
Hidup di kota satelit seperti Tangerang memang penuh dinamika. Rasanya tak ubahnya seperti tinggal di Jakarta. Terutama soal drama lalu lintasnya. Kalau tidak macet total, ya jalanan berubah jadi sirkuit balap dadakan saat kosong.
Tadi pagi saya mengalami kejadian yang bikin jantung mau copot. Saya keluar rumah lebih awal untuk satu urusan. Kebetulan jalanan sedang sepi. Sebagai pengemudi yang taat aturan, saya mengambil jalur kiri. Saya lebih nyaman berkendara dalam kecepatan normal dan aman.
Namun, ketenangan itu terusik. Tiba-tiba dari sisi kiri, sebuah motor menyalip mobil saya dengan kecepatan “super”. Refleks, kaki saya menginjak rem dalam-dalam. Ternyata pelakunya seorang remaja putra berseragam putih-abu. Dia tampak terburu-buru. Karena ada kendaraan dari arah lawan di sisi kanan, dia nekat mengambil celah sempit di kiri saya.
Peristiwa ini membuat saya berpikir, mengapa orang ngebut di jalan raya padahal risikonya nyawa?
Mengapa Orang Ngebut di Jalan Raya – Sebuah Tinjauan
Pertanyaan ini sering muncul di benak kita saat melihat aksi ugal-ugalan. Kita tentu tak serta merta memacu kendaraan tanpa alasan. Biasanya ada dorongan kuat yang memaksa kaki menekan gas lebih dalam.
Secara umum, alasan utamanya adalah manajemen waktu yang buruk. Seperti remaja tadi, mungkin dia telat berangkat sekolah. Rasa panik karena takut terlambat memicu produksi adrenalin. Akibatnya, kewaspadaan menurun dan keberanian mengambil risiko meningkat drastis.
Riset Ahli Tentang Perilaku Ngebut
Namun, alasan “telat” hanya permukaan saja. Menurut penelitian dari Transportation Research Part F: Traffic Psychology and Behaviour, faktor kepribadian memegang peran besar.
Para ahli menemukan korelasi antara perilaku “sensation seeking” (pencari sensasi) dengan kebiasaan mengebut. Pengemudi tipe ini merasa bosan dengan kecepatan normal. Mereka butuh stimulasi adrenalin untuk merasa “hidup”. Jadi, mengapa orang ngebut di jalan raya? Bagi sebagian orang, itu adalah candu.
- Baca di sini tentang : Tak Ada Kecap No.2 Tapi….
Faktor Usia dan Kematangan Otak
Mari kita bahas remaja berseragam tadi. Data statistik kecelakaan lalu lintas global konsisten menunjukkan bahwa pengemudi muda (usia 16-24 tahun) memiliki risiko kecelakaan tertinggi.
Riset neurosains menjelaskan hal ini dengan gamblang. Bagian otak bernama Prefrontal Cortex—yang bertugas mengontrol impuls dan pertimbangan risiko—belum berkembang sempurna pada remaja. Itulah sebabnya mereka sering bertindak impulsif di jalan raya tanpa memikirkan konsekuensi fatalnya.
Ilusi Kontrol Saat Berkendara
Selain faktor usia, ada fenomena psikologis bernama Illusion of Control. Banyak pengendara merasa mereka bisa mengendalikan kendaraan sepenuhnya dalam kecepatan tinggi. Padahal, ini adalah bias kognitif.
Saat kecepatan bertambah, pandangan visual menyempit (tunnel vision). Waktu reaksi otak untuk mengerem juga berkurang drastis. Inilah jawaban ilmiah mengapa orang ngebut di jalan raya sering berakhir dengan tragedi. Mereka merasa jago, padahal mereka hanya sedang beruntung.
Pesan akhir untuk Sobat JEI
Melihat foto di atas, mungkin ada yang bertanya-tanya soal kecepatan saya. Tenang saja, maaf ya kalau terlihat ngebut. Itu efek visual saja karena takut telat habis bangun kesiangan.
Tapi poin utamanya bukan di situ. Mengapa orang ngebut di jalan raya perlu kita pahami agar kita tidak ikut terpancing emosi. Jalan raya adalah ruang publik. Mari kita lebih bijak mengatur waktu berangkat agar tidak perlu memacu adrenalin di aspal.
Ingat, keluarga menunggu di rumah. Stay safe, Sobat JEI!
— Evi
Baca juga:
