
Pernahkah Sobat JEI membayangkan berjalan di lorong waktu menuju peradaban kuno? Wisata Bukit Pelalangan Arosbaya menawarkan sensasi itu. Lokasi ini adalah wisata bekas tambang batu kapur yang kini sunyi, menyisakan mahakarya tebing merah yang spektakuler. Jujur, saya menemukan “surga” tersembunyi ini berkat iseng mengulik Google Maps. Fitur penyelamat bagi kaum mager riset tapi hobi piknik seperti saya. Syukurlah para Google Local Guides rajin beraksi. Tanpa mereka, saya takkan tahu ada galeri alam sekeren ini di Bangkalan.
Ringkasan Wisata ke Bekas Tambang Batu Kapur di Bangkalan Madura
- Wisata Bukit Pelalangan Arosbaya menawarkan pengalaman unik di bekas tambang batu kapur dengan keindahan tebing merah.
- Perjalanan menuju lokasi menantang, melewati jalan sempit di perkampungan yang memberikan suasana menarik.
- Keheningan di lokasi memberikan nuansa magis, dengan struktur batuan yang cantik dan vegetasi liar.
- Wisata ini sangat cocok untuk fotografi, terutama saat cahaya matahari menciptakan efek dramatis.
- Tiket masuk terjangkau dan persiapan matang diperlukan untuk menikmati wisata ini dengan nyaman.
2 Wisata Bekas Tambang Dalam Satu Hari
Sobat JEI, hari itu sepertinya saya, suami dan seorang anak kami, memang ditakdirkan menjadi maraton wisata bekas tambang di Madura. Setelah mata kami “kenyang” disuguhi hamparan tebing kapur putih yang menyilaukan dan terik di Bukit Jaddih, rasanya petualangan belum usai. Kami pasrah saja mengikuti titah Google Maps yang kemudian mengarahkan roda kendaraan menuju Bukit Pelalangan Arosbaya. Siapa sangka, dua lokasi ini ibarat siang dan senja. Jika Jaddih menawarkan kemegahan lanskap putih yang terbuka lebar, Arosbaya justru menyambut kami dengan dinding-dinding merah kecokelatan yang membentuk lorong-lorong sempit nan eksotis. Rasanya seperti melompat dari satu dimensi visual ke dimensi lain yang bertolak belakang dalam satu perjalanan singkat.
- Baca tentang : Keindahan Bukit Jaddih Madura: Permata Pencinta Selfie dan Fotografi di sini
Rekomendasi Google Maps
Melihat dari maps kelihatan mudah. Siapa sangka perjalanan menuju Wisata Bukit Pelalangan Arosbaya menjadi petualangan tersendiri yang menguji nyali pengemudi. Lepas dari jalan raya utama, Google Maps dengan percaya diri mengarahkan kami membelah jalan-jalan sempit di tengah perkampungan warga.
Bayangkan rasanya menyetir di jalur yang pas-pasan satu mobil, di mana teras rumah penduduk terasa begitu dekat seolah bisa disalami dari jendela kendaraan. Kami menyusuri gang-gang yang diapit pagar rumah, sesekali harus melambat karena ada ayam yang menyeberang atau warga yang sedang santai bercengkrama di bale-bale. Sempat terbersit ragu, “Benarkah jalan yang kami tempuh?” Namun, keraguan itu perlahan sirna sesaat kami memasuki gerbang sederhana menuju tempat parkir.
Estetika Wisata Bekas Tambang Batu Kapur yang “Mati”

Ketibaan kami di pelataran wisata bekas tambang ini memang sudah menjelang sore. Tak tampak seorang pun di sana. Suasana sangat sunyi. Suami saya sempat ragu dan menyuruh saya mundur. Tapi masa iya sudah melakukan perjalanan sejauh itu harus mundur sekarang?
Untungnya saat kami celingukan itu lah datang menyapa seorang bapak muda, yang kelihatannya adalah penduduk sekitar. Dia lah akhirnya yang menuntun kami menyisir setiap lorong dan onggokan batu yang terdapat di sana.
Eksplorasi Wisata Bekas Tambang Batu Kapur

Kini, suara gergaji, palu dan pahat tak lagi terdengar di sini. Saya memandangi onggokan batu besar yang penuh gerigi dengan bentuk tak beraturan. Mungkin kesunyian ini lah yang membuat Wisata Bukit Pelalangan Arosbaya terasa makin magis. Dinding-dinding kapur berwarna merah bata berdiri kokoh dengan relief bergerigi bekas pahatan manual, seolah mengucapkan selamat datang di negeri yang tak dikenal.
Warna merah ini sungguh memikat mata. Menurut literatur geologi, warna kemerahan pada batuan sedimen sering kali muncul akibat proses oksidasi zat besi yang terkandung dalam batuan tersebut setelah terpapar udara terbuka dalam waktu lama.
Karena aktivitas tambang sudah berhenti, tempat ini masuk dalam kategori post-industrial landscape. Prof. Tim Edensor, ahli geografi budaya, menyebut tempat seperti ini memiliki daya tarik “ruin aesthetics”. Keindahan justru muncul dari sisa-sisa kerusakan atau jejak aktivitas masa lalu yang ditinggalkan. Kalau sudah begini, Sobat JEI akan merasa seolah sedang berdiri di situs arkeologi raksasa, padahal ini murni sisa tambang rakyat.
Lorong Cahaya di Bukit Pelalangan
Sore itu, untung kami ditemani Akamsi. Kalau tidak, mana berani berjalan lebih ke dalam dan menyusuri jalan, dan lorong-lorong yang dari luar tampak gelap. Selain sunyi, saya juga takut ada hewan melata di sana. Untungnya tidak ketemu seekor pun selama saya sibuk foto-foto dengan latar belakang batu sisa tambang yang eksotis itu.
Memang, salah satu daya tarik utama wisata bekas tambang batu kapur ini adalah struktur lorong dan gua buatannya. Cahaya matahari yang masuk dari celah atap gua menciptakan efek visual dramatis. Salah satu momen paling magis di Wisata Bukit Pelalangan Arosbaya adalah saat matahari mulai meninggi dan sinarnya menerobos celah-celah atap gua. Pendaran cahaya ini menciptakan efek visual dramatis atau yang sering diburu para profesional sebagai Ray of Light (ROL).
Jadi, saya sama sekali tidak heran jika destinasi wisata bekas tambang ini menjadi primadona bagi para pencinta fotografi. Dinding-dinding merah yang gelap berpadu dengan sorot cahaya alami menghasilkan kontras yang tajam dan mistis, seolah-olah alam sendiri yang mengatur tata cahayanya untuk hasil jepretan kelas dunia.
Begitu lah, fenomena Ray of Light ini memberi dimensi kedalaman pada foto. Tak heran jika nuansanya sering disamakan dengan lanskap di film fiksi ilmiah atau bahkan Grand Canyon mini.
Tapi saya membayangkan tempat lain. Saat mengamati detail pahatan bergerigi yang menghiasi dinding batu merah ini, imajinasi saya langsung melayang ke Petra, Yordania. Kemiripannya begitu mencolok, terutama pada nuansa warna terracotta yang hangat dan tekstur dinding yang seolah dipahat dengan perhitungan seni tinggi. Bedanya, jika relief di Petra adalah mahakarya arsitektur kuno untuk istana dan makam, guratan artistik di Arosbaya ini tercipta secara “tidak sengaja” dari sisa-sisa aktivitas penambangan rakyat. Sungguh sebuah kebetulan yang estetik, seakan kita sedang berdiri di versi lokal dari kota batu yang hilang itu, tanpa perlu paspor dan visa!
Vegetasi Liar Menghiasi Tebing

Sobat JEI, alam itu tidak hanya indah, tapi juga sangat cerdik dalam menyembuhkan diri. Perhatikanlah momen puitis saat alam perlahan mengambil alih kembali wisata bekas tambang batu kapur di wisata Bukit Pelalangan Arosbaya ini. Di atas pilar-pilar batu cadas yang tampak gersang dan keras, justru tumbuh pepohonan serta semak liar yang menjuntai dengan anggun. Pemandangan ini memberi kita sebuah insight mendalam tentang resiliensi: bahwa sekeras apapun manusia mengubah wajah bumi, kehidupan akan selalu menemukan celah untuk kembali tumbuh, menciptakan harmoni baru yang memadukan sisa ambisi manusia dengan ketangguhan semesta.
Ahli ekologi menyebut proses ini sebagai suksesi ekologi, di mana alam menyembuhkan diri dan mengisi lahan kosong dengan kehidupan baru. Kontras warna antara merahnya batu kapur dan hijaunya tanaman liar menciptakan komposisi warna yang sangat instagramable. Udaranya pun terasa sedikit lebih sejuk dibanding area sekitarnya yang gersang.
Saya gak habis-habis membuat foto dan video. Dan gak ketinggalan juga selalu minta difoto di setiap yang semua memsona.
Baca juga:
Tiket Masuk dan Cara Menuju Lokasi
Sudah siap mengisi galeri ponsel Sobat JEI? Simak info praktis berikut ini.
Harga Tiket Masuk
Karena sudah murni menjadi objek wisata, retribusinya cukup tertata. Tiket masuk sangat ramah kantong, berkisar Rp5.000 – Rp10.000 per orang.
Rute Menuju Lokasi
Destinasi ini terletak di Desa Berbeluk, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan.
- Dari Jembatan Suramadu: Belok ke arah Kabupaten Bangkalan (sekitar 1-1,5 jam perjalanan).
- Menuju Arosbaya: Ikuti jalan poros utama hingga mencapai Kecamatan Arosbaya. Lokasinya dekat dengan pesarean/makam Raja-Raja Bangkalan (Air Mata).
- Navigasi: Ketik Wisata Bukit Pelalangan Arosbaya di Google Maps.
- Kondisi Jalan: Jalan mendekati lokasi agak sempit dan melewati perkampungan warga. Pastikan berkendara dengan santai.
Selamat menikmati keheningan yang artistik di Madura, Sobat JEI! Apakah perlu saya buatkan list perlengkapan yang wajib dibawa ke sana?
Tentu dong ya. Nah, ini dia checklist perlengkapan “wajib bawa” biar liburan Sobat JEI ke Wisata Bukit Pelalangan Arosbaya makin asyik dan tetap slay di depan kamera.
Mengingat lokasinya adalah wisata bekas tambang batu kapur di Madura yang terkenal dengan cuacanya yang “hangat-hangat menyengat”, persiapan tempur itu penting!
🎒 Starter Pack Jalan-Jalan ke Bukit Pelalangan Arosbaya
1. Outfit Warna Cerah (Wajib!) Tebing di sini didominasi warna merah bata dan cokelat tanah. Biar Sobat JEI nggak “tenggelam” di background, pakailah baju berwarna kontras.
- Rekomendasi Fashion Stylist: Putih, kuning mustard, atau biru elektrik bakal bikin fotomu pop-out banget! Hindari warna cokelat atau merah marun kalau nggak mau dikira bagian dari tebing.Tapi saya mengenakan pink juga kontras kok.
2. Alas Kaki yang “Badak” Ingat, ini wisata bekas tambang, bukan mall. Permukaannya berpasir, berbatu, dan tidak rata.
- Saran Ahli Ortopedi (dan pengalaman pribadi): Tinggalkan high heels atau wedges cantikmu di mobil. Pakai sneakers atau sandal gunung yang nyaman. Selain aman, Sobat JEI jadi lebih lincah buat manjat-manjat cari angle foto ekstrem.
3. “Senjata” Anti-Gosong Madura itu panasnya juara. Matahari di sini rasanya ada dua!
- Sunscreen: Oleskan sebelum turun mobil.
- Topi Lebar & Kacamata Hitam: Selain melindungi dari silau, dua benda ini adalah properti foto paling ampuh buat gaya candid. Menyembunyikan garis-garis penuaan juga kalau untuk saya.
4. Masker Cadangan Meskipun tambang sudah tutup, debu kapur halus kadang masih beterbangan, apalagi kalau angin lagi kencang. Bawa masker kain atau medis buat jaga-jaga, terutama buat Sobat JEI yang punya alergi debu.
5. Air Minum (Botol Tumbler) Di dalam area tebing, jarang ada penjual minuman yang stay di spot foto. Bawa bekal air minum sendiri biar nggak dehidrasi saat asyik berpose. Ingat, stay hydrated biar kulit tetap glowing di foto!
6. Uang Tunai Pecahan Kecil Sinyal internet di area pelosok kadang moody-an, jadi QRIS mungkin nggak selalu bisa diandalkan. Siapkan uang tunai receh (2rb, 5rb, 10rb) untuk bayar parkir, tiket masuk, atau beli es kelapa muda di warung warga sekitar.
7. Powerbank Full Tank Pemandangannya terlalu epik buat dilewatkan. Jangan sampai HP mati di tengah sesi foto gara-gara keasikan bikin video cinematic. Itu tragedi!
Gimana, Sobat JEI? Sudah siap packing? Kalau ada outfit putih di lemari, langsung masukkan tas sekarang juga! Selamat berburu foto keren! 📸✨
eviindrawanto.com
