
Key Takeaways
- Krui adalah kota pesisir di Lampung Barat yang terkenal dengan ombaknya yang cocok untuk peselancar.
- Situs bersejarah seperti Kuala Stabas menunjukkan pentingnya Krui sebagai pelabuhan di masa lalu.
- Penginapan di Krui bervariasi, dari budget hingga resort, untuk memenuhi kebutuhan turis.
- Wisata kuliner di Krui menjadi tantangan, tetapi seafood segar di Pantai Labuhan Jukung bisa ditemukan.
- Cara menuju Krui termasuk jalur udara dan darat dengan opsi sewa mobil untuk eksplorasi.
Teman-teman, pernahkah mendengar tentang The Bali of Sumatra? Jika belum, izinkan saya membawa kalian ke sebuah kota pesisir yang ombaknya diburu peselancar dunia namun senjanya tetap milik kita yang mencari ketenangan. Selamat datang di Krui.
Dulu, orang mengenalnya sebagai bagian dari Lampung Barat. Namun, sejak pemekaran wilayah, surga tersembunyi ini resmi menjadi ibu kota Kabupaten Pesisir Barat. Meski administrasinya berubah, pesonanya tak pernah luntur. Waktu seolah melambat di sini, menyisakan debur ombak dan aroma laut yang memikat.
Perjalanan Menuju Krui: Melintasi Bukit Barisan
Waktu sudah menunjukan sekitar pukul empat sore. Setelah meninggalkan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, kami sampai di Pasar Krui. Ini adalah jantung dari Kecamatan Pesisir Tengah. Setelah menempuh sekitar 6 jam perjalanan darat via Travel Bandar Lampung Krui, rasanya lega akhirnya kesampaian juga main di Krui.
Matahari pukul empat yang memancar searah kami datang, membuat kota kecil ini ditelungkupi bayang redup di bawah langit biru. Sedikit temaran warna jingga memperindah tampilannya, ditambah lagi siluet Bukit Barisan di kejauhan yang memeluk kota ini.
Sesaat melewati Jalan Merdeka dan masuk Jalan Jaya Wijaya, mata saya disergap oleh sisa kegiatan pasar yang terletak di sebelah kiri. Terlihat beberapa orang Bapak tengah melakukan transaksi ikan. Aroma laut menyeruak, memberi tanda bahwa kami benar-benar sudah tiba di tepian Samudra Hindia.
Keunikan Wisata Krui dan Sejarah Kroe Tempo Doeloe
Krui Pesisir Barat bukan sekadar kota transit. Ini adalah kota pesisir yang menghadap langsung pada keganasan sekaligus keindahan Samudra Hindia. Selain bertani dan berdagang, mata pencaharian utama penduduknya adalah mencari ikan. Tak jauh dari pusat kota, ada tempat pelelangan ikan bernama Kuala Stabas.
Jejak Sejarah Maritim
Sedikit deep research untuk Teman-teman, Krui memiliki sejarah panjang sebagai kota pelabuhan. Dalam catatan Kroe Tempo Doeloe, daerah ini sudah menjadi titik penting perdagangan maritim sejak zaman kolonial. Kuala Stabas dulunya adalah pintu gerbang ekspor damar mata kucing yang mendunia. Nuansa sejarah ini masih terasa di beberapa sudut bangunan tua yang tersisa, berpadu dengan modernitas para turis yang menenteng papan selancar.
Ikon Kota: Ikan Blue Marlin
Laut sebagai sumber ekonomi utama daerah ini ditandai dengan pendirian patung ikan Blue Marlin (Tuhuk) di alun-alun kota. Konon, di sekitar perairan laut Krui memang menjadi habitat ikan sport fishing kelas dunia ini. Bahkan, kuliner Krui yang paling terkenal di sini adalah Bakso Ikan Blue Marlin. Unik, kan?
Tantangan Mencari Kuliner Khas Lampung
Sejak siang perut hanya dapat ganjalan roti. Maka begitu sampai di Krui, mata langsung jelalatan mencari rumah makan untuk menjinakan “naga-naga” di dalam perut. Mumpung sedang wisata di Krui, dekat desa nelayan pula, saya berharap menemukan seafood segar atau kuliner khas daerah.
Sayangnya, sudah dua kali bolak-balik sekitar jalan Kesuma, tempat makan yang menonjol lagi-lagi cuma RM Padang. Dalam hati saya bertanya-tanya, kemana gerangan Seruit, Gulai Taboh, Pindang Baung, dan teman-temannya itu? Masa iya tidak ada yang kepikiran membuka rumah makan menu khas Lampung di sini?
Bahkan saya juga mencari warung Bakso Ikan Blue Marlin yang banyak dibincangkan orang. Namun menurut bapak yang saya tanya, warung itu tak terlihat saat itu. Ya begitulah keunikannya. Di sini, kadang lebih mudah menemukan Rendang daripada Seruit. Tapi jangan khawatir, bagi Teman-teman pencinta seafood, banyak warung tenda di pinggir Pantai Labuhan Jukung yang kini menyajikan ikan bakar segar.
Baca juga:
Penginapan dan Hotel di Krui: Dari Backpacker hingga Resort
Setelah menjinakan perut di RM Padang, barulah kami bergerak mencari hotel. Krui dengan pantainya yang cantik dan ombaknya yang tinggi sekarang terkenal sebagai tempat bersilancar (surfing) bagi para bule maupun peselancar lokal.
Karena reputasinya yang mendunia sebagai spot surfing (bahkan sering diadakan kejuaraan WSL Krui Pro), tidak sukar menemukan Hotel di Krui. Pilihannya beragam:
- Kelas Melati/Budget: Di sekitar Pasar Krui ada Monalisa Stabas, Wisma Selalau, dan losmen kecil. Cocok untuk backpacker.
- Surf Camp & Resort: Mendekati Pantai Labuhan Jukung, Pantai Tanjung Setia, hingga Mandiri Beach, menjamur cottages dan guest house yang lebih estetik dengan pemandangan langsung ke laut.
Saya lihat, penginapan di sini tumbuh pesat menyesuaikan pasar turis asing. Namun, kami memilih penginapan sederhana karena memang budget traveler hehehe.
Pesona Pantai Labuhan Jukung dan Tanjung Setia

Setelah beres dengan hotel, tiba saatnya menikmati sunset di Pantai Labuhan Jukung. Pantai ini adalah primadona bagi warga lokal maupun turis. Pasirnya putih, garis pantainya panjang, dan ombaknya… wow!
Bagi peselancar profesional, Pantai Tanjung Setia (sekitar 20 menit dari pusat kota Krui) adalah “mekah”-nya. Ombak di sana bisa mencapai ketinggian 6-7 meter dengan gulungan panjang (Ujung Bocur) yang memukau. Tak heran jika Krui kini disejajarkan dengan Hawaii-nya Indonesia.
Tapi soal detail keindahan Labuhan Jukung dan magisnya ombak Tanjung Setia, tunggu di cerita saya berikutnya ya! 🙂
Panduan Perjalanan: Cara Menuju ke Krui
Bagi Teman-teman yang ingin wisata ke Krui, berikut adalah update cara menuju ke sana di tahun 2025/2026:
1. Jalur Udara (Paling Cepat)
Sekarang sudah ada Bandara Muhammad Taufik Kiemas di Krui. Teman-teman bisa terbang dari Bandara Radin Inten II (TKG) Bandar Lampung menggunakan pesawat perintis (seperti Susi Air). Waktu tempuh hanya sekitar 30-40 menit. Cek jadwal dulu ya, karena sering berubah.
2. Jalur Darat (Travel Bandar Lampung Krui)
Ini opsi paling populer.
- Travel Reguler: Banyak agen travel (seperti Krui Putra, Ratu Kencana) dari Bandar Lampung. Biaya sekitar Rp 150.000 – Rp 200.000.
- Waktu Tempuh: Sekitar 5-6 jam perjalanan via Jalan Lintas Barat Sumatera. Jalannya mulus dan pemandangannya indah (pantai di kiri, bukit di kanan).
- Bus dari Jawa: Ada bus langsung dari Jakarta/Tangerang (seperti PO Krui Putra) menuju Krui Pesisir Barat.
3. Sewa Mobil
Jika ingin bebas eksplorasi, menyewa mobil dari Bandar Lampung adalah pilihan terbaik.
Tips Wisata ke Krui
- Bawa Uang Tunai: Meskipun sudah ada ATM (BRI, BNI, Bank Lampung, Mandiri), di beberapa spot wisata terpencil atau warung kecil masih mengandalkan uang tunai (cash).
- Sewa Motor: Untuk keliling dari satu pantai ke pantai lain (misal dari Labuhan Jukung ke Tanjung Setia atau Pulau Pisang), sewa motor adalah cara paling efisien dan hemat.
- Musim Terbaik: Jika ingin melihat kompetisi surfing, datanglah antara Mei – September saat ombak sedang bagus-bagusnya. Jika ingin santai, hindari musim libur panjang agar tidak terlalu ramai.
- Kuliner Wajib Coba: Jangan menyerah mencari Gulai Taboh (ikan kuah santan kuning) atau Sate Tuhuk (Blue Marlin). Tanya warga lokal rekomendasi warung rumahan terbaik.
Salam,
โ Evi Indrawanto
