Sedang mencari pengalaman menginap di Bed and Breakfast De Pepersteeg Marken dan rekomendasi cafe unik dengan pemandangan di Marken Belanda? Sobat JEI mendarat di artikel yang tepat!
Sore semakin beranjak saat kami sudah puas mengitari Volendam. Perut sudah kenyang dengan hidangan laut klasik, dan mata rasanya seberat jangkar kapal. Maklum, kami baru saja menempuh penerbangan 24 jam.
Rasanya memang pas menghindari menginap di tengah keramaian kota, dan mencari tempat yang sedikit hening guna melepas penat dan tidur lelap malam itu. Dan pilihannya memang tidak salah ketika kami memilih melarikan diri sejenak ke Semenanjung Marken.
Artikel ini akan merangkum perjalanan slow travel kami; mulai dari menyusuri tanggul membelah laut, menapaki tangga curam penginapan otentik, hingga menyeruput kopi pagi sambil dan sarapan. Saya juga bertegur sapa dengan kawanan domba berbulu tebal. Mari kita mulai perjalanannya!

Berkendara Membelah Laut Menuju Marken
Untuk ke Marken, Google Maps dan para local guide biasanya menyarankan pelancong menumpang kapal feri legendaris ‘Marken Express’ dari Volendam. Asik memang membayangkan berlayar Membelah perairan Gouwzee selama sekitar 30 menit. Selain memandangi langit nusim semi yang indah, kita juga akan ditemani tarian burung camar memang terdengar romantis.
Tapi kami memilih jalur darat. Anak kami mengemudikan mobil Tesla sewaan kami perlahan meninggalkan Volendam. Kami melewati jalan-jalan yang pernah saya singgahi sekitar 12 tahun lalu. Semuanya masih rapi. Kanal-kanalnya tetap bersih, kincir angin berdiri gagah, dan bangunan tua klasik seolah menolak menua. Jalanan sore itu relatif sepi, mungkin karena jam pulang kantor sudah lewat.
Sekitar 20 menit kemudian, mobil kami melintasi lanskap polder hijau khas Belanda. Puncak sensasinya terjadi saat roda mobil menyusuri Waterlandse Zeedijk (Jalan N518). Tanggul aspal ikonik yang dibangun tahun 1957 ini membelah perairan Gouwzee dan Markermeer. Menyetir di sini menciptakan ilusi magis. Rasanya seolah kita sedang melayang tepat di atas permukaan laut.

- Baca di sini tentang: Membedah Branding Volendam: Rahasia Gila Desa Nelayan Jadi Ikon Dunia
Lorong Waktu di Desa Nelayan
“Selamat datang di Marken,” bisik saya dalam hati saat mobil memasuki area parkir khusus di ujung desa. Mengingat Marken melarang mobil wisatawan masuk ke area pemukiman, kita harus berjalan kaki dari sini.
Marken menyimpan sejarah yang dramatis. Badai dahsyat pada abad ke-13 memisahkan daratan ini dari Belanda dan menjadikannya sebuah pulau. Selama berabad-abad, penduduknya hidup terisolasi di tengah ganasnya ombak Zuiderzee (kini danau Markermeer). Isolasi inilah yang membuat mereka memiliki pakaian adat, logat, dan budaya kental yang bertahan hingga hari ini.
Melangkah masuk ke kawasan Marken rasanya seperti masuk ke lorong waktu. Deretan rumah kayu bercat hijau dan hitam berdiri berhimpitan. Mereka sengaja membangun rumah di atas werven (gundukan tanah buatan) atau menggunakan tiang pancang agar selamat dari banjir rob kala itu.
Pengalaman Menginap di Bed and Breakfast De Pepersteeg Marken
Untuk meresapi jiwa tempat ini, kami memutuskan menetap. Pilihan kami jatuh pada De Pepersteeg. Letaknya strategis di kawasan Kerkbuurt (lingkungan gereja).
Penginapan ini mendefinisikan kata gezellig—bahasa Belanda untuk kenyamanan yang hangat dan mengundang. Bangunannya mungil dan sangat otentik. Di dalamnya, ornamen klasik khas desa nelayan menghiasi setiap sudut. Kami mendapat kamar di lantai atas. Mengingat ini bangunan bersejarah, tentu saja tidak ada lift. Jadi, kami harus olahraga ekstra menggeret koper melewati tangga kayu sempit dan curam khas rumah-rumah Belanda lama. Cukup membuat napas ngos-ngosan, tapi sepadan!
Tetangga sebelah B&B ini adalah daya tarik utamanya: Hervormde Kerk (Gereja Reformasi). Gereja ini bertindak sebagai “mercusuar” spiritual. Di mana pun kita berdiri di Marken, menara gereja tahun 1904 ini pasti terlihat. Di puncaknya, bertengger patung ayam jantan perunggu. Bagi masyarakat nelayan zaman dulu, ayam ini bukan sekadar penunjuk arah angin, melainkan simbol ketaatan dan kewaspadaan terhadap badai. Tidur di sini, ditemani bayang-bayang gereja dan kesunyian malam Marken, benar-benar memberikan rasa damai yang absolut.

Menjemput Pagi di Julianabrug
Pagi menyapa membawa udara dingin yang menusuk namun menyegarkan. Saya melangkah keluar menyusuri jalanan berlapis bata merah. Tujuan saya mencari sarapan, namun kaki ini malah membawa saya menyeberangi Julianabrug (Jembatan Juliana).
Jembatan kayu putih ini melengkung cantik di atas kanal. Di bawahnya, air mengalir tenang layaknya cermin raksasa, memantulkan bayangan langit biru pucat. Beberapa ekor bebek liar berenang beriringan, sama sekali tidak peduli pada dunia manusia yang serba sibuk. Berdiri di jembatan ini mereset kembali pikiran saya. Alam dan manusia benar-benar bisa hidup selaras.
Rekomendasi Cafe Unik dengan Pemandangan di Marken Belanda
Akhirnya, saya tiba di tujuan utama: De Verkeerde Wereld.
Namanya punya arti harfiah “Dunia yang Salah” atau “Dunia Terbalik”. Menurut literatur lokal, nama ini mungkin merujuk pada lokasinya yang dulu dianggap kurang lazim atau tanah rawa di bawahnya. Tapi percayalah Sobat JEI, saat saya duduk di dalam kafe ini, semuanya terasa sangat, sangat “benar”.
Saya memesan kopi hitam yang strong dan sepotong roti renyah yang baru keluar dari pemanggang. Posisi duduk saya sungguh strategis. Di samping kafe, kanal kecil mengalirkan suara gemericik yang syahdu. Pemandangan utamanya ada tepat di depan jendela besar kafe ini.
Terhampar padang rumput hijau yang luas tanpa sekat pagar yang kaku. Kawanan domba berbulu tebal asyik mengunyah rumput basah. Mereka bebas berkeliaran, dan sesekali menatap tajam ke arah kafe, seolah penasaran melihat orang asing yang sedang minum kopi. Memadukan kopi panas, bayangan gereja tua di kejauhan, dan domba-domba yang damai—ini adalah momen magis.
Di De Verkeerde Wereld, saya menemukan sisi Eropa yang berbeda. Sisi yang tidak menuntut kita berlari cepat. Sebuah pulau ketenangan di tengah dunia modern yang semakin bising.

Panduan Biaya dan Cara Menuju Semenanjung Marken
Tertarik melarikan diri ke sini, Sobat JEI? Berikut panduan ringkasnya:
- Transportasi Darat (Mobil/Sewa): Dari Amsterdam memakan waktu sekitar 30 menit. Mobil pengunjung dilarang masuk ke desa. Sobat harus parkir di area parkir utama dekat pintu masuk desa. Biaya parkir sekitar €5 (tarif dasar) ditambah €3,30 per jam.
- Transportasi Umum (Bus): Ambil Bus EBS 315 dari stasiun Amsterdam Noord langsung menuju Marken. Tiket sekali jalan sekitar €6 – €8.
- Kapal Feri (Marken Express): Berangkat dari pelabuhan Volendam. Harga tiket pulang-pergi sekitar €16. Pilihan paling romantis saat musim panas!
- Biaya Menginap di De Pepersteeg: Berkisar antara €100 – €150 per malam (tergantung musim), sudah termasuk nuansa sejarah gratis.
- Sarapan di De Verkeerde Wereld: Siapkan bujet santai sekitar €15 – €25 untuk kopi hangat, roti lapis tebal, dan pemandangan domba yang tak ternilai.
eviindrawanto.com
Baca juga:
