk di sebuah batu di belakang air terjun yang sekarang bernama Coban Rondo.
Baca juga:
Suasana Mistis di Kawasan Wisata
Memasuki kawasan area wisata Air Terjun Coban Rondo, mata kita dimanjakan oleh kehijauan tajuk pepohonan dan aroma hujan. Dari pelataran parkir, bunyi air terjun yang saya bayangkan sebagai tangisan duka Dewi Anjarwati sayup-sayup menyentuh pendengaran.
Tidak sedih. Tak gembira. Mungkin hanya sepi. Ditenggelamkan tebing batu granit dan belantara di belakangnya. Sementara itu, monyet-monyet berekor panjang (Macaca fascicularis) berlompatan dari dahan ke dahan, berbunyi terkaing-kaing dan sesekali menggeraikan bulu. Sekalipun menyeringai dengan menegakkan misai, mereka sopan, tidak celamitan seperti monyet di tempat wisata lain.
Selanjutnya, saat menyeberangi jembatan di atas sungai kecil, air bening di bawahnya membawa serta aroma daun lapuk ke udara. Mereka datang dari Gunung Kawi. Membawa serta energi purba yang tersimpan dari pegunungan. Tak heran gemericiknya saja mampu menenangkan perasaan.
Batu Misteri Coban Rondo: Pertemuan Tak Kasat Mata
Pak Sabar yang menemani kami selama di Malang menunjuk ke pelataran air terjun berlapis paving block. Lebar. Rapi jali. Cocok untuk duduk berlama-lama. Ia menunjuk pada seonggok batu besar di sebelah kiri saya. Perkataannya langsung membuat bulu kuduk berdiri.
โDi sana ada yang menunggu. Kalau ibu mau bertamu saya bisa mengawal.โ
Aish! Saya langsung sesak napas. Di sini saya cuma mau piknik kok. Tak mau bertemu siapa-siapa.
Saya menatap onggokan batu padas besar itu. Walau tak terlihat siapa-siapa kecuali seorang anak muda tampanโyang saya kira seorang seniman alih-alih โpenungguโ yang dimaksud Pak Sabarโtapi tetap saja dada saya berdebar kencang.
Sebelum otak saya gatal dan membayangkan novel misteri karya Pak Sabar, Pak Suami menarik tangan saya. Ia mengarahkan lensa kamera dan menyuruh saya berpose dengan latar belakang air terjun.
Tangis Kerinduan Dewi Anjarwati
Kunjungan kami ke tempat peristirahatan terakhir Dewi Anjarwati di Coban Rondo ini bukan di hari libur. Jadi hanya terlihat satu dua muda-mudi yang sedang berswafoto, foto bersama, lalu swafoto lagi. Sama seperti mereka, saya hanya bisa menikmati tempat wisata dengan cara demikian.
Pak Sabar yang terus bercerita tentang batu misteri, suasana yang sepi, dan deru air terjun, membuat saya membayangkan Dewi Anjarwati sedang menangis. Menyesali perbuatannya sekaligus rindu kepada Sang Suami.
Seharusnya saya bisa berkontemplasi. Tapi malah terus-terusan melirik ke onggokan batu yang ada penghuninya seperti kata Pak Sabar tadi. Akhirnya suami saya mengernyit. Melempar pandang โagak tak sukaโ ketika Pak Sabar mengatakan bahwa penghuni batu itu sedang memandang kepada saya dan ingin berkomunikasi.
Mengikuti suami yang menarik tangan saya dari sana, untuk terakhir kali saya memandang bergantian ke batu misteri dan ke balik air terjun, asal tangisan Dewi Anjarwati. Jika memang di sana ada penghuninya, saya mengucapkan selamat tinggal baik-baik.
Panduan Wisata ke Air Terjun Coban Rondo (Update 2026)
Bagi Teman-teman yang ingin menelusuri jejak legenda ini sekaligus menikmati sejuknya alam Pujon Malang, berikut adalah informasi terbaru hasil riset mendalam untuk perjalanan tahun 2026.
1. Lokasi dan Rute Menuju Coban Rondo
Air Terjun Coban Rondo terletak di Jalan Coban Rondo, Krajan, Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasinya sangat strategis dan mudah diakses, baik dari arah Kota Malang maupun Kediri.
- Lama Perjalanan: Sekitar 1 jam dari pusat Kota Malang (jarak ยฑ 30 km) atau 30 menit dari Alun-Alun Kota Batu.
- Rute Kendaraan Pribadi: Dari Malang, arahkan kendaraan menuju Kota Batu, lalu naik ke arah Pujon/Kediri. Sesampainya di kawasan perbukitan yang berkelok, perhatikan “Patung Sapi” di sebelah kiri jalan. Tak jauh dari sana, ada papan petunjuk besar bertuliskan Wana Wisata Coban Rondo. Belok kiri dan ikuti jalan sejauh 4 km hingga gerbang utama.
- Transportasi Umum: Teman-teman bisa naik bus jurusan Malang-Kediri atau Malang-Jombang dari Terminal Landungsari. Minta turun di Patung Sapi Pujon. Dari sana, Teman-teman bisa menggunakan jasa ojek pangkalan untuk menuju pintu masuk air terjun.
2. Harga Tiket Masuk Coban Rondo 2026
Untuk tahun 2026, pengelola menerapkan sistem tiket terusan dan reguler. Berikut estimasi harganya:
- Tiket Masuk Reguler (Wisatawan Nusantara): Rp35.000 (Senin-Jumat) dan Rp40.000 (Sabtu-Minggu/Libur).
- Tiket Masuk Wisatawan Mancanegara: Rp75.000.
- Parkir Kendaraan: Motor Rp5.000, Mobil Rp10.000, Bus/Roda 6 Rp20.000.
- Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu, terutama saat musim liburan (high season).
3. Jam Operasional
Kawasan wisata ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Namun, bagi yang menginap di area camping ground atau Bobocabin, akses area tertentu terbuka 24 jam. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari saat udara masih sangat segar dan kabut tipis menambah nuansa magis di sekitar air terjun.
4. Fasilitas dan Wahana Baru
Selain menikmati mitos dan keindahan air terjun, Teman-teman kini bisa menikmati berbagai fasilitas modern:
- Taman Labirin Coban Rondo: Spot foto instagenic berupa labirin tanaman hijau yang seru untuk dipecahkan.
- Wahana Aktivitas: Tersedia Flying Fox, Shooting Target, Panahan, hingga wisata berkuda.
- Penginapan: Kini tersedia opsi glamping modern seperti Bobocabin untuk pengalaman menginap di tengah hutan pinus yang nyaman.
Dalam mobil saya terus memikirkan, aih siapakah dia yang memandangi saya di Air Terjun Coban Rondo? Sekalipun tak percaya, tetap dag-dig-dug membayangkan imajinasi Pak Sabar. Kalaupun benar memang ada, saya berharap ia akan selalu jadi teman Dewi Anjarwati. Agar wanita cantik itu tak terlalu sedih dalam menanti kedatangan Raden Baron Kusuma menjemputnya.
Bagaimana Teman-teman, berani membuktikan sendiri mitos dan keindahannya?

Baca jugaย ย Hotel Pelangi Malang: Tidur Dalam Nuansa Masa Lalu
