
Poin Utama
- Pola kebiasaan sehari-hari, seperti membaca di pagi dan malam, membentuk identitas dan kesehatan mental kita.
- Rutinitas yang konsisten melepaskan dopamin, membantu otak bekerja dalam keadaan autopilot.
- Mengubah kebiasaan lama sulit karena neuroplastisitas otak menciptakan jalur saraf yang kuat.
- Kebiasaan positif meningkatkan produktivitas, sedangkan kebiasaan negatif dapat menghambat pencapaian tujuan.
- Eksperimen untuk mengubah kebiasaan terkadang gagal, seperti saat mencoba tidur tanpa membaca.
Apakah Sobat JEI punya satu rutinitas yang sulit sekali ditinggalkan? Saya punya satu pola kebiasaan sehari-hari yang kadang membuat suami geleng-geleng kepala.
Pagi hari, setelah anak-anak berangkat sekolah, kaki saya otomatis melangkah ke perpustakaan pribadi. Ruangan ini juga berfungsi sebagai kantor saya. Keheningan pagi terasa hampa jika tidak saya habiskan di depan komputer. Saya berselancar di dunia maya, menyapa teman virtual, atau sekadar berinteraksi lewat tulisan.
Ini bukan sekadar hobi. Ini adalah kebutuhan mendesak. Psikolog menyebut fenomena “kelakuan” saya ini sebagai ritusalisasi kenyamanan. Otak kita melepaskan dopamin saat kita melakukan rutinitas yang familiar dan menyenangkan di pagi hari. Saya baru bisa memutus rantai ini jika ada keadaan darurat. Misalnya anak sakit, urusan dapur mendesak, atau pikiran sedang sangat kacau. Namun, jeda itu biasanya hanya sebentar. Habis itu saya balik lagi ke kebiasaan lama.
Mengapa Pola Kebiasaan Sehari-hari Membentuk Identitas Kita?
Manusia adalah “hewan berbudaya”. Sepanjang hidup, kita mengembangkan berbagai macam ritual yang akhirnya membentuk pola perilaku. Masyarakat kemudian memberi label pada formasi ini: baik atau buruk.
Kebiasaan belajar seumur hidup (lifelong learning), misalnya, mendapat nilai excellence. Sebaliknya, kecanduan alkohol atau obat terlarang masuk kategori kebiasaan buruk alias bad habit.
Secara ilmiah, kebiasaan tersimpan di bagian otak bernama Basal Ganglia. Bagian ini bekerja secara otomatis agar otak “sadar” kita (Prefrontal Cortex) bisa beristirahat. Inilah sebabnya pola kebiasaan sehari-hari bekerja seperti autopilot. Kita melakukan sesuatu tanpa perlu berpikir keras lagi.
Baca juga:
Ritual Sebelum Tidur – Cara Saya Menjinakkan Pikiran Liar
Selain rutinitas pagi, saya juga punya kebiasaan membaca sebelum tidur. Saya tidak bisa terlelap tanpa membawa buku atau bahan bacaan seperti e-book dari ponsel ke kasur. Tanpa barang cetakan atau produk digital itu, pikiran saya akan melantur ke mana-mana. Setelah berdoa, saya bisa membayangkan peristiwa acak bagaikan slide mental yang tak terkendali.
Buku berfungsi memenjarakan keliaran tersebut. Fokus saya terkunci pada pokok bahasan di dalamnya. Saya membayangkan apa yang saya baca. Rupanya ini kebiasaan bagus. Penelitian dari University of Sussex bahkan menunjukkan bahwa membaca selama enam menit saja dapat mengurangi tingkat stres hingga 68%.
Alhamdulillahnya, jonjot otak saya cukup sederhana. Semakin berat materi bacaannya, semakin cepat saya tertidur. Rupanya ini adalah bentuk cognitive disengagement, di mana otak beralih dari kekhawatiran dunia nyata ke narasi yang terstruktur, sehingga memicu rasa kantuk.
- Baca di sini tentang : Rontgen Lutut Kiri – Pesan Tubuh untuk Ubah Gaya Hidup
Fenomena Old Habits Die Hard dalam Saraf Manusia
Sobat JEI pasti sering mendengar idiom ini: “Old habits die hard, new habits die easy.” Mengapa mengubah kebiasaan lama begitu sulit?
Saya sih tidak berniat berubah old habits ini. Karena sudah positif dan bagik bagi kesehatan mental saya. Namun jika Sobat JEI berniat merubah kebiasaan buruk jadi baik, atau mengubah kebiasaan lama jadi terasa sulit, itu bisa dimaklumi.
Karena jawabannya terletak di neuroplastisitas otak. Kebiasaan menciptakan “jalan tol” dalam susunan saraf kita. Para ahli saraf menyebut ini sebagai Hukum Hebb: “Neurons that fire together, wire together.” Pola kebiasaan sehari-hari yang sudah mendarah daging memiliki lapisan mielin yang tebal pada jalur sarafnya. Sinyal otak meluncur sangat cepat di sana.
Sebaliknya, saat kita mencoba mengadopsi kebiasaan baru, kita seperti sedang membabat alas di hutan belantara. Kita butuh waktu lama dan pengulangan terus-menerus sampai jalur baru itu terbentuk jelas. Itulah sebabnya mengapa transformasi diri bukan perkara instan.
Eksperimen Mengubah Kebiasaan: Sebuah Kegagalan
Meski membaca sebelum tidur termasuk habit bagus, saya pernah bereksperimen tidur tanpa buku. Saya hanya ingin mengantisipasi skenario terburuk: bagaimana jika semua buku di dunia musnah atau saya kehilangan Hp?
Hasilnya kacau balau. Saya hanya berguling-guling sampai larut malam. Terus kepikiran pada hal-hal yang tidak saya inginkan.
Seperti bisa diduga, esoknya, saya bangun dengan bad mood. Dalam ilmu tidur, ini terjadi karena saya melanggar sleep association. Otak saya sudah mengasosiasikan buku dan Hp sebagai sinyal tidur. Tanpa “pemicu” tersebut, sistem tubuh saya menolak untuk istirahat. Akhirnya, latihan tersebut saya hentikan.
Dampak Habit pada Produktivitas dan Cita-Cita
Saya menyadari masih banyak pola kebiasaan sehari-hari saya yang lain. Ada yang positif, tapi yang negatif juga tak terhitung. Keduanya saling tarik-menarik dan menciptakan keseimbangan status quo.
Keseimbangan ini rupanya membuat gerakan transformasi diri saya jadi tertatih. Hasilnya tidak secepat keinginan saya untuk mencapai goal yang sudah saya setting. Contohnya, mimpi saya menulis buku juga masih berupa bagan di kepala. Menulis buku memerlukan perubahan drastis dari habit saat ini, dan saya belum berhasil membangun keystone habit (kebiasaan kunci) yang kuat untuk mendukung tujuan tersebut.
Bagaimana dengan Sobat JEI? Apakah kamu merasa mudah atau sulit dalam merubah sebuah kebiasaan?
eviindrawanto.com
