Key Takeaways
- Prosesi aqiqah di Minangkabau menggabungkan syariat Islam dengan budaya lokal, menjadikannya acara yang kaya akan simbolisme.
- Ritual ini meliputi pemotongan rambut bayi, pembacaan doa, dan pemberian nama baik, dengan melibatkan seluruh keluarga.
- Hidangan khas seperti gulai kambing menjadi bagian penting prosesi aqiqah, dihidangkan dalam tradisi makan bersama.
- Kelapa muda hiasan bunga dan ritual mencicipi rasa simbolis menggambarkan harapan agar anak dapat menghadapi tantangan hidup.
- Penghormatan terhadap peran keluarga seperti Bako dan Mamak sangat penting dalam prosesi aqiqah di Minangkabau.
Halo, Teman-teman! Apa kabar?
Kelahiran seorang anak selalu membawa kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di Indonesia, rasa syukur ini dirayakan dengan beragam cara unik yang memadukan syariat agama dan kearifan lokal. Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah prosesi aqiqah adat Minangkabau.
Baru-baru ini saya berkesempatan menghadiri acara aqiqah untuk si kecil Aisya di Padang. Ternyata, tata cara aqiqah adat Minang tidak sekadar memotong kambing, tetapi penuh dengan simbolisme mendalamโmulai dari kelapa muda hingga sentuhan rasa pedas di bibir bayi. Penasaran bagaimana uniknya perpaduan budaya Islam dan adat istiadat Minang ini? Mari kita telusuri ceritanya.
Esensi Aqiqah di Tanah Minang: Antara Agama dan Budaya
Prosesi aqiqah di Minangkabau sejatinya tetap berpegang teguh pada ajaran Islam. Dalam kepercayaan kita, setiap anak yang baru lahir itu tergadai. Maka, pada hari ke-7, orang tua dianjurkan menebusnya dengan aqiqah.
Jika kondisi keuangan belum memungkinkan di hari ke-7, bisa dilakukan pada hari ke-14, ke-21, atau kapan saja saat sudah mampu. Namun, yang membuat acara aqiqah di Padang ini istimewa adalah bagaimana syariat tersebut “dibungkus” dengan indah oleh budaya setempat. Pepatah Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah benar-benar terasa hidup di sini.
Persiapan Acara: Undangan dan Peran Keluarga
Mengundang Kerabat
Zaman dulu, orang Minang mengundang kerabat dengan menghantarkan sirih atau rokok. Namun, zaman sekarang sudah lebih praktis. Cukup dengan sehelai kertas undangan, atau yang lebih modern lagi, undangan digital via WhatsApp. Meski caranya berubah, esensi silaturahminya tetap sama kuat.
Peran Bako dalam Aqiqah Minang
(Deep Research) Dalam susunan acara aqiqah adat Minangkabau, kita tidak bisa melupakan peran Bako (keluarga dari pihak ayah). Biasanya, pihak Bako akan datang membawa “bawaan” atau hantaran berupa emas, pakaian anak, atau perlengkapan bayi. Ini menunjukkan kasih sayang keluarga ayah kepada anak pisang (keponakan) mereka. Kehadiran mereka menambah semarak suasana kekeluargaan.
Hidangan Spesial: Gulai Kambing Khas Padang
Bicara soal aqiqah, tentu tak lepas dari kambing. Untuk anak laki-laki disembelih 2 ekor, dan perempuan 1 ekor. Nah, di sinilah cita rasa lokal bermain.
Dalam prosesi aqiqah Padang, daging kambing tidak dimasak sembarangan. Ia diolah menjadi gulai kambing dengan kuah santan kental, cabai merah, dan rempah-rempah yang medok. Baunya saja sudah menggugah selera! Berbeda dengan sate atau sop di Jawa, gulai ini biasanya disajikan dalam tradisi makan bajamba atau prasmanan untuk dinikmati bersama kerabat dan fakir miskin.
Baca juga:
Tahapan Prosesi Aqiqah dan Turun Mandi
Tepat di hari ke-7 (atau hari yang disepakati), seluruh keluarga besar berkumpul. Acara biasanya dipimpin oleh seorang Ustadz atau Buya.
1. Pembacaan Doa dan Marhaban Bayi
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan selawat nabi. Suasana menjadi sangat syahdu ketika Marhaban bayi (puji-pujian kepada Nabi) dikumandangkan. Harapannya, Insya Allah, sang anak tumbuh menjadi pribadi saleh, terhindar dari gangguan setan, dan terjaga dari segala pandangan buruk.
2. Pemberian Nama yang Baik
Di momen ini, Pak Ustadz akan mengumumkan nama resmi si bayi kepada hadirin. Ingat, nama adalah doa. Ustadz pun berpesan, jika kelak sang anak berbuat salah, bapak-ibu yang hadir jangan segan menegur, karena anak itu kini menjadi anak kita semua. It takes a village to raise a child, bukan?
3. Ritual Cukur Rambut (Memotong Rambut Lahir)
Salah satu inti acara adalah mencukur rambut bayi. Rambut yang dibawa dari dalam kandungan (rambut lahir) ini harus dipotong. Tidak ada ketentuan harus gundul licin, yang penting dipotong rata.
Dalam tradisi ini, rambut yang telah dipotong akan ditimbang. Misalnya beratnya 10 gram, maka orang tua si bayi akan bersedekah emas atau perak seberat rambut tersebut (atau dikonversikan ke uang) kepada fakir miskin. Semakin lebat rambutnya, semakin banyak sedekahnya, dan Insya Allah semakin melimpah rezekinya kelak.
Simbolisme Unik: Kelapa Muda dan Cicip Rasa
Inilah bagian yang menurut saya paling unik dan membedakan aqiqah adat Minang dengan daerah lain seperti Jawa.
Kelapa Muda Berhias Bunga

Sama seperti budaya Nusantara lain, kelapa muda adalah perlengkapan wajib. Syaratnya: kelapa hijau, airnya penuh, dan bentuknya sempurna tanpa cacat.
Bedanya, jika di Jawa kelapa sering diukir tokoh wayang (seperti Kamajaya dan Kamaratih), di Minangkabau kelapanya polos. Bagian atasnya hanya dipotong, lalu dihias indah dengan bunga rampai (bunga kenanga, kembang sepatu, mawar). Di sebelahnya disajikan madu, garam, gula aren, dan cabai merah.
Apa Makna Rambut Masuk Kelapa? Saat prosesi cukur, Pak Ustadz dengan pelan memasukkan potongan rambut bayi ke dalam air kelapa muda tersebut. Filosofinya sangat dalam: Air kelapa yang sejuk melambangkan “kepala dingin”. Harapannya, kelak jika menghadapi masalah berat, sang anak tetap bisa berpikir jernih dan berkepala dingin dalam menyelesaikannya.
Ritual Mencicipi “Rasa Kehidupan”
Selesai potong rambut, ada satu ritual lagi yang menarik. Pak Ustadz akan memipil sedikit cabai, garam, atau gula aren, lalu dioleskan sangat tipis ke bibir bayi.
Ini bukan sekadar iseng, Teman-teman. Ini adalah simbolisasi pengenalan rasa kehidupan. Bahwa hidup tidak selamanya manis seperti madu. Ada kalanya terasa pedas, asin, dan pahit. Dengan ritual ini, orang tua mendoakan agar mental si anak siap menghadapi segala tantangan hidup di masa depan.
Setelah semua prosesi aqiqah selesai, terpancar wajah lega dari kedua orang tua Aisya. Anak mereka kini resmi bernama dan telah didoakan oleh banyak orang.
We love you all, Aisya!
Tips Mengenal Budaya Minang Lebih Dalam
Bagi Teman-teman yang tertarik dengan budaya Minangkabau, berikut beberapa tips untuk menyelaminya:
- Pahami Perbedaan Istilah: Banyak yang menyamakan Aqiqah dengan Turun Mandi. Meski sering dilakukan berbarengan, Turun Mandi sebenarnya adalah tradisi membawa bayi ke sungai/sumber air pertama kali, sedangkan Aqiqah adalah syariat Islam (sembelih kambing).
- Hormati Peran Mamak dan Bako: Dalam sistem matrilineal, peran paman (Mamak) dan keluarga ayah (Bako) sangat sentral dalam acara adat.
- Kuliner adalah Kunci: Jangan hanya makan rendang. Cobalah hidangan perayaan seperti gulai korma (gulai putih) atau nasi kunyit yang sering hadir di acara adat.
Semoga tulisan ini menambah wawasan Teman-teman tentang kekayaan tradisi Nusantara. Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya!
