
Ringkasan alias Poin Utama
- Saya akhirnya melakukan perjalanan ke Tanah Kanekes untuk pengalaman lansia trekking Baduy Luar setelah lama terpendam keinginan.
- Trekking dimulai di Gerbang Kadu Ketug, di mana suasana kampung ramai dan diisi dengan berbagai kerajinan lokal.
- Pengalaman belanja tenun di kampung yang kaya akan budaya membuat trek semakin berkesan, dengan banyaknya pilihan kain khas Baduy.
- Tantangan trekking yang curam dan berbatu menjadi ujian stamina bagi para lansia, tetapi semangat tetap membara di tengah keindahan alam.
- Saya menyarankan untuk menyewa porter dan tongkat trekking untuk memudahkan perjalanan bagi lansia.
Sudah lama sekali saya menyimpan keinginan untuk menjejakkan kaki di Tanah Kanekes. Namun, berbagai halangan selalu muncul. Syukurlah, niat itu akhirnya terlaksana juga. Seorang teman menawarkan perjalanan ini di sebuah Group WA. Gak pakai lama langsung, saya langsung seperti camar di laut yang nyamber ikan. Pengalaman trekking lansia Baduy Luar harus dimulai sekarang, kalau tidak, kapan lagi?
Impian itu memang sudah lama, tapi target saya realistis saja. Cukup menjelajahi Baduy Luar. Kalau harus lanjut ke Baduy Dalam, rasanya fisik ini harus sadar diri.
Kami berangkat dari Tangerang saat subuh menggunakan mobil Hiace. Perjalanan ini saya lakukan bersama teman-teman sebayaโrombongan “olak-alik” (olahraga sedikit, sakit pinggang kemudian, hehe) tapi semangat petualangannya masih membara.
Setelah menempuh perjalanan yang masih mengantuk dari Tangerang-kami tiba di Rangkasbitung lalu tak lama menempuh jalan berkelok, turun dan naik di Pegunungan Kanekes. Tiba di Terminal Ciboleger waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi.
Berikut adalah pengalaman lansia trekking di Baduy Luar yang penuh keringat, tawa, dan sedikit drama detak jantung.
Persiapan Awal di Terminal Ciboleger

Turun dari mobil, beberapa orang remaja dan ibu-ibu sudah menawarkan tongkat trekking sederhana dari kayu. Hal berikutnya yang kami cari adalah toilet. Alhamdulillah cukup bersih. Maklum, perjalanan cukup panjang, itu juga sudah nahan-nahan sejak di dalam mobil. Setelah itu, kami membeli tongkat trekking di warung sekitar terminal.
Ohya, tongkat trekking ini sangat perlu ya, Sobat JEI. Menurut studi Sports Health, penggunaan tongkat trekking (trekking pole) dapat mengurangi tekanan pada lutut hingga 25%. Apa lagi untuk lansia, alat ini bukan sekadar aksesoris, melainkan “kaki ketiga” yang krusial untuk menjaga keseimbangan di medan tidak rata.
Berbekal tongkat kayu seharga sepuluh ribuan, kami pun beranjak menuju gerbang masuk.
Suasana Kampung Baduy Luar di Gerbang Kadu Ketug
Kami memulai langkah pertama di Kampung Kadu Ketug. Gerbang tempat pembayaran tiket dan mengisi buku tamu ini menjadi batas tegas. Ini adalah pemisah antara dunia modern yang bising dengan kawasan adat yang tenang.
Di sini, kita akan bertemu dengan para pemandu lokal berkumpul. Mereka adalah warga asli yang menawarkan jasa panduan. Profesi ini biasanya mereka jalani sebagai sambilan selain bertani. Bila teman-teman datang ke sini seorang diri alias solo, bisa menyewa mereka agar perjalanan lebih mantap lagi.
Ternyata, suasana kampung Baduy Luar di area depan ini sangat ramai. Mirip pasar kaget! Rumah-rumah penduduk di kiri dan kanan jalan disulap menjadi etalase toko.
Dan jalan menanjaknya sudah mulai dari sini.
Sovenir yang Dijual Warga
Sobat JEI akan menemukan segala pernik kerajinan khas Baduy yang viral di media sosial. Mulai dari kain tenun, batik, ikat kepala (lomar), tas, aksesoris, hingga gula aren dan madu hutan.
Begitu lah rupanya. Kasat mata pun sudah jelas bahwa secara ekonomi, pariwisata telah menjadi penopang sekunder bagi warga Baduy Luar. Transaksi langsung ini membantu perputaran ekonomi mikro desa secara signifikan.
Wisata Belanja di Teras Baduy: Tenun, Warna, dan Realita
Sebelum melanjutkan trekking lebih jauh, darah ibu-ibu saya memanggil: Belanja. Jadi, langkah saya terhenti sejenak oleh lambaian ramah seorang Teteh penjual tenun di depan rumahnya.
Namanya Teh Rini (nama samaran :)), senyumnya manis khas wanita Baduy dengan gigi yang rapi. Kepandaiannya dalam memberi informasi, menurut saya sangat patut dikasih acungan jempol. Dia tidak memaksa saya membeli, tapi memberi makan otak saya yang selalu pengen tahu. Itu lah yang membuat saya yang awalnya cuma mau “lihat-lihat” malah berakhir duduk di bale-bale bambunya. Kalau tidak dingatkan suami bahwa kami cuma tektok di Baduy Luar, mungkin akan terus memilah-milah kain sambil mendengarkan “dongengan” si Teteh tentang semua hal yang dijualnya.
Ragam Kain Tenun Baduy yang Memikat
Sobat JEI, kalau melihat koleksi kain di sini, rasanya ingin borong semua. Mungkin kamu yang pernah ke sana juga merasakan apa yang saya rasakan.
Ada beberapa jenis motif khas yang ditawarkan si Teteh, yang ternyata punya nama dan makna tersendiri:
- Suat Songket (Suat Samata): Ini primadonanya. Motifnya rumit dan dinamis. Dulu katanya hanya hitam-putih, tapi sekarang sudah tersedia dalam aneka warna. Kain ini sering dijadikan selendang atau syal.
- Adu Mancung: Motif geometris yang ujungnya saling bertemu (beradu). Konon ini melambangkan kerukunan dan keharmonisan hidup masyarakat Baduy. Filosofis banget, kan?
- Poleng: Motif kotak-kotak sederhana namun elegan. Ada Poleng Hideung (hitam) yang biasa dipakai sehari-hari, dan ada variasi warna lain yang lebih cerah untuk wisatawan.
- Kain Aros: Kain dengan tekstur khas yang sering digunakan bahan dasar untuk membuat baju atau Iket (penutup kepala lelaki).
Pewarna Alam vs Pewarna Pabrik: Harga Bicara Kualitas
Saat menawar harga, saya jadi belajar satu hal penting. Ada dua “kasta” kain tenun di sini berdasarkan pewarnanya.
- Pewarna Sintetis (Pabrikan): Warnanya ngejreng, tajam, dan mencolok mata. Merahnya menyala, birunya terang. Harganya relatif terjangkau di kantong wisatawan, mulai dari ratusan ribu saja.
- Pewarna Alami: Ini kelas premiumnya. Warnanya tidak mencolok, cenderung soft, pastel, atau terlihat agak belel (pudar) namun justru di situlah letak kemawahannya. Pewarnanya diambil dari akar-akaran, kulit kayu, hingga kunyit. Harganya? Tentu lebih mahal, bisa dua hingga tiga kali lipat dari yang sintetis karena proses pembuatannya yang rumit dan makan waktu lama.
Saya akhirnya memutuskan membeli selembar Suat Songket dengan pewarna alami. Warnanya cokelat tanah yang hangat, terasa lebih menyatu dengan alam.
Jejak Modernitas dalam Helai Benang Tradisional
Sambil membungkus belanjaan, saya sempat mengobrol santai dengan si Teteh. Dari percakapan itu, terbuka satu fakta menarik yang jarang disadari wisatawan.
Meskipun mereka memegang teguh adat leluhur dan hidup tanpa listrik, urusan bahan baku tenun ternyata sudah terintegrasi dengan dunia modern.
Warga Baduy Luar tidak lagi memintal kapas sendiri untuk tenun komersial (kecuali untuk kain ritual sakral tertentu). Si Teteh bercerita bahwa benang-benang katun ini dipasok dari luar.
Para penenun di sini umumnya mendapatkan suplai benang dari Majalaya (Bandung). Ada rantai pasok (supply chain) yang berjalan mulus antara dunia industri tekstil modern di Bandung dengan para pengrajin tradisional di pelosok Kanekes ini.
Jadi, tenun yang Sobat JEI beli itu adalah hasil “perkawinan” harmonis: material dari dunia modern, namun ditenun dengan skill, kesabaran, dan spirit leluhur yang tak ternilai harganya. Sebuah adaptasi ekonomi yang cerdas, bukan?
Puas belanja (dan dompet sedikit menipis), saya kembali meraih tongkat trekking. Perjalanan menuju Jembatan Gajeboh masih panjang!
Agar tidak berat, belanjaan dititip dulu di tempat si Teteh, pulang trekking baru kami ambil.
Baca juga:
Tantangan Fisik dan Suasana Trekking Baduy Luar

Trekking yang sebenarnya baru dimulai selepas belanja, masuk ke Kampung Kadu Ketug.
Kaki saya mulai “berkenalan” dengan jalan setapak berbatu kali. Batu-batu ini disusun mengikuti kontur tanah. Permukaannya keras dan bulat. Kalau hujan turun, jalur ini pasti licin bukan main.
Jalanan mulai memperlihatkan wajah aslinya: turun naik tanpa ampun.
Jujur saja, suasana trekking Baduy Luar ini agak kurang ramah bagi senior. Namun, rasa lelah saya sedikit terobati saat melihat warga lokal. Banyak penduduk di sini usianya jauh di atas saya.
Saya melihat seorang ibu sepuh berjalan santai mendaki tangga batu. Punggungnya sudah membungkuk, tapi langkahnya mantap. Pemandangan ini menampar ego saya. Ini memberi kekuatan baru agar saya tidak cengeng dihajar trek Baduy.
Nah, fenomena kekuatan fisik lansia di masyarakat tradisional bisa kita kaitkan dengan konsep “Blue Zone”. Aktivitas fisik harian yang konsisten (berjalan kaki di kontur naik-turun) melatih kepadatan tulang dan kesehatan kardiovaskular secara alami, berbeda dengan masyarakat kota yang sedentary seperti saya.
Keunikan Budaya di Kampung Balimbing
Memasuki kampung kedua, Kampung Balimbing, nuansa budaya makin terasa. Saya mengambil napas dan menumpang duduk di bale rumah warga.
Dari sini mulai memperhatikan detail busana yang dikenanaan penduduk asli. Para wanita mengenakan baju hitam polos dengan kain batik bermotif biru-hitam (motif Poleng). Ada satu ciri unik yang menarik perhatian saya. Para gadis dan ibu muda hampir semuanya mengenakan kalung rantai emas. Perhiasan itu menjuntai cantik di leher mereka.
Kulit mereka rata-rata putih bersih dan terawat, khas warga pegunungan yang rajin mandi di sungai jernih. Sementara para lelaki, sebagian besar memakai baju biasa, namun tetap ada yang mengenakan ikat kepala ciri khas budaya Baduy Luar.
Bagi wanita Baduy, emas bukan sekadar perhiasan. Emas adalah tabungan atau investasi likuid yang paling mudah disimpan. Ini menunjukkan literasi keuangan tradisional yang sudah berjalan turun-temurun.
Ujian Stamina di Kampung Marengo
Lanjut ke kampung ketiga, Kampung Marengo.
Sampai di sini, keringat saya sudah bercucuran hebat. Napas ngos-ngosan. Jalan berbatu masih terus menanjak dan menurun curam.
Untungnya, saya tidak sendirian. Banyak wisatawan senior lain yang juga berjuang menaklukkan trek ini. Kami saling melempar senyum penyemangat.
Beberapa dari mereka memilih duduk ngaso di bale-bale rumah penduduk. Ada yang asyik bercengkerama di warung sambil menikmati es kelapa muda. Ada pula yang mengobrol dengan warga, menggali cerita kehidupan sehari-hari di sana. Kampung Marengo terasa lebih sepi, membuat nuansa Baduy semakin kental dan syahdu.
Lalu saya pun kembali duduk dan mengambil napas. Kali ini di warung Teteh penjual kelapa muda.
Barisan Leuit di Kampung Marengo, Simbol Ketahanan Pangan Abadi

Melanjutkan langkah yang makin berat di Kampung Marengo, saya kembali dipaksa istirahat.
Tapi mata mata saya tetap jelalatan, menikmati pemandangan unik yang berjejer rapi. Bukan rumah penduduk, melainkan bangunan-bangunan panggung kecil dari kayu yang jumlahnya semakin banyak.
Itulah Leuit, lumbung padi legendaris kebanggaan masyarakat Sunda dan Baduy.
Bagi saya, pengalaman lansia trekking di Baduy Luar ini bukan sekadar menguji napas tua. Ini adalah momen refleksi. Di saat kita masyarakat kota sering panik saat harga beras naik, warga Baduy justru tidur nyenyak. Mengapa? Karena mereka punya “tabungan” yang tak akan tergerus inflasi: Padi.
Filosofi Leuit, Tabungan Perut, Bukan Tabungan Uang
Dalam tatanan masyarakat Sunda Wiwitan, Leuit bukan sekadar gudang. Ia adalah manifestasi penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri (Dewi Padi).
Ada filosofi mendalam di sini. Orang Baduy memiliki prinsip: Padi adalah kehidupan, bukan komoditas. Haram hukumnya bagi mereka menjual padi. Padi hasil panen setahun sekali di ladang kering (Huma) harus disimpan untuk dimakan sendiri dan bekal anak cucu.
Ini adalah bentuk ketahanan pangan masyarakat Sunda yang paling murni. Mereka tidak tergiur menukar sumber kehidupan dengan uang kertas. Bagi mereka, leuit yang penuh adalah simbol kemakmuran dan ketenangan jiwa, jauh lebih berharga daripada saldo bank yang fluktuatif.
Rahasia Padi Baduy Awet Ratusan Tahun (Deep Research)
Sobat JEI akan menemukan cerita menarik lainnya dari leuit ini. Mungkin sudah ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin padi disimpan bertahun-tahun tidak busuk atau dimakan tikus?”
Saya sempat membaca beberapa literatur dan mengobrol dengan warga lokal. Ternyata, awetnya padi Baduy hingga puluhan bahkan seratus tahun bukan karena magis, melainkan karena teknologi kearifan lokal yang sangat scientific.
Berikut hasil hasil trekking saya di dalam Google Universe:
1. Varietas Padi Huma (Padi Gogo) Padi yang ditanam di Baduy adalah varietas lokal Padi Huma (bukan padi sawah). Padi ini memiliki kulit gabah yang lebih tebal dan keras. Kandungan mineralnya tinggi, namun kadar airnya rendah. Struktur ini membuat biji beras di dalamnya terlindungi sempurna dari oksidasi dan kelembapan yang memicu pembusukan.
2. Teknik Penyimpanan “Pocong” Berbeda dengan kita yang menyimpan beras dalam karung plastik, orang Baduy menyimpan padi dalam bentuk ikatan-ikatan tangkai (disebut Pocong atau Pare). Padi tidak dirontokkan dari tangkainya. Teknik ini menjaga sirkulasi udara di antara butiran padi tetap lancar saat ditumpuk, mencegah tumbuhnya jamur.
3. Teknologi Anti-Tikus: Geulebeg Perhatikan tiang penyangga Leuit. Di bagian atas tiang, tepat di bawah bangunan lumbung, terdapat piringan kayu bulat berdiameter sekitar 50-60 cm yang disebut Geulebeg. Ini bukan hiasan! Geulebeg berfungsi sebagai penghalang fisik. Tikus yang pandai memanjat tiang vertikal tidak akan bisa memanjat piringan kayu yang licin dan lebar ini secara terbalik. Sederhana, tapi efektif 100% menghalau hama pengerat.
Melihat deretan leuit ini, rasanya malu hati ini. Kita yang mengaku modern seringkali boros pangan, sementara mereka yang kita sebut “tradisional” justru memiliki sistem manajemen logistik pangan yang futuristik dan berkelanjutan.
Dengan napas yang mulai teratur kembali setelah istirahat sejenak memandangi Leuit, saya siap melanjutkan perjalanan. Jembatan Gajeboh sudah dekat!
Detak Jantung dan Batas Kemampuan Menuju Gajeboh

Perjalanan berlanjut menuju Jembatan Gajeboh yang ikonik. Treknya semakin menuntut stamina. Saat turun, tangganya curam dan licin pula. Naik lagi gak kalah curam membetot saluran pernafasan. Saya makin kepayahan, tapi semangat pantang menyerah masih ada.
Suami, mantan pacar saya yang sayang saya itu (hehehe) selalu berjalan di depan, dan beberapa meter berhenti menunggu saya.
Dia selau mengingatkan agar memperhatikan apakah smartwatch kembali bergetar. Jam pintar itu seperti teman setia juga, bergetar memperingatkan agar saya agar berhenti sejenak. Kalau sudah begitu, suami pun ikut memaksa saya duduk. Mungkin dia takut harus menggendong saya pulang!
Dalam hati saya menjerit, duh biyung, gini amat pengalaman lansia trekking Baduy Luar ya. Pdahal ini belum Baduy Dalam lho.
Tapi ya sudah lah, sudah terlanjur, saya sudah menghabiskan waktu hampir 3 jam untuk ini. Masa sekarang menyera?
Mendekati area Jembatan Gajeboh, smartwatch saya makin “cerewet”. Ia terus memberi notifikasi bahwa detak jantung saya sudah melewati batas normal aman untuk usia saya.
Sebelum berangkat trekking di Baduy luar ini sebenarnya sudah minta nasehat dulu pada si sulung yang kebetulan sekarang sudah jadi dokter. Menurutnya, rumus umum denyut jantung maksimum (MHR) adalah 220 dikurangi usia. Untuk olahraga intensitas sedang, lansia disarankan menjaga detak jantung di angka 50-70% dari MHR. Dan Memaksakan diri di atas batas ini berisiko fatal bagi kesehatan jantung. Dan saya mencapai 74%!
Suami akhirnya melarang dengan tegas. “Stop. Kita berhenti di sini,” katanya.
Akhirnya, pengalaman lansia trekking di Baduy Luar saya harus berakhir di jembatan terakhir sebelum tanjakan menuju Gajeboh. Saya menurut. Kami beristirahat lebih dari 30 menit untuk menormalkan napas, sebelum akhirnya perlahan berjalan kembali menuju Terminal Ciboleger. Naik turun lagi dan ngos-ngosan lagi dengan baju yang semakin kuyup.
Diam-diam saya mengihibur diri. Tidak sampai ke Gajeboh bukan masalah. Keselamatan dan kesehatan tetap yang utama, bukan? Soalnya saya masih ingin traveling ke tempat-tempat jauh dan unik seperti trekking di Baduy Luar ini.
Untuk Sobat JEI yang juga berminat trekking Baduy Luar, berikut adalah informasi terbaru untuk persiapan perjalanan ke Baduy Luar (Ciboleger), Banten, per awal tahun 2026:
1. Estimasi Biaya & Tiket Masuk
Masuk ke kawasan Baduy Luar sebenarnya tidak memungut “tiket masuk” mahal seperti objek wisata komersial, melainkan retribusi desa.
- Tiket Masuk / Retribusi Desa: Rp 5.000 – Rp 10.000 per orang (dibayar di pos gerbang Ciboleger).
- Jasa Pemandu (Guide) Lokal:
- Kisaran: Rp 150.000 – Rp 250.000 per grup kecil (tergantung negosiasi dan durasi, biasanya seharian atau menginap 1 malam).
- Tips: Sangat disarankan memakai jasa orang Baduy asli sebagai guide untuk menghormati adat setempat dan membantu ekonomi mereka.
- Jasa Porter (Bawakan Barang): Rp 150.000 – Rp 200.000 (PP/Pulang Pergi).
- Penginapan (Homestay di rumah warga): Kisaran Rp 150.000 – Rp 200.000 per rumah/malam (bukan per orang, tapi bayar “seikhlasnya” atau sesuai kesepakatan dengan pemilik rumah biasanya sudah termasuk makan sederhana).
2. Cara Menuju Baduy Luar (Dari Tangerang Selatan/Jakarta)
Opsi A: Transportasi Umum (KRL + Elf)
Ini adalah cara paling populer, hemat, dan merakyat.
- Naik KRL Commuter Line:
- Tujuan: Stasiun Rangkasbitung.
- Dari Stasiun Serpong/Rawabuntu (Tangsel): Tarif sekitar Rp 6.000 – Rp 8.000.
- Durasi: ยฑ 1 jam dari Serpong.
- Dari Stasiun Rangkasbitung ke Ciboleger:
- Turun di stasiun, keluar menuju pasar/terminal angkot.
- Naik Elf (Jurusan Ciboleger): Cari mobil Elf (biasanya warna perak/biru) yang mengetem di sekitar stasiun atau terminal Aweh.
- Tarif Elf: Rp 30.000 – Rp 50.000 per orang (tergantung penuh/tidaknya mobil).
- Waktu tempuh: ยฑ 1,5 – 2 jam perjalanan dengan medan naik-turun bukit.
- Catatan: Elf terakhir dari Ciboleger kembali ke Rangkasbitung biasanya jam 13.00 – 14.00 WIB. Jangan sampai kesorean!
Opsi B: Kendaraan Pribadi (Mobil)
Dari Tangerang Selatan, rute lebih cepat lewat tol baru.
- Rute Tol:
- Masuk Tol Serpong-Balaraja atau Jakarta-Merak.
- Ambil arah ke Tol Serang – Panimbang.
- Keluar di Gerbang Tol Rangkasbitung.
- Rute Jalan Raya:
- Dari pintu tol Rangkasbitung, ikuti Google Maps menuju “Terminal Ciboleger”.
- Anda akan melewati Alun-alun Rangkasbitung -> Aweh -> Leuwidamar -> Ciboleger.
- Kondisi jalan: Mayoritas aspal beton mulus, namun mendekati Ciboleger jalanan akan lebih sempit, berkelok, dan menanjak curam. Pastikan rem dan kopling mobil sehat.
- Parkir:
- Mobil bisa diparkir di area Terminal Ciboleger (aman, dijaga warga).
- Biaya parkir inap mobil: Sekitar Rp 50.000 – Rp 70.000 per malam.
3. Tips Tambahan untuk Lansia
Mengingat pengalaman trekking “ujian napas” sebelumnya:
- Sewa Porter: Jangan ragu sewa porter untuk membawa tas. Beban di punggung sangat mempengaruhi stamina lutut.
- Tongkat: Beli atau sewa tongkat kayu di Ciboleger (biasanya Rp 5.000 – Rp 10.000). Ini sangat membantu menahan beban tubuh saat turunan.
- Rute Landai: Minta guide lewat jalur yang lebih landai jika memungkinkan, meskipun mungkin sedikit lebih memutar.
Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya, Sobat JEI!
eviindrawanto.com
