
Saya pernah memiliki tempat persembunyian paling istimewa: sebuah rumah pohon. Bahkan, saya sempat memiliki dua. Namun, yang paling membekas di ingatan adalah yang bertengger gagah di atas pohon mangga, tepat di samping dapur rumah.
Secara visual, bentuknya memang jauh dari rumah pohon masa kecil estetik yang bertebaran di Pinterest atau Instagram. Lantainya hanya terbuat dari kayu nangka. Dindingnya merupakan kolase unik dari gelondongan kayu bakar, anyaman bambu, dan kain sarung usang.
Meski sederhana, bagi saya tempat ini adalah surga. David Sobel, seorang ahli pendidikan tempat (place-based education), menyebutkan dalam risetnya bahwa anak-anak memiliki kebutuhan psikologis untuk menciptakan “dunia kecil” mereka sendiri. Tempat privat ini memberikan rasa otonomi dan kontrol yang jarang mereka dapatkan di dunia orang dewasa. Itulah sebabnya mengapa saya lebih memilih melewatkan hari di sana ketimbang berlarian di pematang sawah.
Konstruksi Unik dari Tangan Mak Oleang
Kami tidak membangun benteng ini sendirian. Sosok di balik kekokohan struktur tersebut adalah Mak Oleang. Nama aslinya Sidi, namun julukan “Oleang” (miring dalam bahasa Minang) melekat padanya. Mungkin karena mata kirinya yang juling atau kebiasaan memiringkan kepala saat bicara.
Mak Oleang adalah arsitek rumah pohon masa kecil kami. Dengan kemeja pudar yang sobek di bahu kiri—seperti bulu angsa tertiup angin—ia memantek setiap papan agar aman. Menurut teori Loose Parts dari arsitek Simon Nicholson, material lepas seperti kayu bekas yang dirakit Mak Oleang justru merangsang kreativitas anak lebih tinggi daripada mainan pabrikan yang kaku.
Interaksi dengan Mak Oleang juga mengajarkan kami kewaspadaan sosial. Nenek selalu memperingatkan kami untuk menjaga jarak dari tas kulit hitamnya. Ini mengajarkan batasan privasi sejak dini, bahkan terhadap sosok yang ramah.
Dinamika Sosial dan Perebutan Wilayah
Awalnya, kami mengklaim kepemilikan kolektif atas rumah pohon masa kecil ini. “Kami” di sini adalah saya, kakak, adik, dan Amilus—seorang anak laki-laki yang kerap menjadi bahan olok-olok sebagai “calon suami” saya saat berusia 8 tahun.
Namun, egoisme anak-anak sering kali muncul. Psikolog Jean Piaget menyebut fase ini sebagai egosentrisme, di mana anak sulit melihat perspektif orang lain. Sering kali, saya merasa seutuhnya rumah itu milik saya pribadi.
Tapi pada akhirnya, sayalah penghuni setianya. Ruangannya cukup lega untuk merebahkan badan. Di sinilah saya merasa aman, terlindung dari “rongrongan” perintah Nenek dan Ibu. Ini adalah manifestasi dari kebutuhan manusia akan refuge (tempat berlindung), sebuah konsep dalam psikologi lingkungan yang menjelaskan mengapa kita merasa nyaman di tempat yang tinggi dan tertutup namun tetap bisa memantau alam sekitar.
Baca juga:
Sensasi Alam dan Aroma Petrichor
Keunggulan utama dari rumah pohon masa kecil ini adalah pengalaman sensoriknya. Dari ketinggian, suara alam terdengar lebih dramatis. Jeritan angin yang menggesek dinding terasa begitu dekat. Suara hujan yang menghantam atap seng dapur terdengar menderu, mengingatkan saya pada ketegangan kisah Malin Kundang.
Studi ilmiah menunjukkan bahwa suara hujan (pink noise) memiliki frekuensi yang menenangkan otak dan meningkatkan kualitas tidur. Tidak heran ya jika saya selalu merasa sangat nyaman di sana.
Selain suara, aroma juga menjadi memori kuat. Saya bisa mencium wangi lumpur sawah dan aroma petrichor saat hujan pertama turun. Para ilmuwan menyebut aroma ini berasal dari geosmin, senyawa yang dilepaskan bakteri tanah saat hujan. Aroma ini memicu nostalgia kuat karena diproses oleh olfactory bulb yang terhubung langsung ke hippocampus (pusat memori otak). Jadi kalau sekarang saya mencium aroma petrichor, ingatan saya langsung ke kampung halaman dan terutama ke rumah pohon masa kecil ini.
Dari ketinggian rumah pohon masa kecil itu, saya belajar mengenali siklus padi: mulai dari masa tanam, menghijau, hingga menguning. Sebuah pelajaran biologi alami yang tak tergantikan. Sobat JEI tahu gak, siklus padi juga membawa aroma yang berbeda lho.
Merenungi Kembali Masa Kecil di Rumah Pohon
Merenungi kembali masa-masa di rumah pohon masa kecil, rasanya preferensi saya untuk menyepi bukanlah kebetulan, melainkan cetak biru kepribadian yang menetap. Psikolog Susan Cain dalam bukunya Quiet menyebutkan bahwa kaum introvert sering kali menemukan energi dalam kesendirian dan lebih mengutamakan kedalaman hubungan (deep connection) ketimbang luasnya pergaulan. Benar saja, kebahagiaan saya membangun dunia imajiner di atas pohon mangga itu terbawa hingga kini; saya tidak kurang suka mengejar riuh rendah keramaian ala kupu-kupu sosial, melainkan menemukan kenyamanan dalam lingkaran pertemanan kecil yang lebih intim dan bermakna.
5 Tanda Anda Seorang Introvert Bahagia, Bukan Pemalu
Apakah Sobat JEI juga merasa lebih nyaman “membangun dunia sendiri” seperti saya di rumah pohon masa kecil? Tenang, itu bukan berarti kita anti-sosial. Berikut adalah tanda bahwa Teman-teman memiliki kepribadian introvert bahagia yang sehat secara mental:
1. Menikmati “Me Time” Sebagai Kebutuhan Primer
Bagi ekstrovert, kesendirian mungkin menyiksa. Namun bagi introvert bahagia, kesendirian adalah charger energi. Dr. Marti Olsen Laney dalam The Introvert Advantage menjelaskan bahwa jalur saraf introvert lebih dominan menggunakan asetilkolin. Zat ini memicu rasa tenang saat kita fokus pada aktivitas internal, berbeda dengan dopamin yang dicari ekstrovert dari stimulasi luar. Jadi, menepi dari keramaian bukan pelarian, tapi strategi biologis untuk recharge.
2. Memilih Lingkaran Pertemanan Kecil tapi Erat
Sobat JEI mungkin malas basa-basi dengan ratusan kenalan. Lebih suka memilih diskusi mendalam dengan dua atau tiga sahabat dekat. Ini sejalan dengan teori Social Penetration, di mana kepuasan hubungan diukur dari kedalaman (depth), bukan keluasan (breadth). Kualitas hubungan yang intim memberikan rasa aman emosional yang jauh lebih stabil ketimbang popularitas semu.
3. Pendengar yang Aktif dan Pengamat Ulung
Di rumah pohon masa kecil, saya lebih suka mengamati alam ketimbang berteriak. Introvert bahagia cenderung memproses informasi secara internal sebelum bicara. Riset dari Adam Grant di Wharton School menunjukkan bahwa pemimpin introvert sering kali lebih efektif karena mereka pendengar yang baik. Mereka membiarkan ide orang lain berkembang tanpa buru-buru mendominasi percakapan.
4. Fokus Mendalam (Deep Work)
Sobat JEI sering lupa waktu saat sedang asyik menekuni hobi atau pekerjaan sendiri? Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi menyebut ini sebagai Flow State. Introvert bahagia sangat mudah masuk ke zona ini karena minimnya distraksi eksternal yang mereka butuhkan. Kemampuan fokus jangka panjang ini adalah aset besar dalam dunia profesional maupun kreatif.
5. Mandiri dalam Mengambil Keputusan
Karena terbiasa dengan dialog internal, saya jarang butuh validasi eksternal untuk merasa yakin. Seperti saat saya memutuskan rumah pohon itu milik saya meski “diganggu” saudara lain. Kemandirian emosional ini membuat introvert bahagia lebih tahan banting terhadap tekanan sosial atau tren sesaat.
Konon begitu lah kesimpulan introvert bahagia ya, teman-teman 🙂
eviindrawanto.com
