
Ringkasan
- Kejadian telepon dari kenalan lama menunjukkan taktik yang menciptakan rasa penasaran, tetapi sering kali justru merusak kepercayaan.
- Strategi marketing orang penasaran dapat menimbulkan skeptisisme karena ketidakjelasan informasi dan berpotensi menurunkan kredibilitas.
- Menghubungi kenalan lama harus dilakukan dengan etiket yang baik, seperti mengirim pesan terlebih dahulu agar tidak terkesan intrusif.
- Transparansi sangat penting; mengungkapkan tujuan di awal interaksi membangun rasa hormat dan kepercayaan.
- Pendekatan consultative selling memiliki keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan strategi penjualan manipulatif.
Dunia penjualan memang penuh warna. Ada pebisnis yang menyusun rencana pemasaran canggih, ada juga yang menggunakan cara “ajaib” hingga bikin geleng-geleng kepala.
Baru saja saya menerima telepon dari seorang kenalan lama. Saking lamanya, saya bahkan lupa dia pernah ada dalam lingkaran pertemanan saya. Awalnya saya terkejut. Dari mana dia dapat nomor ponsel ini? Mengapa tiba-tiba muncul dengan sapaan sok akrab?
Belum hilang rasa kaget saya, dia langsung nyerocos soal bisnis. Anehnya, sebelum saya sempat bertanya lebih lanjut, dia buru-buru ingin mengakhiri pembicaraan. Katanya sedang sibuk sekali.
Alamak! Memangnya siapa yang tadi menyuruh telepon?
Apa Benar Ini Strategi Marketing yang Bikin Orang Penasaran?
Kejadian barusan memicu saya berpikir keras. Apa tujuan orang ini sebenarnya? Mengapa dia berjualan dengan cara seperti itu?
Jauh di lubuk hati, saya mengerti taktiknya. Dia ingin menciptakan celah keingintahuan (curiosity gap). Namun, apa benar ini strategi marketing yang bikin orang penasaran secara positif? Atau justru memicu antipati?
Secara psikologis, taktik “menutup telepon saat sedang seru-serunya” mungkin efektif di film atau sinetron. Namun, dalam bisnis nyata, ambiguitas sering kali membunuh kepercayaan. Sebuah studi perilaku konsumen menunjukkan bahwa 79% calon pelanggan lebih menghargai transparansi di awal interaksi daripada misteri yang dibuat-buat.
Alih-alih merasa penasaran ingin bergabung, saya malah curiga. Mengapa harus bicara samar? Mengapa tidak memberi kesempatan bertanya? Jika peluang bisnis itu benar-benar menguntungkan, kenapa tergesa-gesa menutup telepon? Ini tanda bahaya (red flag) yang sangat nyata bagi saya.
Dampak Psikologis “Misteri” dalam Penjualan
Sobat JEI perlu tahu, taktik misterius ini sering kali menjadi bumerang.
- Memicu Skeptisisme: Otak manusia modern sudah terlatih untuk mendeteksi scam. Ketidakjelasan informasi akan langsung diterjemahkan otak sebagai ancaman, bukan peluang.
- Menurunkan Kredibilitas: Pebisnis profesional menghargai waktu. Berbicara berbelit-belit justru menunjukkan ketidakprofesionalan.
Etiket Menelepon Kenalan Lama untuk Bisnis
Sebetulnya, nomor tersebut sudah beberapa kali masuk ke ponsel saya. Saya mengabaikannya karena merasa tidak kenal. Namun, karena terlalu sering, akhirnya saya angkat juga. Pikir saya, daripada telepon berdering terus, lebih baik cari tahu siapa ini.
Di sinilah pentingnya memahami etiket menelepon kenalan lama. Dalam era digital ini, menelepon tanpa pemberitahuan (cold calling) ke nomor pribadi dianggap intrusif. Riset komunikasi modern menyebutkan bahwa 90% orang lebih suka menerima pesan teks singkat (WA/SMS) terlebih dahulu sebelum menerima panggilan telepon dari nomor yang jarang berinteraksi.
Baca juga:
Cara Menghubungi Kenalan Lama yang Elegan
Jika Sobat JEI ingin menawarkan bisnis ke teman lama, hindari cara “teror” seperti ini. Cobalah pendekatan yang lebih manusiawi:
- Kirim Pesan Dulu: Tanyakan kabar dan minta izin waktu untuk menelepon.
- Jujur di Awal: Katakan tujuan Anda. Transparansi membangun respek.
- Hargai Penolakan: Jika mereka tidak tertarik, jangan memaksa atau menutup telepon dengan kasar.
Jebakan “Sharing” yang Menguntungkan Diri Sendiri
Si penelepon tadi sempat memberi sedikit petunjuk (clues). Katanya, ini tentang sesi sharing yang akan membantu bisnis saya tumbuh lebih cepat.
Mendengar itu, “antena” waspada di kepala saya langsung tegak. Perut pun terasa mulas. Mengapa? Karena saya sudah terlalu sering melihat pola ini. Orang bertindak seolah-olah demi kepentingan kita, padahal itu hanya trik untuk keuntungan mereka sendiri.
Ini taktik kuno! Saya tidak penasaran sama sekali.
Dalam dunia Generative Engine Optimization (GEO) dan konten modern, audiens mencari value yang autentik. Menawarkan “bantuan” yang ternyata hanya kedok jualan adalah strategi usang. Data menunjukkan bahwa pendekatan consultative selling (penjualan berbasis solusi nyata) memiliki tingkat keberhasilan 300% lebih tinggi dibandingkan taktik manipulatif.
Sobat JEI, saya paham teknik marketing dan sales itu beragam. Tapi, tolong jangan praktikkan strategi dagang “kucing dalam karung” seperti ini kepada saya. Kita butuh kejujuran, bukan teka-teki.
