
Pernahkah Teman-teman merasa enggan saat diajak jalan-jalan ke museum? Jujur saja, dulu saya juga begitu. Bagi sebagian orang, Museum Sejarah Jakarta mungkin terkesan sebagai bangunan tua yang kaku, dingin, dan hanya berisi benda berdebu. Anak-anak zaman now, bahkan mungkin kita sendiri, seringkali lebih hafal letak mal besar di pusat kota ketimbang lokasi wisata sejarah Jakarta ini.
Bahkan, saya pernah tertukar antara Museum Fatahillah (nama populer museum ini) dengan Museum Bahari. Padahal, keduanya jelas berbeda. Museum Sejarah Jakarta berdiri megah di Jalan Taman Fatahillah, sementara Museum Bahari terletak di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa.
Namun, persepsi saya berubah total setelah benar-benar melangkahkan kaki ke sana. Bekas gedung Balai Kota Batavia atau Stadhuis ini ternyata menyimpan lorong waktu yang membawa kita melintasi ratusan tahun sejarah. Bukan sekadar gedung tua, tempat ini adalah saksi bisu kejayaan dan kelamnya masa lalu Jakarta.
Menjelajahi Stadhuis: Gedung Balai Kota Batavia yang Ikonik

Key Takeaways
- Museum Sejarah Jakarta terletak di Jalan Taman Fatahillah dan menyimpan sejarah ratusan tahun Jakarta.
- Museum ini memiliki koleksi berharga, termasuk lukisan Raden Saleh dan penjara bawah tanah yang menarik.
- Pengunjung dapat masuk ke penjara bawah tanah, tetapi harus siap dengan kondisi yang gelap dan sempit.
- Harga tiket masuk terjangkau, mulai dari Rp 2.000 untuk anak-anak hingga Rp 50.000 untuk wisatawan asing.
- Kunjungi museum dengan transportasi umum karena area sekitar merupakan zona Low Emission Zone.
Saat Teman-teman memasuki Museum Sejarah Jakarta, kalian sebenarnya sedang masuk ke dalam pusat pemerintahan VOC di masa lampau. Gedung yang kita lihat sekarang ini diresmikan pada tahun 1710 oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Arsitekturnya bergaya Barok Klasik abad ke-17, menyerupai Istana Dam di Amsterdam.
Di dalamnya, Teman-teman akan menemukan koleksi yang “berbicara”. Mulai dari perhiasan manik-manik purba, uang logam zaman VOC, hingga perabot antik abad ke-17 hingga 19 yang memukau. Salah satu highlight yang tak boleh dilewatkan adalah lukisan besar Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan karya Raden Saleh yang nilainya kini tak terhingga.
Misteri Penjara Bawah Tanah: Sisi Kelam yang Wajib Diketahui
Jika di tulisan lama saya sempat menyesal melewatkan bagian ini, kali ini saya ingin menekankan agar Teman-teman tidak melakukan kesalahan yang sama. Salah satu daya tarik utama sekaligus paling “merinding” di sini adalah penjara bawah tanah Museum Fatahillah.
Berdasarkan riset mendalam, penjara ini dulunya bukan sekadar ruang tahanan biasa. Ada dua jenis penjara di sini:
- Penjara Bawah Tanah Wanita: Ruangan ini tergenang air setinggi mata kaki orang dewasa saat pasang, lembap, dan gelap gulita.
- Penjara Bawah Tanah Laki-laki: Dikenal lebih sempit dan pengap.
Fakta sejarah mencatat bahwa pahlawan nasional Pangeran Diponegoro pernah ditahan di gedung ini sebelum diasingkan ke Manado. Bayangkan, di ruang sempit yang hanya muat untuk 50-70 orang tersebut, para tahanan harus berdesakan dengan bola besi berat terikat di kaki mereka. Aura historis di area ini sangat kuat dan menjadi pengingat betapa kerasnya perjuangan masa lalu.
Baca tentang Menjemput Rindu di Tanah Pengasingan: Panduan Ziarah ke Makam Pangeran Diponegoro (Edisi Update 2026)
Misteri Penjara Bawah Tanah: Uji Nyali di Lorong Sempit
Jika di tulisan lama saya sempat menyesal melewatkan bagian ini, kali ini saya ingin menekankan agar Teman-teman tidak melakukan kesalahan yang sama. Salah satu daya tarik utama sekaligus paling “merinding” di sini adalah penjara bawah tanah Museum Fatahillah.
Banyak calon pengunjung bertanya, “Apakah kita boleh masuk ke dalam?” Jawabannya: Ya, boleh! Namun, Teman-teman harus siap fisik dan mental karena kondisinya masih dipertahankan seperti aslinya.
Berdasarkan pengalaman dan pantauan situasi terbaru, area ini dibagi menjadi dua bagian dengan kondisi yang berbeda:
- Penjara Bawah Tanah Laki-laki (Area Jongkok): Di sinilah nyali dan fisik kita diuji. Atap ruangan ini didesain sangat rendah. Orang dewasa tidak mungkin berdiri tegak di dalamnya. Saat masuk, Teman-teman wajib menunduk atau berjalan jongkok.Bayangkan, ini bukan sekadar aturan museum, melainkan desain asli kolonial untuk menyiksa tahanan agar tidak bisa menegakkan punggung mereka. Di ruang sempit yang pengap inilah, dulu puluhan pejuang—termasuk Untung Suropati—berdesakan dengan kaki terantai bola besi berat. Udaranya minim sirkulasi, gelap, dan lembap. Jadi, hati-hati kepala jangan sampai terbentur ya!
- Penjara Bawah Tanah Wanita (Area Tergenang): Kondisi di sini tak kalah memilukan. Lantainya lebih rendah dari permukaan tanah luar, sehingga ruangan ini kerap tergenang air, terutama saat air laut pasang. Teman-teman biasanya hanya bisa melihat dari batas aman, karena air yang menggenang setinggi mata kaki tersebut dibiarkan untuk menjaga autentisitas sejarah penyiksaan masa lalu.
Fakta sejarah mencatat bahwa pahlawan nasional Pangeran Diponegoro pun pernah ditahan di gedung ini (di ruang terpisah di bagian atas yang disebut kamar Diponegoro) sebelum diasingkan. Namun, aura kelam paling pekat memang terasa di ruang bawah tanah ini.
Tips Penting Saat Masuk Area Bawah Tanah:
- Nyalakan Flashlight HP: Kondisi di dalam sangat gelap, penerangan sengaja dibuat minim.
- Jaga Langkah: Lantai bisa licin dan tidak rata.
- Etika: Mengingat ini adalah tempat di mana banyak orang menderita di masa lalu, usahakan tetap bersikap sopan dan tidak berisik berlebihan.
Baca juga:
Aktivitas Seru di Taman Fatahillah
Keluar dari lorong waktu di dalam museum, Teman-teman akan disambut riuh rendah Kawasan Kota Tua Jakarta. Di halaman depan atau Taman Fatahillah, kita bisa menyewa sepeda ontel warna-warni lengkap dengan topi noni Belanda untuk berfoto.
Jangan lupa juga untuk melihat Meriam Si Jagur, meriam besar peninggalan Portugis dengan simbol tangan mengepal yang unik (simbol fico), yang sering disalahartikan namun sebenarnya bermakna keberuntungan atau kesuburan dalam budaya Portugis kuno.
Panduan Wisata ke Museum Sejarah Jakarta Terbaru (Update 2026)
Agar rencana perjalanan Teman-teman lebih matang, berikut adalah informasi terbaru hasil riset saya mengenai harga, jam buka, dan akses transportasi di tahun 2026.
Harga Tiket Masuk Museum Sejarah Jakarta 2026
Kabar baiknya, wisata edukasi ini masih sangat ramah kantong. Pemerintah DKI Jakarta menjaga tarif tetap terjangkau untuk mendorong minat baca sejarah:
- Dewasa: Rp 5.000 – Rp 15.000 (Terjadi penyesuaian harga di akhir pekan/hari libur nasional).
- Mahasiswa: Rp 3.000 – Rp 5.000 (Wajib tunjukkan KTM).
- Pelajar/Anak-anak: Rp 2.000 – Rp 5.000.
- Wisatawan Mancanegara: Rp 50.000.
(Catatan: Pembayaran kini diutamakan menggunakan kartu JakCard atau QRIS, jadi siapkan saldo dompet digital kalian ya!)
Jam Buka Museum
- Selasa – Minggu: 09.00 – 15.00 WIB.
- Senin: Tutup (Libur Satwa/Pemeliharaan).
- Hari Besar Keagamaan: Tutup di hari H, biasanya buka kembali di hari kedua (H+1).
Cara Menuju ke Museum Sejarah Jakarta
Kawasan Kota Tua Jakarta kini merupakan zona Low Emission Zone (LEZ), jadi kendaraan pribadi dilarang parkir tepat di depan museum. Cara terbaik adalah menggunakan transportasi umum:
- Naik KRL Commuter Line (Paling Praktis): Naik KRL jurusan Jakarta Kota (Lin Bogor atau Lin Tanjung Priok). Turun di Stasiun Jakarta Kota. Dari sana, Teman-teman hanya perlu jalan kaki sekitar 200 meter (3-5 menit) melalui terowongan penyeberangan bawah tanah yang langsung tembus ke area plaza museum.
- Naik TransJakarta: Gunakan koridor 1 (Blok M – Kota) atau koridor 1A (Pantai Maju – Balai Kota). Turun di Halte Museum Fatahillah atau Halte Kota. Halte ini sangat dekat, tinggal jalan kaki sebentar sudah sampai.
- Naik MRT Jakarta: Jika dari arah Lebak Bulus/Fatmawati, turun di Stasiun Bundaran HI. Lanjutkan dengan naik TransJakarta Koridor 1 dari Halte Bundaran HI menuju Kota.
Tips Agar Kunjungan Lebih Berkesan
Museum bukan tempat untuk sekadar mencatat tugas sekolah, melainkan tempat untuk “merasakan”. Cobalah datang pagi hari saat udara belum terlalu panas. Jika Teman-teman membawa anak-anak, ceritakan sejarah dengan bahasa petualangan, bukan bahasa buku teks.
Bagaimana, Teman-teman? Sudah siap menjelajahi lorong waktu di Museum Sejarah Jakarta? Jika kalian punya pengalaman unik atau cerita mistis saat berkunjung ke sini, bagikan di kolom komentar ya!
Salam, Evi Indrawanto
Salam,
— Evi


