
Poin Utama
- Argumentum Ad Populum adalah kesesatan berpikir yang menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang mempercayainya.
- Contoh sehari-hari termasuk asumsi bahwa apel Washington selalu merah atau bahwa kenaikan BBM menyengsarakan semua orang.
- Kita sering menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran, padahal opini publik bisa emosional dan tidak konsisten.
- Kesadaran akan bias kognitif membantu dalam mencapai kedewasaan emosional dan intelektual.
- Dalam dunia bisnis, psikologi massa dapat dimanfaatkan untuk membangun brand trust.
Suatu sore yang tenang mendadak berubah serius. Adit, putra sulung saya, datang dengan pertanyaan tak terduga.
“Ma, apa sih artinya argumentum ad populum?” tanyanya.
Saya terdiam sejenak. Otak saya berputar, mencoba mengumpulkan serpihan informasi dari masa kuliah puluhan tahun lalu. Istilah itu rasanya sudah lama tertinggal di ruang kelas logika. Daripada salah jawab, saya sarankan Adit berdiskusi dengan Paman Google saja.
Memahami Apa Itu Argumentum Ad Populum Fallacy
Paman Google memberikan jawaban cukup teknis. Secara sederhana, argumentum ad populum fallacy (bahasa Latin untuk “menarik bagi orang banyak”) adalah kesesatan berpikir.
Logikanya begini: Jika banyak orang percaya hal itu benar, maka hal itu pasti benar. Dalam etika, argumen ini berbunyi, “Jika banyak orang menganggapnya wajar, maka itu wajar.”
Dalam psikologi sosial, fenomena ini berkaitan erat dengan bandwagon effect. Otak manusia cenderung mencari jalan pintas kognitif (cognitive shortcut). Daripada memproses informasi secara kritis yang memakan energi, otak kita lebih memilih mempercayai konsensus mayoritas sebagai “kebenaran instan”.
Contoh Sederhana dalam Kehidupan Sehari-hari
Saya mencoba menerjemahkan definisi rumit itu kepada Adit dengan bahasa ibu.
Situasinya mirip ketika kita melihat apel Washington. Hampir semua orang bilang apel Washington berwarna merah. Padahal, apel Washington tidak selalu merah. Apalagi jika kita bicara soal apel muda.
Contoh argumentum ad populum lainnya bisa kita lihat pada isu kenaikan BBM. Banyak orang percaya kenaikan harga BBM pasti menyengsarakan seluruh rakyat Indonesia. Faktanya? Tidak semua rakyat jatuh sengsara.
Beberapa pihak justru mendadak kaya. Contoh paling gampang adalah para penimbun minyak. Mereka meraup untung besar sebelum tarif baru berlaku. Kebenaran umum tidak selalu mewakili realitas spesifik.
Kesesatan ini sering terjadi karena kita menyamakan “popularitas” dengan “validitas”. Data statistik menunjukkan bahwa opini publik sering kali bersifat emosional dan mudah berubah (volatile), bukan indikator kebenaran fakta yang persisten.
Menghadapi Kebenaran Versi Mayoritas
Penjelasan saya ke Adit berhenti di sana. Saya tidak sampai hati membuatnya gelisah. Padahal, dalam kehidupan nyata, saya sering menemukan situasi ini.
Sebagian besar orang mudah percaya pada sesuatu. Entah itu perkataan otoritas negara, ketua RT, atau kesepakatan lingkungan. Pokoknya, jika mayoritas menerima, mereka otomatis menganggapnya sebagai kebenaran mutlak.
Saya kadang menemukan nada sumbang. Rasanya sulit jika harus ikut-ikutan percaya begitu saja. Namun, saya yakin saya tidak sendiri. Sobat JEI mungkin juga pernah merasakannya.
Demi ketenangan Adit, saya membiarkannya tumbuh wajar. Biarlah dia menemukan pola pikir kritisnya sendiri suatu hari nanti.
Baca juga:
Jebakan Menjadi “Si Paling Benar”
Tantangan terbesarnya adalah keberanian. Apakah Sobat JEI berani mengatakan salah ketika mayoritas orang mengatakan benar? Setidaknya dari sudut pandang kamu sendiri?
Dulu sekali, saya pernah melakukannya. Saya merasa hebat saat mampu membuktikan kepercayaan orang banyak itu keliru. Apa yang mereka yakini hanyalah pesan berantai turun-temurun. Pesan itu tertanam di alam bawah sadar sebagai kebenaran mutlak tanpa filter.
Namun, lama-kelamaan saya sadar. Apa pentingnya membuktikan orang lain salah? Apa untungnya menempatkan kepercayaan saya di atas mereka?
Goblok! Saya memaki diri sendiri.
Sekalipun saya masih bisa melihat penyimpangan logika atau argumentum ad populum fallacy di sekitar, saya memilih menahan diri. Alhamdulillah, lidah dan tangan saya kini lebih tertib. Saya tidak lagi sembarangan mengetik kalimat pedas yang bisa melukai hati atau memicu dendam abadi.
Sikap “ingin membenarkan orang lain” itu ternya adalah jebakan dalam egocentric bias. Tapi menyadari bahwa setiap orang memiliki bias kognitifnya sendiri adalah langkah awal menuju kedewasaan emosional dan intelektual.
Memanfaatkan Arus dalam Dunia Bisnis
Sekarang, pola pikir saya berubah pragmatis. Saya lebih suka menyibukkan diri di ranah kapitalisme. Saya melihat celah keuntungan dari setiap peristiwa.
Masih dalam konsep argumentum ad populum alat yang kuat, saya mengingatkan Adit pada iklan TV.
Lihatlah segerombolan perempuan mencuci baju dengan detergen tertentu. Wajah gembira mereka seolah berkata, “Ayo Jeng, beralih ke detergen ajaib ini! Lihat buktinya pada teman-teman saya!”
Apakah Sobat JEI langsung percaya? Hehehe…
Itulah kekuatan “ikut-ikutan”. Daripada melawannya, seorang wirausaha cerdas justru menggunakan psikologi massa ini untuk membangun brand trust.
Salam sukses !
