Key Takeaways
- Candi Gedong Songo Semarang menawarkan pemandangan menakjubkan dari ketinggian 1.200 meter, dikelilingi kabut dan sejarah.
- Candi ini dibangun oleh Wangsa Syailendra pada abad ke-8 dan ke-9, dengan filosofi hierarki kesucian yang terlihat dari posisinya.
- Pengunjung bisa menikmati trekking atau naik kuda untuk mencapai candi, dengan pemandangan yang indah sepanjang perjalanan.
- Candi Gedong 5 dan kawah belerang menjadi titik menarik untuk berfoto dan menikmati keindahan alam.
- Tiket masuk terjangkau, dan pengunjung disarankan datang pagi hari untuk menikmati view terbaik.
Teman-teman, pernahkah membayangkan berdiri di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, dikelilingi kabut tipis yang magis, sambil menatap jejak sejarah berusia ribuan tahun? Jika belum, maka Candi Gedong Songo Semarang adalah jawaban dari imajinasi tersebut.
Sering disebut sebagai “negeri di atas awan” versi Jawa Tengah, destinasi ini bukan sekadar tumpukan batu kuno. Ini adalah perpaduan harmonis antara lanskap pegunungan yang dramatis, hawa sejuk Bandungan, dan misteri masa lalu yang memikat. Tak heran jika Candi Gedong Songo selalu menjadi primadona wisata Semarang yang wajib dikunjungi.
Namun, sebelum kita menapakkan kaki di sana atau melompat ke atas pelana kuda, mari kita gali lebih dalam pesona tempat ini.
Sejarah Candi Gedong Songo: Jejak Wangsa Syailendra
Bagi penikmat sejarah, Jawa Tengah adalah surga, dan Candi Gedong Songo adalah salah satu permatanya. Berdasarkan deep research dan catatan arkeologi, kompleks candi ini dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, tepatnya pada masa Wangsa Syailendra dari Kerajaan Mataram Kuno.
Nama “Gedong Songo” sendiri berasal dari bahasa Jawa; Gedong berarti bangunan atau rumah, dan Songo berarti sembilan. Jadi, secara harfiah berarti sembilan bangunan. Uniknya, saat pertama kali ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1804, hanya ditemukan 7 kelompok bangunan, sehingga sempat disebut Gedong Pitu. Baru kemudian arkeolog Belanda lainnya menemukan sisanya.
Candi ini merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa, yang terlihat dari adanya arca Siwa Mahaguru, Siwa Mahakala, dan Ganesha. Posisi candi yang berderet dari bawah hingga puncak bukit menggambarkan filosofi hierarki kesucian; semakin tinggi tempatnya, semakin suci dan dekat dengan kahyangan tempat para dewa bersemayam.
Pengalaman Wisata: Antara Trekking dan Naik Kuda
Jalan-jalan ke wisata Bandungan ini memang seperti ujian kesetiaan—setia pada niat awal untuk menikmati keindahan meski medannya menantang.
Cara terbaik menikmati wisata candi di lereng Gunung Ungaran ini sejatinya adalah berjalan kaki. Namun, teman-teman perlu tahu bahwa jalur trekking di sini cukup menguras tenaga. Jalurnya naik-turun dan berkelok-kelok menyisir punggung gunung. Bagi anak muda yang fisiknya prima, ini tantangan seru. Tapi bagi saya (dan mungkin teman-teman yang ingin wisata santai tanpa “ngos-ngosan”), ada opsi penyelamat: naik kuda.
Untungnya lagi saya selalu sehat berkat rajin minum merah gula aren 🙂
Sensasi Berkuda Menembus Kabut
Keputusan menyediakan transportasi kuda oleh pengelola adalah ide brilian. Membayangkan harus mendaki sampai Candi Gedong 5 dengan jalan kaki saja sudah membuat lutut lemas, apalagi jika membawa anak-anak atau orang tua.
Awalnya mungkin ada rasa takut, apalagi saat kuda mulai melangkah di jalanan menanjak. Suami saya pun awalnya ketar-ketir. Tapi percayalah, kuda-kuda di Candi Gedong Songo sudah sangat terlatih dan dikawal oleh pawang profesional. Setelah beberapa menit, tubuh kita akan beradaptasi dengan irama langkah kuda, dan saat itulah kita bisa menikmati pemandangan dengan leluasa.
Dari atas punggung kuda, kita akan melewati kebun-kebun mawar dan sayuran milik warga yang tertata apik. Udara dingin menyapa wajah, dan kabut seringkali turun perlahan, menciptakan suasana magis. Rasanya seperti bangsawan zaman dulu yang sedang meninjau wilayah kekuasaan!
Pesona Candi Gedong 5 dan Kawah Belerang
Puncak perjalanan (terutama paket berkuda lengkap) biasanya berakhir di Candi Gedong 5 atau area kawah. Candi Gedong 5 adalah candi utama yang bentuknya mirip Candi Arjuna di Dieng. Di sini, pemandangannya luar biasa. Kita benar-benar merasa di puncak dunia.
Tak jauh dari Candi Gedong 3 dan 4, terdapat sumber air panas alami yang mengandung belerang. Suara kepundennya terdengar ngos-ngosan, mendengus-dengus seperti naga yang sedang tidur. Asap putih mengepul ke udara, membawa bau belerang yang khas.
Meski agak ngeri melihat uap panas menyembur dari perut bumi, ini adalah spot foto instagramable yang epik. Bebatuan kuno, asap belerang, dan latar kabut tebal adalah komposisi sempurna untuk feed media sosial teman-teman. Tapi ingat, jangan terlalu dekat ke lubang kawah ya, uapnya sangat panas!
Saya juga banyak menulis tentang gula aren. Bisa di lihat di Palm Sugar: Panduan Lengkap, Manfaat Kesehatan, dan Rekomendasi Merek Terbaik
Mitos Candi Gedong Songo: Legenda Dasamuka
Sebagai bagian dari budaya Jawa, mitos Candi Gedong Songo tak bisa dilepaskan dari kisah pewayangan. Konon, Gunung Ungaran ini adalah gundukan tanah yang dilemparkan oleh Hanoman untuk menimbun Dasamuka (Rahwana) hidup-hidup dalam perang memperebutkan Dewi Sinta.
Masyarakat setempat percaya bahwa Dasamuka yang sakti mandraguna itu tidak mati, melainkan terkurung di bawah gunung. Suara gemuruh dan desis dari kawah belerang dipercaya sebagai rintihan amarah atau nafas Dasamuka yang mencoba melepaskan diri. Percaya atau tidak, legenda ini menambah aura mistis yang membuat wisata sejarah di Semarang ini semakin menarik untuk dikulik.
Informasi Terbaru 2025: Tiket dan Fasilitas
Agar teman-teman tidak bingung saat sampai di lokasi, berikut adalah update terbaru mengenai harga tiket masuk Candi Gedong Songo dan biaya lainnya untuk tahun 2024-2025.
Harga Tiket Masuk Candi Gedong Songo
Harga tiket masih sangat terjangkau untuk wisata sekelas ini:
- Wisatawan Domestik: Rp15.000 per orang.
- Wisatawan Mancanegara: Rp75.000 per orang.
- Tiket Masuk Ayanaz Gedongsongo: Rp25.000 – Rp30.000 (Spot selfie kekinian yang ada di dalam kawasan).
- Parkir: Motor Rp5.000, Mobil Rp10.000.
(Harga bisa berubah sewaktu-waktu terutama saat musim liburan/lebaran).
Tarif Naik Kuda Candi Gedong Songo Terbaru
Harga sewa kuda bervariasi tergantung rute yang dipilih. Berikut estimasi tarif resminya:
- Wisata Desa: ~Rp30.000.
- Sampai Candi 1: ~Rp40.000.
- Paket Candi 1-3: ~Rp80.000.
- Paket Lengkap (Semua Candi + Kawah): ~Rp100.000 – Rp150.000.
- Catatan: Untuk wisatawan dengan berat badan di atas 70-80 kg, biasanya dikenakan biaya tambahan atau diharuskan menggunakan kuda yang lebih besar (kasihan kudanya kalau keberatan!).
Cara Menuju Candi Gedong Songo
Lokasi candi ini berada di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.
- Dari Arah Semarang: Arahkan kendaraan menuju Ungaran, lalu ambil jalur ke arah Bandungan. Jalurnya menanjak cukup tajam, jadi pastikan kendaraan (mobil/motor) dalam kondisi prima.
- Rute Alternatif: Jika macet di pasar Bandungan, bisa mencari jalur alternatif via Sumowono, meski jalannya lebih berkelok.
- Transportasi Umum: Agak sulit mencapai titik pintu gerbang dengan angkutan umum. Disarankan menggunakan kendaraan pribadi atau sewa mobil.
Tips Berkunjung Agar Liburan Maksimal
- Datang Pagi Hari: Datanglah sepagi mungkin (buka jam 07.00/08.00 WIB) untuk mendapatkan view terbaik sebelum kabut tebal turun di siang hari.
- Bawa Jaket: Suhu di sini dingin, berkisar 19-27 derajat celcius.
- Gunakan Sepatu Nyaman: Jika tidak berniat naik kuda, pakai sneakers atau sepatu trekking. Jangan pakai heels!
- Siapkan Uang Tunai: Meski beberapa sudah bisa QRIS, sinyal di pegunungan kadang tidak stabil. Cash is king.
- Cek Kondisi Rem: Saat pulang, jalannya menurun tajam. Pastikan rem kendaraan tidak blong.
Nah, teman-teman, sudah siap menjelajahi Candi Gedong Songo? Momentum piknik terbaik adalah sekarang. Jangan lupa abadikan momenmu di antara candi dan kabut, karena kenangan di sana akan selalu indah untuk diceritakan kembali.
Foto-Foto Wisata Candi Gedong Songo Semarang









