
Apakah Sahabat pernah merasa seperti saya? Duduk menatap layar laptop, tahu persis ada tenggat waktu yang mengaum seperti singa lapar, tapi jemari ini malah sibuk menari di atas keyboard untuk… scrolling media sosial?
“Ah, masih ada waktu. Nanti saja,” bisik sebuah suara kecil yang manis namun mematikan di kepala.
Dulu, saya pikir saya hanya pemalas. Saya mengutuk diri sendiri karena tidak punya disiplin. Tapi, setelah menyelami deep research dan membaca berbagai literatur psikologi, saya tertegun. Ternyata, menunda pekerjaan atau procrastination bukan sekadar soal manajemen waktu yang buruk. Ini adalah perang batin yang jauh lebih rumit, melibatkan emosi, ketakutan, dan cara kerja otak kita yang kadang sabotase tuannya sendiri.
Pikiran Bak Sampah dan Lukisan di Langit
Dalam jurnal lama saya, saya pernah menulis bahwa pikiran saya seringkali terasa seperti bak sampah. Informasi yang tidak diminta masuk tanpa permisi, menumpuk menjadi gunungan asumsi yang melelahkan. Akibatnya? Saya kehilangan orientasi. Tugas penting yang seharusnya menjadi prioritas malah tertimbun oleh hal-hal remeh temeh.
Para procrastinator seringkali seperti pelukis yang mencoba melukis di langit. Kita punya visi indah tentang pekerjaan yang selesaiโsebuah mahakaryaโtapi kita kehilangan kontak dengan kanvas nyatanya. Kita tahu apa yang harus dilakukan, tapi jembatan untuk menuju ke sana terasa putus. Mengapa? Karena kita tidak melihat dampak langsung atau reward instan dari pekerjaan itu.
Baca juga:
Bukan Malas, Tapi Masalah Emosi
Di sinilah letak kejutan besarnya. Menurut Dr. Timothy Pychyl, seorang profesor psikologi dari Carleton University yang telah meneliti prokrastinasi selama lebih dari 20 tahun, menunda pekerjaan adalah masalah manajemen emosi, bukan manajemen waktu.
Kita menunda bukan karena kita tidak tahu cara mengecek jam, tapi karena tugas tersebut memicu perasaan negatifโbisa berupa rasa takut gagal, cemas tidak sempurna, atau sekadar bosan. Otak kita, yang dirancang untuk mencari kenyamanan, memilih untuk “memperbaiki suasana hati” (mood repair) dengan melakukan hal yang lebih menyenangkan sekarang, dan mengorbankan masa depan.
“Procrastination is failing to get on with life itself.” โ Timothy Pychyl.
Sahabat bisa membaca lebih dalam tentang pandangan Dr. Pychyl mengenai solusi teka-teki prokrastinasi di sini.
Persamaan Matematika Penundaan
Lebih jauh lagi, Piers Steel, peneliti terkemuka lainnya, merumuskan apa yang disebut “The Procrastination Equation”. Ia menemukan bahwa kita cenderung menunda jika kita impulsif dan jika reward dari tugas tersebut terasa jauh di masa depan. Kita adalah makhluk yang bias terhadap masa kini (present bias); satu potong kue hari ini lebih menggoda daripada tubuh sehat setahun lagi.
Bagaimana Cara Kita Melawan?
Jadi, jika musuhnya adalah emosi kita sendiri, bagaimana kita menang?
- Maafkan Diri Sendiri: Studi menunjukkan bahwa memaafkan diri sendiri karena menunda pekerjaan di masa lalu justru mengurangi penundaan di tugas berikutnya. Rasa bersalah hanya akan menguras energi yang kita butuhkan untuk bekerja.
- Cari “Why” yang Kuat: Jangan hanya fokus pada “apa” yang harus dikerjakan, tapi temukan “mengapa” itu penting bagi Sahabat.
- Potong Kecil-Kecil: Otak kita takut pada tugas raksasa. Pecahlah menjadi potongan-potongan kecil yang tidak mengintimidasi. Seperti kata pepatah, cara memakan gajah adalah dengan satu gigitan setiap kalinya.
Sahabat, menunda pekerjaan itu manusiawi. Tapi jangan biarkan ia mencuri hidup kita. Mari kita ambil kuas, berhenti melukis di langit, dan mulai menggoreskan warna di kanvas nyata hari ini.
Video ini sangat relevan karena Tim Urban menjelaskan mekanisme otak seorang penunda (procrastinator) dengan cara yang lucu namun akurat secara psikologis, melengkapi penjelasan tentang “gratifikasi instan” yang dibahas dalam artikel.
Salam, Evi
