
Intisari Kilat: Rahasia Menikmati Pasar Lama Tangerang Secara Maksimal
- Destinasi “Two-in-One”: Satu lokasi yang menggabungkan serunya berburu kuliner viral malam hari dengan kekhusukan wisata sejarah di siang/sore hari.
- Menu Wajib Coba: Padukan selera masa kini dengan Kepak Madu Mael atau Souffle Pancake, namun jangan lewatkan legenda asli seperti Sate H. Ishak dan Laksa Tangerang.
- Jejak Cina Benteng: Temukan akar budaya peranakan di Klenteng Boen Tek Bio dan titik nol kota di Museum Benteng Heritage.
- Keunikan Lokal: Tantang lidah Anda mencicipi Sayur Mamam, fermentasi tanaman liar khas Tangerang yang otentik dan langka.
- Tips Anti-Ribet: Datanglah mulai pukul 16.00 WIB untuk menghindari kemacetan parah, gunakan kantong parkir resmi, dan siapkan saldo QRIS serta uang tunai pecahan kecil.
โMasuk saja dari gang itu,โ ujar seorang Enci penjual bakmi di tepi Jalan Raya Kalipasir, menunjuk ke arah keramaian di sebelah kirinya. Pagi itu, setelah sarapan dua mangkuk bakmi ayam yang hangat, saya dan keluarga memutuskan untuk tidak sekadar numpang lewat. Rencana hari ini adalah eksplorasi total: wisata kuliner dan sejarah di tepian Sungai Cisadane.
Dulu, mungkin kita hanya mengenal kawasan ini sebagai pasar tradisional biasa. Namun hari ini, Pasar Lama Tangerang telah bertransformasi menjadi magnet wisata yang luar biasa. Perpaduan antara aroma dupa dari klenteng tua dan asap bakaran kuliner viral menciptakan atmosfer yang sulit dicari tandingannya. Jika Anda mengaku pecinta kuliner atau penyuka sejarah, melewatkan tempat ini adalah sebuah kerugian besar.
Pesona Ganda: Kuliner Malam dan Wisata Heritage
Pasar Lama Tangerang bukan sekadar pasar. Ia adalah jantung denyut nadi “Kota Benteng” yang telah berdetak sejak berabad lalu. Terletak strategis di dekat Sungai Cisadaneโsungai purba yang berhulu di Gunung Pangrangoโkawasan ini kini memegang dua gelar sekaligus: pusat Street Food paling hits di Jabodetabek dan kawasan cagar budaya yang kental dengan nuansa Tionghoa Peranakan.
Pemerintah Kota Tangerang pun terus berbenah. Revitalisasi pedestrian yang lebih ramah pejalan kaki dan penataan kawasan Culinary Night membuat pengalaman berkunjung ke sini jauh lebih nyaman dibandingkan beberapa tahun lalu.
Baca juga:
Berburu Kuliner Viral dan Legendaris (Update 2026)
Dulu saya datang untuk mencari sayur segar, tapi sekarang, siapapun yang datang ke sini harus siap dengan perut kosong. Pilihannya bukan lagi sekadar sate ayam atau bubur, tapi deretan jajanan kekinian yang antreannya bisa mengular panjang.
1. Jajanan Viral yang Wajib Coba
Generasi TikTok dan Instagram pasti sudah hafal dengan deretan menu ini. Berdasarkan pantauan terkini, ada beberapa tenant yang pantang dilewatkan:
- Kepak Madu Mael: Sayap ayam bakar ala Malaysia ini masih menjadi primadona. Bumbunya yang meresap manis gurih dengan warna merah menggoda membuat antrean di sini jarang sepi.
- Japanese Souffle Pancake: Kue super lembut yang bergoyang-goyang (jiggly) saat disajikan. Teksturnya lumer di mulut, kontras dengan hiruk pikuk pasar yang keras.
- Steak Ayam & Sambal Bakar: Varian baru yang mulai mendominasi, menawarkan harga kaki lima dengan rasa yang berani diadu.
2. Legenda yang Tak Tergantikan
Di tengah gempuran makanan modern, para legenda Pasar Lama tetap berdiri kokoh mempertahankan rasa otentik mereka:
- Sate Ayam H. Ishak: Tidak sah ke Pasar Lama tanpa mencium aroma bakaran sate ini. Dagingnya tebal, bumbu kacangnya medok, dan selalu dibakar dadakan saat dipesan.
- Laksa Tangerang: Kuah santan kekuningan dengan mie tepung beras yang kenyal. Ini adalah definisi comfort food orang Tangerang.
- Es Podeng & Toge Goreng: Penutup manis dan gurih yang membawa nostalgia masa lalu.
Menyelami Lorong Waktu: Wisata Sejarah
Berjalan menjauh sedikit dari hiruk pikuk kuliner, kita akan disuguhkan ketenangan yang magis. Di antara kios-kios modern, terselip bangunan-bangunan tua yang menjadi saksi bisu sejarah Cina Benteng.
Klenteng Boen Tek Bio
Bangunan paling ikonik di sini tentu saja Klenteng Boen Tek Bio. Dibangun pertama kali secara sederhana pada tahun 1684 oleh penduduk Kampung Petak Sembilan, klenteng ini mengalami pemugaran besar di awal abad ke-17 seiring ramainya perdagangan di Cisadane.
Nama “Boen Tek Bio” memiliki makna filosofis yang dalam: Boen (Sastra/Intelektual), Tek (Kebajikan), dan Bio (Tempat Ibadah). Saat melangkah masuk, aroma hio yang terbakar dan kekhusukan umat yang berdoa seolah mengisolasi kita dari keramaian pasar di luar.
Museum Benteng Heritage: Titik Nol Kota Tangerang
Satu permata tersembunyi yang sering luput dari pandangan mata awam adalah Museum Benteng Heritage. Tersembunyi di balik padatnya kios pasar, bangunan ini adalah hasil restorasi apik dari rumah berarsitektur tradisional Tionghoa abad ke-17.
Museum ini bukan sekadar gedung tua; ia diklaim sebagai Zero Point atau titik nol cikal bakal Kota Tangerang. Di dalamnya, tersimpan kisah epik pendaratan armada Laksamana Cheng Ho di Teluk Naga pada tahun 1407. Salah satu pengikutnya, Chen Ci Lung, diyakini sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang atau yang akrab disebut “Cina Benteng”.
(Catatan: Saat berkunjung ke dalam museum, dilarang memotret untuk menjaga privasi dan kelestarian koleksi. Namun, pengalaman mendengarkan tuturan sejarahnya jauh lebih berharga daripada sekadar foto).
Keunikan Lokal: Sayur Mamam dan RoemBoer
Dalam eksplorasi saya menyusuri gang-gang sempit, mata saya tertumbuk pada sebuah keunikan yang mungkin tidak viral, tapi sangat “Tangerang”.
Misteri Sayur Mamam
Di lapak seorang Encim, saya menemukan sayuran yang dibungkus plastik dengan aroma menyengat. Namanya Sayur Mamam (atau Maman). Ini adalah tanaman perdu (Cleome gynandra) yang difermentasi dengan cuka.
Bagi warga lokal, Sayur Mamam adalah jodoh sejati untuk memasak Bakut (sup iga babi). Namun, bagi yang tidak mengonsumsi babi, sayur ini juga lezat dimasak dengan ayam atau sekadar ditumis bawang putih. Aromanya memang tajam, mirip durian bagi sebagian orangโantara benci dan cinta.
RoemBoer Tangga Ronggeng
Saya juga sempat bertemu Pak Fadila di depan gedung tua bernama “RoemBoer Tangga Ronggeng”. RoemBoer konon singkatan dari Rumah Burung. Meski sejarah pastinya kabur, keberadaan bangunan-bangunan tua seperti ini menambah tekstur sejarah yang kaya di Pasar Lama.
Tips Panduan Berkunjung (Edisi 2026)
Agar kunjungan Anda maksimal dan tidak terjebak macet atau kehabisan makanan, perhatikan tips berikut:
- Jam Operasional: Pasar Lama kini hidup 24 jam dalam dua wajah. Pagi untuk pasar tradisional (sayur mayur), dan sore mulai pukul 16.00 WIB untuk wisata kuliner malam. Puncak keramaian ada di jam 19.00 – 21.00 WIB.
- Parkir & Akses: Parkir di area utama sangat sulit saat malam minggu. Disarankan parkir di kantong parkir resmi (seperti di GOR Tangerang atau Masjid Raya Al-Azhom) dan berjalan kaki sedikit.
- Pembayaran: Sebagian besar tenant kekinian sudah menerima QRIS, namun siapkan uang tunai pecahan kecil untuk pedagang tradisional atau pengamen jalanan.
- Kebersihan: Selalu bawa tisu basah dan kantong sampah sendiri, karena tempat sampah terkadang penuh saat pasar sedang padat-padatnya.
Pasar Lama Tangerang adalah bukti bahwa modernitas kuliner dan pelestarian sejarah bisa berjalan beriringan. Dari Japanese Souffle hingga Sayur Mamam, dari konten TikTok hingga prasasti Cheng Ho, semuanya ada di sini.
Jadi, kapan Anda akan menjejakkan kaki dan mencicipi sendiri keunikan ini?
Tulisan ini merupakan pembaruan dari artikel “Pasar Lama Tangerang, Wisata Kuliner dan Sejarah” yang pertama kali terbit di eviindrawanto.com.

Baca juga : Festival Cisadane, Pesta Rakyat Tangerang



- Baca juga Sate Bandeng Banten dan Sejarahnya
- Baca jugaย Wisata Kuliner di Tangerang
Baca juga : Pantai Tanjung Kait Tangerang โ Seafood dan Kehidupan Nelayan

Salam, Evi Indrawanto



